HETANEWS.COM
CITIZEN JOURNALISM

Rumah Sekolah Pertama, Orang Tua Guru Utama Dalam Pendidikan Anak

Ilustrasi.

Oleh: David Simamora

Rumah yang ramah adalah “sekolah bagi anak”. Orang tua dalam keluarga berfungsi membentuk individu yang memiliki karakter dan sifat ideal dan menyiapkan mereka agar dapat hidup di masyarakat.

Karena berbicara pendidikan bukan hanya menyangkut penyaluran pengetahuan tetapi juga pembentukan kepribadian, pembentukan karakter.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Namun, peran yang dimainkan oleh ketiga stakeholder pendidikan ini, terlihat tidak sinergis. Banyak ketimpangan yang terjadi dalam realitas pendidikan kita hari ini. Akibatnya pendidikan anak-anak menjadi tidak maksimal.

Banyak sekali realitas dalam kehidupan menunjukkan bahwa  pendidikan utama itu seakan-akan bukan lagi dimulai dari rumah.

Tetapi dari sekolah, Sayangnya, selama ini pendidikan dianggap merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah dan para guru di sekolah dan seolah-olah hanya di pundak merekalah beban mewujudkan pendidikan yang maju dan berkualitas kita sandarkan.

Sementara pembentukan dasar-dasar pendidikan dalam keluarga sebelumnya tidak diperhatikan. Banyak orang tua hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak mereka.

Dengan mencari nafkah sekuat tenaga untuk membiayai pendidikan anak-anak, mereka berpikir tugas sebagai orang tua selesai. Mereka lupa bahwa pendidikan yang paling pertama dan utama adalah dalam keluarga. Peran mereka adalah sebagai penjaga moral, menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik sesuai norma yang berlaku di masyarakat kepada anak.

Pendidikan dapat diperoleh dari lembaga pendidikan, masyarakat dan keluarga. Namun diantara ketiganya pendidikan keluarga adalah ‘sekolah' pertama dan utama untuk belajar.

Dalam keluarga orang tualah yang bertanggungjawab di dalamnya. Pada masa inilah peletakan pondasi belajar harus tepat dan benar. Sekolah adalah fase kedua dari pendidikan pertama dalam keluarga, karena pendidikan pertama dan utama diperoleh anak dari keluarganya.

Peralihan dari pendidikan keluarga ke pendidikan formal (Sekolah)  juga memerlukan kerjasama antara orangtua dan sekolah atau pendidik. Kesalahan orangtua yang fatal adalah menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya kepada sekolah atau pendidik.

Selain itu, orangtua beranggapan bahwa sekolahlah yang bertanggung jawab terhadap perkembangan kecerdasan intelektual dan emosional anaknya. Anggapan tersebut sangat keliru, karena diperlukan yang sinergis dan kongruen antara sekolah dan orangtua juga masyarakat.

Fenomena yang terjadi di Indonesia adalah banyak pihak yang menyangka bahwa pendidikan itu hanya terjadi di sekolah formal saja. 

Padahal pendidikan yang paling pertama dan utama itu terjadi di rumah dan lingkungan tempat tinggal kita. 

Permasalahannya adalah  apakah  rumah dan lingkungan tempat tinggal itu sudah layak menjadi “sekolah” pertama dan utama yang baik bagi anak-anak.

Keluarga diharapkan untuk mengkondisikan kehidupan rumah sebagai “instusi” pendidikan, sehingga terdapat proses saling berinteraksi antara anggota keluarga. Keluarga melakukan kegiatan melalui asuhan, bimbingan dan pendampingan, seta teladan nyata untuk mengontrol pola pergaulan anak.

Rumah merupakan tempat keluarga yang menjadi benih penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak mengikuti orang tua dan berbagai kebiasaan dan perilaku dengan demikian keluarga adalah elemen pendidikan lain yang paling nyata, tepat dan amat besar.

Keluarga menjadi salah satu elemen pokok pembangunan entitas-entitas pendidikan, menciptakan proses naturalisasi sosial, membentuk kepribadian-kepribadian serta memberi berbagai kebiasaan baik pada anak.

Keluarga adalah agen yang paling penting dalam menentukan pendidikan anak. Disadari maupun tidak disadari, anak akan mencontoh orang tua dengan menirukan perilaku, tata cara pergaulan, dan aktivitas sehari-harinya.

Jika orang tua dapat memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak -anaknya, maka sikap anak tidak jauh beda dari orang tuanya. Demikian sebaliknya, apabila orang tua tidak dapat memberikan contoh dan teladan yang baik, maka orang tua tidak bisa berharap banyak anak- anaknya akan menjadi lebih baik dan sesuai dengan keinginan orang tua. Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonya?

Dari keluarga inilah segala sesuatu tentang pendidikan bermula. Apabila salah dalam pendidikan awalnya, peluang untuk terjadi berbagai distorsi pada diri anak lebih tinggi.

Dalam konteks keindonesiaan, pendidikan dalam keluarga menjadi semakin terasakan urgensinya, ketika kita mendapatkan kenyataan buruknya kondisi kehidupan saat ini. Masih tingginya tingkat korupsi, banyaknya penyalahgunaan wewenang dan jabatan, banyaknya penyimpangan moral, menandakan belum bagusnya kualitas pendidikan, termasuk di dalam keluarga.

Lalu, pola pendidikan yang bagaimanakah yang diperlakukan? Tentu saja tidak sekedar mengejar target merawat, membimbing atau untuk mengejar keinginan orang tua, seperti kemampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung secara maksimal; tetapi pendidikan yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Setiap pola pengasuhan harus memberikan rasa nyaman tetapi juga diperkuat dengan batasan norma-norma yang menghindarkan anak pada perilaku menyimpang. Batasan tersebut sejatinya bukan bermaksud membuat anak terkekang namun justru membuat anak merasa terlindungi. Misalnya dengan selalu mendampingi anak ketika menonton acara televisi dan mengarahkanya agar tidak kecanduan game online, serta mengarahkan anak agar lebih mengutamakan belajar.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan pendidikan anak dalam keluarga.

Pertama dengan memberikan keteladanan. Anak sangat sensitif terhadap rangsangan dari luar, maka perilaku dan sepak terjang orang tua sangat berpengaruh terhadap anak. Cara orang tua dalam berbicara, keimanan, ketakwaan, berperilaku, dan bergaul dengan orang lain menjadi cermin bagi anak.

Kedua menjadikan rumah sebagai taman ilmu. Rumah adalah tempat lahir, tumbuh dan berkembangnya seorang anak. Melalui rumahlah pendidikan dimulai. Menjadikan rumah sebagai taman ilmu berarti merancang dan melaksanakan kegiatan yang serat ilmu di rumah, misalnya menyediakan ruang perpustakaan keluarga di rumah agar anak-anak rajin membaca dengan sendirinya karena buku adalah sumber ilmu.

Oleh karena itu, pengadaan bacaan yang berkualiatas adalah kebutuhan utama. Apa yang dibaca anak akan berpengaruh terhadap cara pandang dan cita-cita di kemudian hari.

Penggunaan teknologi seperti menyediakan komputer untuk menulis dan berkarya juga menjadi salah satu strategi jitu melatih anak melek teknologi.

Dengan pengawasan yang baik dari orang tua penggunaan tekonologi dapat meningkatkan prestasi dan potensi anak, sehingga teknologi tidak disalahgunakan seperti main game online, video porno, pergaulan yang destruktif/merusak dan dampak buruk lainnya.

Ketiga menyediakan wahana kreativitas. Anak membawa ciri khasnya sendiri-sendiri. Ia memiliki kelebihan dan keunggulan yang khas yang tidak ada pada orang lain.

Namun, banyak anak tidak menyadarinya, begitu juga orang tua. Mereka tidak menyadari bakat hebat yang ada pada anak. Padahal, jika terasah dengan baik akan menjadi faktor kesuksesan dan kegemilanganya di masa depan.

Di sinilah pentingnya menyediakan wahana kreativitas anak. Anak diberi ruang penuh untuk menampakkan jati diri dan identitasnya. Anak dibiarkan bermain komputer, membaca buku, menulis, main catur, bermain piano, dan apapun. Anak harus dibimbing untuk menemukan bakat terbesar yang ada pada dirinya.

Keterlibatan orangtua berkorelasi erat dengan keberhasilan pendidikan anak. Keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah.

Keterlibatan orangtua juga mendukung prestasi akademik anak pada pendidikan yang lebih tinggi serta berpengaruh juga pada perkembangan emosi dan sosial anak.

Lembaga pendidikan merupakan media transfer of knowledge, science,value, and skills. Sementara, lingkungan sosial menjadi media aktualisasi potensi dalam menorehkan prestasi. Kerjasama lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat akan menghasilkan potensi yang hebat kepada anak, baik secara moral, intelektual, sosial, spiritual, dan profesional. Kerja sama sekolah, keluarga, dan masyarakat juga akan membentuk pendidikan terpadu yang berkualitas tinggi. Semua memegang peranan penting dalam proses pendidikan anak.

Anak perlu didukung orang-orang dewasa di sekitarnya, sebab anak adalah aset utama penerus pembangunan nasional, oleh karenanya harus dicetak untuk memiliki karakter yang kokoh dan memiliki jati diri bangsanya.

Perwarisan nilai-nilai budaya sangat tepat dilakukan di lembaga keluarga, karena pendidikan dalam keluarga merupakan modal dasar bagi perkembangan kepribadian anak pada masa dewasanya sesuai dengan fungsi lembaga pendidikan keluarga yang menjadi pengalaman pertama bagi anak-anak, pendidikan di lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak untuk tumbuh dan berkembang.

Pendidikan memegang peranan yang sangat krusial dalam upaya membangun sumber daya manusia yang handal dan profesional sebagai modal dasar pembangunan nasional.

Rumah perlu menjadi tempat menjalankan pendidikan yang ramah bagi anak dan orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak-anak, generasi penerus cita-cita bangsa sehingga akan memunculkan generasi muda yang mampu bersikap optimis dalam menghadapi setiap tantangan kedepan.(***)

Penulis: David Taraja. Editor: aan.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan