Asahan, hetanews.com - Ratusan pedagang korban kebakaran yang menempati kios di  Pasar Inpres, Kabupaten Asahan mendadak ribut dengan cara menggelar dagangan mereka di koridor pintu masuk pasar, Selasa (14/3/2017).

Kegaduhan mulai sekira pukul10.00 WIB ini diketahui untuk mempertanyakan uang yang dikutip pihak pengelola bernama Persatuan Pedagang Pasar Inpres 1 Kisaran (P3IK) sebesar Rp 52.500.000, yang katanya untuk biaya pembagian kios. Dan aksi ini dikarenakan koridor pintu masuk di jadikan lahan parkir

Menurut Inang Tungkir (55) yang berdagang di lantai 2 Pasar Inpres , keributan itu karena parkir berada di jalan masuk lantai 1, sementara lahan parkir telah disediakan di lantai 3.

“Sekarang dagangan kami sepi karena pembeli bebas parkir di bawah, jadi ngapai mereka ke lantai 2. Padahal parkir sudah dibuat di lantai 3 dan ini bukan parkir tapi untuk jalan masuk ke lantai 1,” ujar Tungkir.

Kembali Tungkir menuturkan, soal uang kutipan itu dulu mereka (pedagang) dijanjikan di lantai bawah dan dikutip uang . “Nyatanya di lantai 2, jadi uang Rp 52.500.000, kemana digunakan pengurus P3IK,” kata Tungkir kesal.

Para pedagang Pasar Inpres saat berkumpul.  (foto: Heru)

Tungkir menuturkan, dengan kondisi ini malah yang diuntungkan para pengurus P3IK , bukan pihaknya yang telah membayarkan kutipan dimaksud. “Tolonglah pada pak Bupati biar ditindak para pengurus ini,” ucap Tungkir.

Senada disampaikan Fauzi (45) salah satu pedagang asesioris yang juga menempati kios di lantai 2. Menurutnya, parkir kendaraan di pintu masuk itu dikuasai dan dikelola salah satu Organisasi Kepemudaan (OKP), sehingga mereka menyayangkan terkesan dibiarkan saja .

“Ini salah satu penyebab yang membuat kami para pedagang di lantai 2 mulai kesal. Mereka (OKP) menggelar perparkiran di lantai dasar , lalu yang dibangun di lantai 3 untuk apa ,” tanya Fauzi.

Ini menyebabkan pedagang yang berada di lantai atas tidak lagi dihampiri konsumen (pembeli). Selain itu, sikap pemerintah maupun pengelola Pasar Inpres yang saat ini di bawah naungan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Koperinda) Asahan juga tidak tegas dan terkesan lepas tangan tak mendengar jeritan pedagang.

“Kami juga meminta kepada aparat penegak hukum menindak para pengurus P3IK yang mengutip uang pedagang. Kami di lantai2, lalu untuk apa uang itu dan dikemanakan,” ujar Fauzi, serya berharap Bupati Asahan mau mendengar keluhan pedagang.

Aksi protes yang dilakukan para pedagang Pasar Inpres. (foto: Heru).

Pantauan hetanews, keributan dapat dihentikan setelah dilakukan pengamanan oleh pihak Polres Asahan. Sedangkan Kadis Koperindag saat ditemui di lokasi arena stand pameran Hari Ulang Tahun (HUT) Asahan ke 71 justru menghindar

Sebelumnya 1 lantai Pasar Inpres mengalami kebakaran di tahun 2012, sehingga dilakukan pembangunan kembali yang selesai dibangun 2016 dengan sumber dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) sebesar Rp 25 miliar.