HETANEWS

Mengenal Bu Jeger, 'preman' Lapas Anak Wanita Tangerang

Bu Jeger. ©2017 Merdeka.com

hetanews.com - Lembaga Pemasyarakatan selalu identik menganut hukum rimba. Yang kuat menindas yang lemah, yang lemah diperas layaknya sapi perah. Kekerasan dan premanisme di dalam lapas pun seperti tak pernah sirna dari realitas kehidupan para warga binaan. Namun kini, hal itu tak lagi terjadi di Lapas Anak Wanita Klas II B, Kota Tangerang, karena sang penguasa Lapas adalah seorang Jeger.

Meski konotasi Jeger masih sumir, karena ada yang beranggapan sebutan Jeger diperuntukkan bagi seorang preman. Namun arti lain menyebutkan Jeger adalah kiasan bagi orang yang berpenampilan necis seperti Mick Jagger, vokalis grup musik asal Inggris The Rolling Stones.

Dialah, Prihartati, Kepala Lapas Anak Wanita Klas II B Kota Tangerang, yang akrab disapa semua warga binaan dengan sebutan Bu Jeger. Bukan tanpa sebab, mantan Kepala Rutan Klas IIA Serang, Banten, ini mendapat julukan sebagai Jegernya Lapas Anak Wanita di Tangerang.

"Beliau tegas, membaur, karena mau turun lihat langsung ke kamar-kamar atau tempat kami berada," ucap Lili, narapidana kasus narkotika yang diganjar sanksi penjara selama 20 tahun itu.

Sebutan Jeger disematkan padanya lantaran kemampuan Prihartati menumpas adanya premanisme di dalam lapas. Selain memang Prihartati juga dikenal luwes kepada semua warga binaan. Serta tegas dengan petugas atau sipir yang mbalelo.

"Kami nyaman semenjak Kalapasnya beliau, kenapa Jeger, karena cuma beliau penguasa lapas di sini. Tidak ada lagi preman-preman, cuma beliau yang disegani," ucapnya.

Rima, warga binaan lainnya terkagum dengan sosok Jeger yang dikenalnya sangat perhatian dan sayang dengan kepada semua warga binaan.

"Dia menggantikan sosok Ibu di rumah. Kalau anaknya nakal dia sangat galak, marah banget kalau kita salah, tapi sisi lainnya sangat perhatian, suka berbagai dan penyemangat untuk selalu berbuat baik," katanya.

Damayanti Wisnu Putranti, terpidana kasus korupsi yang juga mendekam di Lapas Anak wanita Klas IIB pun merasakan hal serupa. Dari pengalamannya mendekam di beberapa Lapas Suka miskin, Pondok Bambu dan Lapas Paledang, hanya di Lapas anak wanita Klas II B Tangerang, ini yang menurutnya paling humanis.

"Sukamiskin cukup humanis, tapi di sana sangat kumuh, kalau Pondok Bambu apalagi Paledang itu sangat tidak manusiawi. Dan di Tangerang ini saya rasa paling baik," ucap politisi PDIP itu.

Pernah suatu malam, lanjut Damayanti, seluruh narapidana dan tahanan disuruh keluar kamar. Seluruh warga binaan saat itu pun terkaget, karena biasanya kalau seperti itu ada kasus atau persoalan besar yang harus selesai malam itu juga.

"Ternyata kami disuguhkan teh panas dan mi rebus, kami semua pun menangis. Katanya Bu Jeger, kami diberikan kebebasan untuk menghirup udara malam dan menatap indahnya bintang malam itu di halaman dalam lapas," cetus Damayanti mengenang.

Damayanti, yang juga mantan penggede pun merasa tak pernah diistimewakan oleh Jeger dan petugas lapas lainnya.

"Saya merasa tak pernah dibeda-bedakan, semua warga binaan dengan kasus berbeda-beda tetap diperlakukan sama," katanya.

Prihartati, mengaku berkeinginan menciptakan di Lapas Anak wanita Klas II B Tangerang, sebagai tempat yang layak bagi seluruh penghuninya.

"Kami ingin lapas yang lebih manusiawi, karena warga binaan juga punya hak sama sebagai warga negara. Dia berhak makan layak, tidurnya tenang, aktivitas kesehariannya positif, sehingga bisa dijadikan bekal saat keluar Lapas nantinya," kata Prihartati.

sumber: merdeka.com

Editor: edo.