HETANEWS

Siapakah Ayah Kamal di Lapas Siantar?

Kamal Munthe saat digiring petugas dari Lapas Siantar pasca tertangkapnya pengunjung kantongi sabu usai mengunjungi dirinya.

Simalungun, hetanews.com - Kamaluddin Munthe atau Ayah Kamal saat ini masih ditahan di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Klas IIA Pematangsiantar atas kasus dugaan penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu yang hingga kini masih proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun.

Nama Kamal kembali jadi objek pemberitaan pasca ditangkapnya seorang pengunjung didapati membawa sabu-sabu setelah membesuk Ayah Kamal pada Selasa (3/2/2017). Hanya belum diketahui sejauh mana perkembangan kasus itu hingga saat ini.

Kamal diketahui berulang kali masuk keluar lapas. Dari sepak terjang Kamal, diketahui 2 kali menjadi warga binaan Lapas Labuan Ruku, Medan Petisah dan Lapas Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).

Kamal kembali menjadi penghuni Lapas Klas II A Pematangsiantar sejak ditangkap pada Rabu (27/7/2016) atas transaksi narkotika jenis sabu.

Di lapas, persisnya di Block Enggang, terdakwa pengedar narkotika jenis sabu ini diduga melakukan aksi provokatif, memberikan ancaman ketidakkondisifan apabila bisnis narkotikanya tidak berjalan mulus.

Bisnis pengendalian narkoba dalam lapas yang dimainkan Kamal bukan tergolong hal yang sepele. Jaringan yang dibangun cukup terkodinasi dengan rapi dengan melibatkan oknum oknum petugas lapas hingga peredaraanya sampai keluar lapas.

Untuk itu, Kepala Lembaga Permasayarakat (Kapalas) Menanti Sukardi telah mengadukan peristiwa tersebut ke Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). “Setelah peristiwa itu, kita sudah melaporkan ke Kementrian. Mereka sudah tau,” ujar Menanti Sukardi baru-baru ini.

Menurut Kalapas, Kamal sudah sepatutnya menerima pembinaan khusus jika sudah tidak mampu menerima pembinaan yang sewajarnya di lapas.

“Jika sudah tak bisa lagi dibina, lebih baik dipindahkan saja. Ada pembinaan khusus bagi terdakwa narkoba yang melakukan pengendalian narkoba dalam lapas. Itu sedang dirumuskan. Harapan saya secepatnya dia bertobat,” sebut Kalapas.

Meski berbagai upaya telah dilakukan pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) eminimalisir peredaran narkoba di dalam lapas. Meskipun telah berada dibalik tembok penjara, namun bukanlah hal sulit mengendalikan peredaran narkoba dari balik lapas. Peredaran narkoba dalam lapas merupakan kejadian yang sering terjadi dan tak boleh dibiarkan begitu saja.

Seperti disampaikan Reinhard Martinus Sinaga. Menurut pria yang berprofesi sebagai advokat ini, berbagai cara dilakukan oleh napi dalam mendapatkan barang haram hingga melaksanakan praktik bisnis narkoba di dalam lapas.

Salah satunya melalui saluran luar dengan melakukan kunjungan kepada para napi. Kadang kala transaksi narkoba pun kerap dilakukan oleh pengunjung dan napi.K

ejadian tersebut bukan hanya dapat dilakukan para pengunjung saja, seorang sipir oun yang seharusnya mejaga proses pengawasan dalam lapas pun bisa jadi terlibat di dalamnya,” ujar Reinhard.

Atas kejadian tersebut, kata Reinard perlu segera direspon cepat dan dilakukan ‘pembersihan’ atau razia secara serius di dalam Lapas. Penanganan peredaran dilakukan dengan meminimalisir dampak peredaran dari luar dengan diberlakukannya alur kunjungan yang jelas dan ketat disertai dengan proses pengendalian internal yang kuat.

“Salah satunya dengan adanya pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh para sipir yang bertugas. Selain itu dengan alur kunjungan yang ketat, penambahan personil pengawas sangat perlu diperhatikan. Sebab jumlah pengawas yang sedikit maka dirasa sangat susah melakukan penertiban para napi,” katanya

Lanjut pria yang bermukim di Sibatu batu Kelurahan  Bah Kapul Kecamatan Sitalasari, Kota Siantar ini, para sipir yang diperkerjakan dinilai dahulu kredibilitas dan tanggung jawabnya sehingga kejadian sipir sebagai distributor narkoba tidak berulang kembali. 

Selain penanganan dalam bentuk pengawasan, perlulah dilakukan peningkatan sarana dan prasana lapas seperti peningkatan sarana rehabilitasi yang dilakukan sebagai upaya dalam penanganan penyalahgunaan narkoba dalam lapas.

“Ini harus disikapi dengan serius. Jika petugas lapas kurang maupun sarana dan prasana harus ditingkatkan, maka harus disikapi. Jangan dibiarkan berlarut-larut. Karena lapas bukan tempat peredaraan narkoba, tapi untuk pembinaan,” sebutnya mengakhiri.

Penulis: gee. Editor: aan.