HETANEWS

Kolam Renang Bukit Gibeon Tak Berkontribusi Bagi Warga Sekitar dan Sampah Menumpuk

Tumpukan sampah di sekitar lokasi Bukit Gibeon. (foto : Sitorus Mel)

Tobasa, hetanews.com - Penanganan sampah di objek wisata Bukit Gibeon tidak maksimal, meski ada lonjakan kenaikan harga retribusi  sekitar 200 persen bagi pengunjung yang masuk.

Penanganan sampah di lokasi objek wisata kolam renang Bukit Gibeon Desa Parsaoran Sibisa, Kecamatan Sibisa, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) itu justru terbengkalai. Padahal diobjek wisata tersebut ada penarikan retribusi sampah yang dipungut dari pengunjung sebagai tiket masuk ke area wisata.

Ketua LSM  Kelompok Pengamat Lingkungan Hidup Kabupaten Tobasa, Aristo Panjaitan melalui Bendahara M Maria Sitorus mengatakan, penanganan sampah di Kolam Renang Bukit Gibeon terkesan belum maksimal.

Sedangkan retribusi masuk ke area lokasi dianggap melonjak sekitar 200 persen dari bulan sebelumnya. Namun kebersihan objek wisata  tidak terpantau dengan baik.

Bahkan sepanjang jalan menuju area kolam renang tampak dipenuhi sampah yang berserakan di sepanjang jalan. Ini berbeda dengan penataan kebersihan lokasi wisata seperti di Taman Eden .

"Pihak pengusaha tidak mampu menciptakan suasana yang hijau dan bersih seperti komitmen sebelumnya menjadikan Bukit Gibeon menjadi ikon pariwisata yang steril,hijau ,asri dan sejuk serta bebas sampah," kata Maria, kemarin.

Selain itu, masyarakat disekitar gerbang gapura dan lintasan mobil pengunjung Bukit Gibeon juga mengeluhkan sikap pengusaha Bukit Gibeon yang dikenal arogan dan kurang bersahabat.

Masyarakat sekitar tidak diijinkan masuk ke area Bukit Gibeon jika tak bisa membeli karcis atau retribusi secara penuh tanpa diberi dispensasi atau potongan harga.

Sementara untuk kalangan masyarakat pedesaan, retribusi yang melonjak naik 200 persen dari tarif sebelumnya cukup mahal. Belum lagi kuliner yang dijual di dalamnya didominasi oleh orang dalam tanpa memberi kontribusi bagi masyarakat sekitar, dengan harga yang cukup tinggi untuk kalangan menengah ke bawah.

"Kehadiran Kolam Renang Bukit Gibeon sama sekali tidak memberi kontribusi bagi masyarakat disekitarnya. Kemarin sewaktu berdagang buah jualan di luar area wisata saja diusir oleh pihak Bukit Gibeon. Intinya Kolam Renang Bukit Gibeon tidak bersahabat dan berkontribusi bagi masyarakat sekitar khususnya dan Tobasa umumnya,” ujar salah seorang warga bermarga Sirait yang tidak bersedia disebut namanya.

Sirait menuturkan, kehadiran Lokasi Bukit Gibeon juga hanya menyisakan sampah dan debu tebal di sepanjang jalan lintasan menuju  lokasi wisata Bukit Gibeon, sehingga rumah penduduk penuh debu .

"Tahun 2016 pengunjung mencapai ribuan orang tiap harinya apalagi saat libur tetapi penanganan sampah belum maksimal," tambahnya.

Sirait berharap pihak pemerintah dalam hal ini Badan Lingkungan Hidup (BLH) Tobasa segera melakukan  teguran agar penataan dan pengelolaan sampah di Bukit Gibeon tidak terbengkalai dan menjadikan daerah itu bersih, asri ,sejuk dan indah serta mampu berkontribusi bagi masyarakat.

Senada halnya penuturan dari warga Lumban Julu yang mencoba meminta dispensasi pengurangan harga disaat kelompoknya akan mengadakan acara di Bukit Gibeon.

Kelompok ini mencoba mengajukan dispensasi untuk harga tiket berhubung mereka adalah masyarakat sekitar yang bertetangga dengan lokasi Bukit Gibeon. Namun pihak pengusaha dengan tegas menolak usulan tersebut dan tidak merespon dengan baik.

"Kita mengira sebagai masyarakat sekitar bisa koordinasi yang baik dengan pihak Bukit Gibeon,ternyata mereka dengan tegas menolak,"ujar panitia tanpa bersedia diekspos namanya.

Penulis: sitorus mel. Editor: aan.