Humbahas, hetanews.com - Pelepasan tanah adat milik masyarakat Desa Pandumaan-Sipituhuta dari konsesi PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang dimediasi oleh Pemkab Humbang Hasundutan (Humbahas) membulatkan tekad warga akan melestarikan kembali hutan kemenyan mereka.

Tekad itu didukung oleh Pemkab Humbahas yang akan membuat suatu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yang khusus mengelola kemenyan dan komoditas andalan di daerah tersebut.

Seperti dikutip dari laman www.mongabay.co.id, Bupati Dosmar Banjarnahor mengatakan, kemenyan merupakan salah satu kekayaan alam di daerah Humbahas yang secara ekonomis merupakan bisnis yang menjanjikan.

“Diharapkan, dengan adanya perusahaan daerah khusus menangani bisnis getah kemenyan ini, kejayaan getah kemenyan di masa lampau kembali bangkit di Humbahas,” ucap Dosmar.

Getah kemenyan yang berasal dari pohon kemenyan. (foto : Trendy).

Pihak pemerintah mengakui, bahwa selama ini mengalami kendala dalam mendata para petani kemenyan. Ini dikarenakan para petani tersebut menjual hasil panen kemenyan mereka kepada para agen dan tengkulak, akibatnya sulit untuk membuat regulasi harga, penjualan, dan penyuluhan untuk menghasilkan getah kemenyan berkualitas.

Sementara itu, data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa omzet yang dihasilkan para petani kemenyan dapat mencapai Rp 200 miliar. Angka yang cukup fantastis dan diharapkan dapat terus meningkat di masa depan.

Pasar ekspor getah kemenyan dari Humbahas setidaknya memiliki 2 negara yang jadi pelanggan tetap bisnis ini, yaitu Singapura dan Prancis. Jalur selama ini dari Pandumaan-Sipituhuta, ke agen besar, lalu dikirim ke Solo. Dari sana dikirim ke Singapura, lalu Prancis.

Seperti diketahui, getah kemenyan ini memiliki banyak manfaat dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya bahan baku untuk dupa, kosmetik, parfum, dan lain-lain. Jika badan usaha itu terwujud, Dosmar memastikan bahwa badan usaha tersebut yang akan jadi pemasok tunggal.

Getah kemenyan. (foto : Trendy).

"Kita sedang merancang. Kita akan memutus mata rantai penjualan. Saya menargetkan pengelolaan bisnis kemenyan bisa meningkatkan taraf hidup petani kemenyan di kabupaten pemekaran ini,” imbuhnya.

Dia juga menceritakan hutan kemenyan ini, pernah 4 kali menyurati pemerintah pusat, mulai Presiden 2 kali, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hingga Menko Maritim. Dalam suratnya, Dosmar menekankan, kemenyan dunia terbaik ada di Pandumaan-Sipituhuta.

Para pedagang dan petani kemenyan dari Desa Pandumaan-Sipituhuta, menyayangkan, setelah adanya TPL dan pohon kemenyan ditebangi berganti eukaliptus, hasil panen turun tajam, limbah dari perusahaan raksasa tersebut juga selama ini mempengaruhi kualitas dan kuantitas dari kemenyan.

Para petani juga mengatakan bahwa pelepasan lahan adat dari konsesi PT TPL yang dilakukan oleh pemerintah merupakan hadiah bagi mereka. Mereka juga optimis kemenyan akan bangkit lagi.