HETANEWS

Ayah Dibunuh di Indonesia Datok dari  Malaysia Jadi Saksi

Anak korban Datok Zaini usai persidangan. (foto : Ver)

Tebingtinggi, hetanews.com - Tidak terima ayah dibunuh di Indonesia, seorang Datok yang tidak lain anak korban datang dari Malaysia untuk menjadi saksi di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Tebingtinggi akibat dibunuh 2 orang pria warga Kabupaten Batu Bara, Rabu (8/3/2017).

Mirisnya, ayah saksi bernama Datok Muhammad Ladzim bin Abdullah seorang pengusaha kaya raya tewas menggenaskan hanya akibat hal sepele yakni perkataannya, sehingga terjadi ketersinggungan kepada 2 orang terdakwa yang dihadirkan jaksa Juwita dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Sergai dihadapan majelis hakim Sangkot Tobing.

Di persidangan, saksi Datok Muhammad Zaini (40) warga Selanggor Malaysia sangat berharap agar pelaku dihukum setimpal. Demikian kalimat singkat yang diucapkan Datok melalui salah seorang juru bicara bernama Steven (42) yang juga warga Malaysia.

Saksi korban Abdullah seorang pengusaha kaya yang kerap berkunjung ke Indonesia dan Kota Medan.

Dalam dakwaan dikatakan terdakwa Ridwan alias Iwan tega menghabisi nyawa Abdullah hanyakarena sepele. Bahkan, tewas dengan seutas tali pinggang milikny. Caranya dengan menjeratkan ke leher saat sedang tertidur di dalam mobil yang ditumpangi korban.

Sedangkan mobil rental Suzuki APV nomor polisi (nopol) BK 1914 JE itu dikemudikan terdakwa M Fahmi(26) warga Dusun IV Desa Mesjid Lama, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara.

Sebelum kejadian naas, saksi korban menghubungi Iwan untuk menjemputnya di Bandara Kuala Namu. Sebab, keduanya telah ada komunikasi.

Saat itu, terdakwa akan memperkenalkan seorang wanita untuk dijadikan istri buatAbdullah yakni warga Batuvbara. Korban meminta agar dicarikan wanita muda untuk dijadikan istri. Bahkan,terdakwa sudah ada menerima uang senilai Rp 2 juta untuk biaya pencarian wanita. Lalu kedua terdakwa menjemput Abdullah Senin tanggal 14 November 2016.

Hebatnya lagi, Iwan juga meminta uang  untuk dibelikan rumah buat wanita calon istri korban dengan tujuang sebagai jaminan tanda jadi. Namun,korban tidak memberikannya sehubungan Datok belum berjumpa dengan  calon istrinya.

Awal malapetaka tiba, di perjalanan terjadi pertengkaran hebat antara terdakwa Iwan dengan Abdullah. Pertengkaran itu bermula ketika korban menanyakan kepada terdakwa Iwan. "Iwan, bagaimana perempuan itu jadinya,"dijawab terdakwa, "Nggak jadilah Tuk, kan belum pasti rumah itu, jadi mereka ngamuk la tuk,". 

Kedua terdakwa saat menjalani persidangan. (foto: Ver)

Kemudian korban berkata lagi kepada terdakwa "Gimana mau dibelikan rumah Iwan, saya lihat aja belum perempuan itu, kalau nanti nggak pas gimana pulak rumah itu nantinya. Nggak bisalah kayak gitu, kan harus saya cobalah perempuan itu dulu,” tukasnya.

Namun terdakwa tetap diam, kemudian secara tiba-tiba korban langsung berkata "Kurang ajar kau Wan, sudah  saya bantu keluargamu, tapi kau nggak mau bantu. Nanti kalau kau nggak dapat perempuan itu, istrimu nanti saya setubuhi”. 

Lalu terdakwa Ridwan alias Iwanpun menjawab perkataan korban, "kok gitu Tuk ngomongnya, janganlah Datok ngomong kayak gitu’. Korban pun tak menjawab ucapan terdakwa.

Merasa tidak senang akan perkataan korban, timbullah niat terdakwa untuk menghabisinya saat itu,. Namun terdakwa menunggu saat yang tepat.

Di saat korban lelap terdidur dalam perjalanan ke Batubara di bagian kursi depan di samping supir (Fahmi), tiba-tiba terdakwa melepaskan tali pinggang yang dikenakannya dan dengan cepat melilitkannya ke bagian leher korban. Sementara terdakwa  Fahmi melihat kejadian tersebut dan melarangnya.

Setelah dipastikan korban tidak bergerak lagi dan dinyatakan telah tewas, terdakwa langsung mengambil barang-barang berharga, dengan cara merogoh kantong samping kanan yang terdapat uang tunai mata uang Malaysia sebesar 2.500 RM dan uang rupiah sebesar Rp 2,7 juta.

Terdakwa mengambil cincin yang melekat di jari manis korban dan jam tangan. Kemudian mengambil handphone (HP) korban yang terletak di samping pintu mobil.

Usai mengambil seluruh harta korban, terdakwa memerintahkan Fahmi untuk mencari lokasi yang sepi untuk membuang mayatnya. Setibanya di Jalan Lintas Medan-Tebing Tinggi, Dusun II Desa Liberia Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Sergai, Fahmi menghentikan laju mobil tersebut, lalu dirinya tetap diam memegang stir mobil.

Sementara Ridwan turun dari mobil dan menurunkan mayat korban dari dengan cara menarik kedua tangannya lalu menyeretnya hingga masuk ke dalam parit. Terdakwa pun menyuruh Fahmi untuk melanjutkan perjalanan menuju Batubara.

Penulis: ver. Editor: aan.