Labuhanbatu, hetanews.com - Hasil otopsi almarhum Saparuddin Nasution alias Unyil (30), napi kasus narkoba yang tewas mendadak di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Rantauprapat, Labuhanbatu, Sumatera Utara (Sumut), hingga 38 hari lamanya belum juga diketahui hasilnya oleh pihak keluarga. Padahal, kuburan almarhum Unyil sudah dibongkar tim forensik Polda Sumut, Kamis (23/2/2017) lalu. 

Meski sudah dipertanyakan pihak keluarga berkali-kali kepada Kapolres Labuhanbatu AKBP Frido Situmorang melalui penyidiknya, namun belum ada kepastian kapan akan diketahui hasil otopsinya. 

"Belum ada kami terima hasil otopsi almarhum adik kami Unyil bang. Waktu pembongkaran kuburannya, pihak dokter forensik mengatakan kepada keluarga hasil otopsi akan diketahui setelah dua minggu kedepan paling lama, maksimal. Namun sampai saat ini kami belum mengetahui apa hasilnya. Ditanya penyidiknya jawabnya tidak pasti, nantilah kalau udah datang hasilnya dari Polda kita baca sama-sama, kata Penyidiknya. Yang pasti keluarga kecewa lah dengan lambannya kinerja kepolisian," kata Dogol (40) abang kandung almarhum Unyil saat dihubungi awak media ini, Minggu (2/4/2017).

Dogol menyebutkan, akan menunggu apapun hasil otopsi tersebut. Namun jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diprediksi, maka keluarga akan melakukan otopsi ulang ke Siantar. 

"Kita akan tunggu apapun hasil otopsinya, kalaupun mereka lama-lama memberikan hasil otopsinya kita terima, kalau kita tidak puas, kita otopsi aja lagi sendiri, kita bawa ke Siantar jadi bisa langsung kita komunikasi sama dokter otopsi nya," sebut Dogol.

Pihaknya, lanjut Dogol curiga atas lambannya kinerja kepolisian dalam mengetahui hasil otopsi adik kandungnya itu. 

"Kok gini lama ya kita curiga ada apa-apanya, jangan-jangan ada permainan orang itu ya kan, hasil gini kenapa bisa kek gini, mungkin orang itu ntah mengarang-ngarang lagi karna kami orang  kampung sehingga dispelekan,” sebut Dogol. 

Dogol dan keluarga berkeyakinan penuh bahwa hasil otopsi tersebut positif adanya penganiayaan hingga menewaskan almarhum adiknya. 

"Ya kami berkeyakinan penuh, bahwa hasil otopsi itu positif adanya penganiayaan, sebelum kabar meninggalnya adik kami itu saat hari raya haji, kami baru saja berkomunikasi sama almarhum. Setelah selesai komunikasi, tiba-tiba kami dapat kabar Unyil meninggal dan saat kami mau datang melihatnya, kami tidak dikasi pihak Lapas dengan alasan jasad Unyil akan diantar ke rumah. Saat kami cek jasadnya, wajah lebam dan mulut mengeluarkan darah dan keluarga tidak mau menandatangani surat penyerahan mayat Unyil meski ada paksaan dari pihak Lapas," tandas Dogol. 

Terpisah, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol H Rycko Amelza Dahniel melalui Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting saat dikonfirmasi, Jumat (31/3/2017) hingga Minggu (2/4/2017) berjanji akan mengecek hasilnya. "Saya cek dulu ya," tulisnya singkat melalui pesan whatsApp.