Humbahas, hetanews.com - Warga Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) resah dengan adanya aksi pencurian kerbau, sehingga mengundang emosi.

Akibatnya, 3 orang terduga pelaku pencurian kerbau babak belur dihajar warga di Desa Marade, Kecamatan Pollung.

Sesuai keterangan Kapolsek Pollung Iptu Nover P Gultom, Selasa (25/7/2017) di kantornya menerangkan bahwa ketiga terduga pelaku ditemukan di lapangan sudah babak belur dihajar warga Desa Marade.

“Kita menemukan ketiganya di lapangan dan melihat kondisinya sudah babak belur dihajar warga. Kita mencoba mengamankan ketiga terduga dari amukan warga,” terang Nover.

Ketika diinterogasi di lapangan, karena dinilai belum aman dari amukan warga, ketiganya dibawa ke Polsek Pollung untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Namun saat petugas membuat beberapa pertanyaan, jawaban dari ketiganya tidak tepat dan berbelit belit seperti ada gangguan jiwa.

“Kita mencoba untuk mengecek domisilinya dan ternyata dari mereka bertiga (terduga) hanya 1 orang yang memiliki identitas yaitu F Siahaan ( 26 berdomisili di Desa Aek Nauli IV, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Kita telah memanggil Kepala Desa (Kades) nya manatau mengenal terduga,” tukas Nover.

Sementara untuk kedua terduga belum bisa menemukan keluarganya dan asalnya. Pihak Polsek Pollung hingga saat ini sedang mengupayakan mencari asal usul keduanya.

Sayangnya, ketika ditanya barang bukti yang didapat dari ketiga terduga, Nover mengatakan, tidak ada menemukan barang bukti. Namun karena amukan warga, sehingga mengamankan ketiga terduga.

“Kita tidak ada menemukan barang bukti, namun karena warga sudah memukuli ketiganya sehingga diamankan sementara ke Polsek Pollung. Ini akan kita selidiki lebih mendalam lagi,” tandas Nover.

Sementara itu Kades Aek Nauli 4, Ducewarnek Silitonga membenarkan F Siahaan merupakan warganya yang hilang sudah hampir 3,5 tahun karena mengalami gangguan jiwa .

“Kalau kesehariannya dia (F Siahaan) hanya jalan-jalan di pinggir jalan. Dia itu sudah terkena gangguan jiwa selama 4 tahun lamanya. Namun dia itu tamat sekolah. Kalau kedua temannya itu saya tidak mengenal dan bukan warga saya,” tandas Ducewarnek.

Saat ditanya dari mana mengetahi jika F Siahaan mengalami gangguan jiwa, Ducewarnek mengatakan karena bersangkutan sering tidak memakai celana. “Saya katakan dia itu mengalami gangguan jiwa karena sering tidak memakai celana, namun tetap keluar rumah. Gak mungkin lah sudah berumur 26 tahun tidak memakai celana,” terangnya kembali.

Ironisnya, ketika disinggung tanggapan keluarga terduga, Ducewarnek mengaku kecewa. Pasalnya pihak keluarga F Siahaan tidak memberikan respon atas permasalahan ini.

“Sebelum kemari, saya ke rumah orang tua F Siahaan untuk mengajak agar bersama-sama. Namun tanggapan orang tuanya tidak ada seakan-akan membiarkan kejadian tersebut,” paparnya.

Sedangkan FS ketika ditanya marganya dan apakah masih sekolah, FS justru mengaku masih bersekolah. “Saya marga Silitonga dan masih sekolah kelas 1 Sekolah Dasar (SD),” tandasnya.

Ketika ditanya apakah mereka bertiga saling mengenal, justru menjawab tidak saling mengenal.