Humbahas, hetanews.com - Kasus menghilangnya Aldi Sibarani (10) di Dusun Lumban Sibarani, Desa Aeklung, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Minggu (12/2/2017) dan ditemukan tewas kini telah terungkap. 

Pasca penemuan mayat siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) itu pada hari Jumat (18/2/2017), pihak Polres Humbahas langsung bertindak cepat mengungkapnya.

Selasa malam (21/2/2017), Sat Reskrim Polres Humbahas menetapkan Mangasa Sibarani (36) ayah kandung korban sebagai pelaku, yang sebelumnya sudah diamankan sejak Senin (20/2/2017). 

Kapolres Humbahas AKBP Nicholas Lilipaly dalam siaran persnya, Rabu (22/2/2017), menuturkan selama ini diketahui jika Mangasa dan istrinya telah pisah ranjang sejak 2 tahun terakhir. Mangasa menetap di kampung bersama korban dan bekerja sebagai sopir angkot. Sedangkan istrinya bekerja di Medan sebagai penjahit bersama anak sulung dan bungsunya. 

Seminggu sebelum kejadian, istri pelaku pulang ke kampung, sedangkan anak paling bungsu diketahui bernama Andre Sibarani (4) sudah bersama ayahnya sejak 2 bulan terakhir karena hendak masuk Taman Kanak-Kanak (TK). 

Minggu (12/2/2017) sekira pukul 10.00 WIB, istri pelaku berpamitan untuk pulang ke Medan menjemput barang-barangnya, sekaligus menjemput anak mereka yang sulung, untuk kemudian kembali ke kampung dan hidup bersama dengan suaminya. 

Ketika itu, korban mengantarkan ibunya ke loket bus untuk mengambil mobil kembali ke Medan. Namun setelah korban pulang ke rumah, pelaku kemudian menanyai korban, kemana ibunya diantar. Saat itu korban mengaku jika dirinya mengantar ibunya ke samping Polsek Dolok Sanggul yang nota bene bukan loket bus.

Mendengar jawaban itu, pelaku kian curiga jika istrinya benar selingkuh. Namun pelaku coba menenangkan diri. Hingga kemudian sore harinya, pelaku menyuruh korban membeli rokok.

Namun saat itu korban diyakini sempat bermain-main dengan temannya hingga tak kunjung pulang ke rumah. Kemudian, pelaku bersama anak bungsunya pergi ke warung milik Lumban Batu tempat korban membeli rokok mengendarai sepeda motor yang dipinjam dari tetanggan.

Ternyata pelaku tidak menemukan anaknya, sementara pemilik warung mengaku jika korban telah pulang membawa rokok yang dibeli.
Mangasa pun pulang dan mengembalikan sepeda motor tetangganya.

Pelaku lalu mencari korban masih bersama anak bungsunya mengendarai angkot miliknya merk Daihatsu Zebra warna biru. 

Saat di tengah jalan sekira 500 meter dari rumah pelaku, korban diyakini bersembunyi di semak-semak di pinggir jalan. Namun saat angkot pelaku melintas, tiba-tiba korban keluar dari semak-semak dan sempat terserempet. 

Pelaku kemudian memberhentikan angkotnya dan pergi ke belakang angkot, dan menemukan jika ternyata itu anaknya. Pelaku lalu bertanya kenapa korban tak kunjung pulang. Saat itu pelaku sudah emosi ditambah beban pikiran kecemburuan terhadap istrinya. 

Pelaku lalu meninju kepala dan mencekik leher korban hingga beberapa kali. Akhirnya korban tersungkur dan duduk tersandar ke bagian belakang angkot. Belum puas, pelaku lalu membenturkan kepala korban ke bagian bamper mobil yang terbuat dari besi. Tak sampai di situ, pelaku juga menendang bagian perut korban. 

Usai menganiaya korban, pelaku lalu tersadar dan buru-buru membawa korban ke Poskesdes, sekira 300 meter dari lokasi kejadian. Sampai di Poskesdes, pelaku lalu memutar angkotnya dan berniat menurunkan korban. 

Namun saat masih di dalam angkot, pelaku memegang nadi korban dan tidak merasakan denyut nadinya lagi. Curiga jika anaknya sudah meninggal, pelaku lalu membakar rokok yang dibeli anaknya dan menyulut apinya ke tangan kanan dan kiri korban. Ternyata korban tak lagi bereaksi. 

Pelaku yang yakin jika anaknya sudah meninggal lalu panik. Ia kemudian menggendong korban di depan sementara anak bungsunya digendong di belakang. Pelaku lalu membawa korban dan menyembunyikan di semak-semak sekira 200 meter dari pemukiman warga."

Dia (pelaku) cemburu sama istrinya, ditambah lagi anaknya yang lama pulang saat disuruh beli rokok. Akhirnya dia emosi dan memukuli anaknya hingga meninggal. Lalu pelaku sempat berupaya membawa anaknya ke Poskesdes. Ketika itu pelaku coba mengecek apakah anaknya masih hidup dengan cara menyulut api rokok ke tangan, namun korban tidak lagi merespon. Pelaku yakin jika korban sudah tidak bernyawa," sebut Nicholas Lilipaly.

Hal itu juga diakui pelaku saat diwawancarai. Menurutnya, selama ini ia memang curiga jika istrinya selingkuh, dan emosinya kian memuncak saat anaknya yang lama pulang ketika disuruh membeli rokok. Meski begitu, ia mengaku menyesal karena telah membunuh anaknya.

Mengenai kondisi tubuh korban yang masih segar saat ditemukan, Kapolres menyebut jika keterangan sementara dari dokter forensik bahwa Aldi dinyatakan meninggal 6 hari sebelum ditemukan. Ini juga sesuai dengan keterangan pelaku. Namun karena kondisi jasad korban tidak menyentuh tanah, maka jasadnya tidak hancur. 

"Keterangan sementara dari dokter forensik, korban diduga meninggal pada Minggu malam. Namun kalau untuk resminya, mungkin kira-kira 2 minggu lagi hasil otopsi keluar dari Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Medan," ujar Kapolres. 

Terkait dengan kejiwaan pelaku, Nicholas mengaku masih akan membawa ke psikolog untuk diperiksa.

"Sampai sejauh ini, kita belum menemukan kejanggalan terkait dengan kejiwaan pelaku. Meskipun begitu kita akan membawa ke psikolog untuk memastikan kejiwaan pelaku," ujar Nicholas. 

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan melanggar pasal 338 dan 351 ayat 1 dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.