Simalungun, hetanews.com - Mayoritas warga yang bermukim di Dusun Manik Uluan, Nagori Sait Buttu, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai buruh tani.

Warga setempat mengeluhkan upah, yang diterima semakin sedikit dan lapangan pekerjaan yang tidak ada.

Dusun Manik Huluan, yang letaknya di balik lahan kebun teh PTPN IV dan lahan hutan kayu PT Toba Plup Lestari (TPL) dihuni kurang lebih 200 Kepala Keluarga (KL). Disana, hampir seluruhnya warga setempat bekerja sebagai buruh tani di dua perusahaan tersebut. Di lahan yang berbukit, rumah pemukiman warga kebanyakan sudah dibangun dengan bentuk permanenen.

Pendapatan warga yang bersumber sebagai buruh tani, dirasa terlalu sedikit untuk menghidupi satu keluarga. Sebab, upah yang mereka terima tergolong sedikit, bahkan masih kurang untuk biaya kebutuhan primer sehari-hari.

Di dusun yang mayoritas penduduknya Duku Jawa ini, tidak memiliki lahan pertanian untuk warga yang dapat diolah untuk sebagai tambahan kebutuhan ekonomi mereka.

Ditambah lagi, kurangnya pemberdayaan kepada masyarakat setempat, dalam hal membangun sektor ekonomi berbasis unit usaha, koperasi atau pengembangan sumber daya di bidang keahlihan yang dapat menghasil suatu produksi. 

Tuntutan kebutuhan ekonomi yang semakin bertambah dan hasil pendapatan yang semakin minim, akhirnya menimbulkan keresahan warga setempat.

Seperti yang dialami Darina (54), warga yang kelahiran Dusun Manik Uluan ini, terpaksa menjadi pembantu rumah tangga, lantaran tidak terima dengan kenyataan pemberian upah, yang diterimanya selama menjadi buruh tani di perusahaan PT TPL beberapa waktu yang lalu.

Walau pun dengan kondisi yang tidak lagi produktif, ia terpaksa melakukan melakukan profesi yang baru, tetap juga tidak menambah penghasilan keluarga mereka.

Istri dari Saleh (55) ini menerangkan, 2 tahun belakangan ini, dirinya menjerit atas upah yang diterimanya dari pihak perusahaan tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang ia keluarkan.

“Dua tahun belakangan ini mulai terasa. Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam enam sore, bersihkan hutan kayu, cuma dapat Rp 20 ribu kadang Rp 50 ribu per hari. Sistimnya borongan.

Kalau masih ada rumputnya, mau gak nerima gaji. Padahal jajan sama ongkos sekolah anak ku saja lima belas ribu tiap hari,” ungkap ibu 4 orang anak ini saat ditemui dirumahnya, di Dusun Manik Uluan, Selasa (18/4/2017).

Ibu kelahiran tahun 1963 ini menerangkan, kendati hasil pendapat keluarga mereka dibawa rata-rata, suaminya, Saleh tetap bekerja sebagai buruh tani di perusahaan tersebut. Sedangkan dirinya, yang kini mengalami kondisi kesehatan semakin menurun namun harus memaksakan diri untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Erni (32) juga merasakan keresahan yang sama. Sebagai seorang Ibu rumah tangga yang masih merawat anaknya, yang masih balita, merasakan tidak adanya kegiatan lain yang dapat menambah pendapatan masyarakat ditempat ia bermukim.

Erni meniliai, jika pendapatan penduduk hanya bersumber dari buruh tani tidak akan mensejahtrakan kehidupan dalam hal sandang pangan, pendidikan dan kesehatan.

“Di kampung ini gak ada lagi kerjaan lain selain kerja kebon. Pendapatan masayarakat sini pun sedikit. Maunya kan ada kerjaan lain yang bisa menghasilkan,” imbuh perempuan berhijab ungu ini.

Dusun Manik Uluan, akan terasa sepi pada siang hari. Sebab, jamaknya penduduk yang bermukim di balik kebun teh dan hutan kayu tersebut, bekerja seharian penuh dan kembali disaat petang. Warga berharap, Pemkab Simalungun memberikan perhatian kepada warga setempat.

Baru -baru ini, akses jalan utama menuju dusun itu tertutup lantaran longgsor akibat erosi. Namun, upaya untuk perbaikan jalan itu pun sudah dilakukan sejak, Minggu (16/7/2017), dan direncanakan akan selesai pada Kamis depan. Warga pun mengucapkan terima kasih Pemkab Simalungun. (bersambung).

Baca berita selanjutnya:

Derita Istri BHL Kebun, “Saya Pikir Tahi Lalat Biasa” (Darina 2)

Dibalik Bencana Longsor itu Ada Hikmahnya, Ketemu Langsung sama JR Saragih (Darina 3)

Darina: “Aku Tau Benjolan ini Tumor, setelah JR Saragih Menolong Saya” (Darina 4)

JR Saragih Jadi Orang Nomor Satu di Sumatera Utara, tegas Penderita Tumor ini (Darina 5)