Oleh : Ikhwal Ramadhan

Orang hutan berjenis albino yang langka ditemukan oleh pemerintah dan komunitas pecinta hewan di rumah salah satu warga desa di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Orang hutan berbulu putih dan bermata biru tersebut berjenis kelamin betina, dan usianya diperkirakan sekitar 5 tahun. Orang hutan albino dianggap sangat langka, dan individu yang berhasil diselamatkan ini merupakan yang pertama kali dilihat oleh tim Borneo Orang hutan Survival Foundation (BOSF).

Pemeriksaan fisik awal oleh tim medis menyatakan bahwa oranghutan ini dalam kondisi yang tidak baik dikarenakan warna bulu, mata, dan kulitnya sangat pucat. Orang hutan ini di kurung oleh warga lokal selama dua hari dan masih menunjukkan perilaku liar.

Saat ditemukan oleh pemerintah dan BOSF, ada noda darah disekitar hidung orang hutan albino itu. Petugas menduga bahwa darah dari orang hutan tersebut dikarenakan orang hutan melawan saat mau ditangkap oleh warga.

Saat itu dalam kondisi menyedihkan dikarenakan mengalami stres, dehidrasi, lemah, menderita infeksi parasit, tidak menunjukkan nafsu makan dan hanya makan tebu.

Setelah selama dua pekan menjalani perawatan, orang hutan albino yang diselamatkan di Kalimantan Tengah kondisinya berangsur membaik.

Menurut Fransiska Sulistyo selaku kepala dokter hewan Yayasan BOSF, orang hutan betina itu ditempatkan di bawah pengawasan penuh dan diberikan perawatan intensif. Selama 24 jam sehari orang hutan itu di letakan di ruangan yang remang-remang, karena dia sangat sensitif terhadap cahaya matahari.

Setelah beberapa hari perawatan khusus dari tim medis, orang hutan itu mulai menerima lebih banyak variasi makanan, seperti buah-buahan dan susu. Kondisinya berangsur membaik dan setelah sepuluh hari dirawat, berat badannya telah bertambah 4,5 kilogram.

Orang hutan ini memiliki ciri-ciri mata yang berwarna biru. Dia memiliki kulit yang sensitif terhadap cahaya matahari dan dia merasa sangat tidak nyaman terhadap sinar matahari langsung, bahkan cenderung takut pada sinar matahari (foto fobia). Kulitnya lebih rentan terbakar oleh cahaya matahari.

Lantaran kondisi langka dan unik, Yayasan BOSF belum bisa memastikan apakah hendak terus merawatnya atau melepaskan ke hutan sebagaimana dilakukan terhadap orang hutan normal lainnya.

Sejauh ini belum ditemukan orang hutan albino lainnya dan perlu diketahui lebih banyak mengenai kondisi uniknya. Kesejahteraan dan keamanan merupakan prioritas utama dalam pengambilan keputusan mengenai masa depan orang hutan ini.BOSF menyatakan bahwa pihaknya akan terus melanjutkan observasi dan tes kesehatan terhadap primata tersebut. Begitu selesai memastikan kondisi kesehatan dan fisiknya, akan dilakukan pelestarian untuk jangka panjang.

Kelestarian primata ini terancam punah dikarenakan hutan tempat mereka tinggal digusur menjadi ladang industri untuk minyak sawit, karet dan kertas. Tidak hanya itu banyak warga desa yang membunuhnya karena dianggap sebagai hama. Orang hutan Kalimantan dan Sumatra adalah spesies asli dari Asia. Orang hutan dikatagorikan sebagai hewan terancam punah oleh International Union for Conservation Nature (IUCN), jika pelestarian tidak dilakukan keberadaan orang hutan semakin langka.

Saat ini ada sekitar 100 ribu orang utan yang hidup di Kalimantan, serta di hutan sekitar perbatasan dengan Malaysia Brunei Darussalam. Pada 1973 jumlah mereka masih sekitar 288 ribu. IUCN memperkirakan kalau mereka hanya tersisa sekitar 47 ribu pada 2025. Di BOSF, ada sekitar 500 orang hutan yang sedang direhabilitasi.

BOSF dengan bahagia mengumumkan bahwa orang hutan cantik ini sudah memiliki nama Alba. BOSF mengkonfirmasi hal tersebut melalui website resminya. BOSF menyampaikan terima kasih atas partisipasi masyarakat yang sudah memberikan usulan nama untuk orang hutan albino itu.

(penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang)