HETANEWS

CEO Philips ASEAN, Caroline Clark: Awasi Kehamilan dari Jauh

Philips Indonesia

Jakarta, hetanews.com - Bagi masyarakat awam, Philips mungkin hanya terkenal sebagai merek pembuat perangkat rumah tangga, seperti penanak nasi, setrika, dan mesin pencukur. Padahal merek asal Belanda ini punya lini produk alat-alat medis canggih, seperti mesin CT-Scan, CAT Scan, dan banyak lagi. “Produk kami sudah digunakan di banyak rumah sakit di Indonesia,” kata CEO Philips wilayah Asia Tenggara dan Pasifik, Caroline Clark, kepada Praga Utama dari Tempo, Rabu, 22 Februari 2017, pekan lalu.

Sebagai salah satu produsen perangkat medis, Philips melihat masih banyak masalah kesehatan masyarakat di Tanah Air, yang sebetulnya bisa diatasi menggunakan teknologi. “Menurut kami, Indonesia yang wilayahnya sangat luas dan jumlah penduduk yang sangat banyak membutuhkan solusi untuk mengatasi aneka masalah kesehatan,” kata Caroline. Karena itu, Philips mengembangkan program bernama Mobile Obstetrics Monitoring (MOM) yang ditujukan untuk para ibu hamil.

Seperti apa program tersebut dan bagaimana penerapannya? Berikut ini petikan wawancara Tempo dengan Caroline yang didampingi Presiden Direktur Philips Indonesia, Suryo Suwignjo.

Seperti apa sebetulnya program MOM yang diperkenalkan Philips?
Secara sederhana, MOM adalah program pemantauan kehamilan bagi para ibu. Kami mengembangkan aplikasi berbasis teknologi yang dapat digunakan para bidan di berbagai daerah, terutama yang masih terpencil. Para bidan ini, selain dibekali peralatan medis yang biasa digunakan untuk memeriksa ibu hamil, juga dilengkapi dengan ponsel yang berisi aplikasi untuk mencatat kondisi kehamilan pasiennya. Data yang dicatat bidan kemudian masuk ke server di rumah sakit besar, sehingga bisa dipantau para dokter spesialis.


Lalu, apa manfaat program ini untuk para ibu hamil?
Program ini ditujukan agar aneka masalah dalam kehamilan bisa dideteksi lebih dini. Sebab, kami melihat, belum semua bidan di Indonesia punya kemampuan mendiagnosis pelbagai masalah medis yang dialami ibu hamil. Mereka masih membutuhkan bantuan para dokter, tapi hal itu terkendala terbatasnya jumlah dokter spesialis dan fasilitas medis, terutama di daerah-daerah terpencil.

Hal inilah yang menyebabkan tingkat kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi di Indonesia (126-190 kematian per 100 ribu kelahiran setiap tahun, menurut data World Health Organization pada 2013). Berdasarkan penelitian medis, tingginya angka itu disebabkan masalah kesehatan yang tidak terdeteksi lebih dini.

Secanggih apa aplikasi MOM ini? Masalah kesehatan semacam apa yang bisa dideteksi?
Macam-macam. Yang jelas, data-data vital terkait dengan kehamilan pasien akan dicatat para bidan, termasuk gambar ultrasonik, lalu dikirimkan ke pusat data berbasis cloud di rumah sakit besar milik pemerintah daerah. Aplikasi MOM ini akan mengeluarkan peringatan jika data vital yang dikirimkan bidan mengindikasikan adanya masalah. Dokter di rumah sakit melakukan diagnosis, untuk kemudian menentukan langkah pencegahan atau perawatan lanjutan bersama bidan.


Berdasarkan pilot project MOM yang kami jalankan di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, pada 2013, kami menemukan fakta bahwa mayoritas ibu hamil mengalami anemia (kekurangan darah) selama mengandung. Hal itu bisa berakibat fatal saat proses bersalin. Dalam proyek tersebut, kami memantau sekitar 650 ibu hamil dan aneka problem kesehatan mereka bisa terdeteksi lebih cepat, sehingga dokter bisa menentukan penanganan yang tepat. Semua pasien yang dipantau memakai MOM melahirkan dalam kondisi sehat dan angka kematian ibu dan bayi menjadi nol.

Apakah aplikasi semacam ini hanya bisa digunakan untuk memantau kehamilan? Bagaimana dengan masalah kesehatan lainnya?
Pada dasarnya, berbagai alat medis yang kami produksi punya kemampuan mengolah data pasien dan terhubung dengan jaringan Internet. Kami menyebut teknologi ini sebagai sistem tele-health Philips. Di negara lain, banyak rumah sakit khusus jantung atau kanker yang menerapkan teknologi ini.

Dengan teknologi semacam ini, rumah sakit-rumah sakit kecil yang berlokasi di daerah terpencil bisa bekerja sama dengan rumah sakit di kota besar yang punya tim dokter spesialis untuk menilai kondisi pasien lewat data yang dikirimkan. Dengan demikian, penanganan perawatan pasien lebih cepat dan murah.



Tapi, di dunia medis Indonesia ada aturan ketat, terutama soal hubungan antara produsen alat medis dan rumah sakit maupun dokter. Bagaimana sistem semacam ini diterapkan tanpa melanggar aturan?
Suryo:
Betul. Ini jadi salah satu kendala penerapan teknologi semacam telehealth yang dimiliki Philips. Di Indonesia, ada aturan data pasien tidak boleh dikirimkan ke rumah sakit atau dokter di negara lain. Padahal, pada era digital seperti saat ini, rumah sakit atau dokter bisa memanfaatkan teknologi untuk bekerja sama dengan rumah sakit atau dokter lain yang punya alat lebih canggih dan kemampuan spesialis untuk penanganan pasien.

Saat ini, sebetulnya sudah banyak rumah sakit di Indonesia, baik milik pemerintah maupun swasta, yang memakai alat-alat medis buatan Philips yang punya teknologi telehealth. Tapi yang baru menerapkan sistem ini secara penuh baru sebagian rumah sakit swasta. Seharusnya, jika teknologi semacam ini bisa dimanfaatkan, beban rumah sakit rujukan bisa berkurang. Biaya pasien dalam berobat juga lebih murah karena tidak harus keluar ongkos banyak.


Lantas, bagaimana sistem MOM diterapkan? Di mana saja program ini sudah berjalan?
Suryo:
Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah. Program MOM kami sisipkan dalam konsep smart city yang sekarang mulai banyak diterapkan di berbagai daerah. Dalam penerapannya, kami bekerja sama dengan PT Telkom Indonesia. Di sini, Telkom sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi yang jaringannya sudah mencapai pelosok-pelosok. Kebetulan, Telkom punya anak usaha yang bergerak di bidang medis, yakni AdMedika dan TelkoMedika.

Jadi pemerintah daerah yang berminat menerapkan program MOM bisa bekerja sama dengan Telkom melalui skema smart city. Saat ini, selain Kabupaten Sijunjung yang jadi lokasi pilot project, MOM diterapkan di Jayapura. Jadi para bidan di sana kami bekali peralatan dan kemampuan untuk memeriksa serta mencatat data pasien. Datanya kemudian dikirim dan disimpan di rumah sakit milik pemerintah daerah. Rencananya, beberapa daerah lain menyusul.


Di luar sistem telehealth dan MOM, apakah Philips akan berinvestasi dalam hal manufaktur peralatan medis?
Saat ini Philips sudah punya pabrik di Batam. Namun pabrik kami di sana baru ditujukan untuk produksi peralatan rumah tangga, seperti yang banyak di jual di toko-toko. Alat medis besar, seperti untuk rumah sakit, kami belum ada rencana memproduksi di Indonesia. Namun, bagi kami, Indonesia adalah pasar penting karena sejarah kami di sini sangat panjang. Segmen rumah tangga maupun peralatan medis komersial potensinya masih sangat bagus.

sumber:tempo.co

Editor: edo.