Simalungun, hetanews.com - Saat ini permasalahan etika berbudaya di masyarakat Sumatera Utara (Sumut) dinilai sudah mengkhawatirkan.

Ini membuat Bupati Simalungun JR Saragih meminta kepada gereja Hurian Kristen Batak Protestan (HKBP) di Sumut untuk menghidupkan etika berbudaya di masyarakat.

"Kembalikan budaya beretika, jadikan gereja HKBP di Indonesia bahkan di Sumatera Utara sebagai sinergitas di masyarakat. Saya mengajak agar gereja HKBP ikut andil di tengah suasana dan kondisi di negara ini. Dimana HKBP harus melestarikan budaya karena saya rindukan hal itu," sebut JR Saragih.

Ini disampaikan JR Saragih di Seminar Ekklesiologi HKBP Wilayah II (Distrik  V Sumatera Timur, Distrik VII  Samosir, Distrik XIII Asahan Labuan Batu, Distrik XIV Tebing Tinggi Deli, Distrik XXIV Tanah Jawa) di Hotel Sapadia, Jalan Diponegoro, Kota Siantar, Kamis (20/4/2017).

Diketahui Seminar Ekklesiologi HKBP wilayah II di Siantar ini menjadi kota kelima pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ekklesiologi merupakan terminologi teologi yang membahas bagaimana sifat dan hakekat gereja baik secara teologis maupun institusional, serta mempelajari, memahami dan menghayati gereja sebagai tubuh Kristus.

Pemahaman mengenai ekklesiologi tidak akan terhindari dari pemahaman dan penghayatan persekutuan gereja sebagai tubuh Kristus serta sebagai institusi yang memiliki hirarkis dan sistem pengambilan keputusan.

JR Saragih menyatakan, kehadirannya di seminar ini bukan berbicara sebagai Bupati, melainkan sebagai dirinya pribadi. Dimana, gereja HKBP harus menjadi terang dan garam untuk tangan-tangan yang penuh kasih.

Bupati JR Saragih menyampaikan sambutannya di hadapan para peserta seminar.  (foto: Istimewa).

Selain itu, JR Saragih meminta agar harus selalu membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan, sehingga gereja tak dianggap sebagai tempat angker. Apalagi, HKBP merupakan salah satu gereja suku yang bertanggung jawab soal budaya. 

"Kita melihat betapa luar biasa republik ini, dimana banyak prilaku aksi kekerasan di masyarakat. Artinya, saya mengharapkan agar gereja HKBP memiliki kontrol yang terarah bukan menjelekkan, tapi sifatnya memberikan masukan serta melayani masyarakat, sehingga memiliki etika budaya yang kuat," sebutnya.

Hal senada diutarakan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Reinward Simanjuntak mengatakan, gereja harus turut serta dan mengambil peran besar di pemerintahan agar lebih maksimal. 

Terlebih, seminar ini lebih diarahkan bagaimana peran gereja terhadap dinamika yang ada, agar seminar ini membangun linier dan sesuai dengan Undang-Undang Dasar (UUD). Dari situ gereja bisa menarik posisi ada dimana, ada tugas pemerintah punya gambaran di posisi untuk memenuhi membangun relasi yang baik.

"HKBP harus menjadi bagian dari masyarakat, sehingga gereja bisa menjadi kesatuan dengan pemerintahan untuk membangun negara lebih baik lagi," ujar Reinward.

Sementara Ephorus HKBP, Pdt Darwin Lumbantobing mengutarakan, diadakan seminar ekklesiologi HKBP wilayah II ini bertujuan bukan sebatas seminar biasa saja, tapi membicarakan soal gereja HKBP bukan gereja lain. Menurut Ompui ada aturan yang dimiliki. 

"Melalui ajang ini maka bisa melaksanakan soal mengenal HKBP, sehingga melalui 5 kota yang telah dilakukan bisa menjaring opini di setiap daerah. Sehingga seminar ini merupakan yang terakhir dilakukan dapat terlaksana dengan baik," sebut Ephorus.

"Lewat seminar ini maka diperlukan keterbukaan sehingga rasa saling menghargai bisa diperlihatkan melalui seminar ini," tukasnya.

Foto bersama Ephorus HKBP Pdt Darwin Lumbantobing, Bupati JR Saragih, Plt Sekda Reinward Simanjuntak dan para pendeta. (foto: Istimewa).