Simalungun, hetanews.com - Selama 2 tahun terakhir ini diketahui air Danau Toba telah dicemari lintah dan kutu yang bersarang di bebatuan dan air danau. 

Hal itu diketahui setelah beberapa aktivis yang menamakan dirinya sebagai Pejuang Danau Toba melakukan penyelaman rahasia di dalam air dan menemukan sumber populasi binatang berbahaya itu dari limbah industri perikanan Keramba Jaring Apung (KJA) milik perusahaan raksasa PT Aquafarm Nusantara (AFN).

Aktivis Danau Toba, Holmes Hutapea mengungkapkan, perkembangbiakan spesies baru binatang penghuni danau, dipicu polusi yang berasal dari limbah industri perikanan seperti makanan dan kotoran ikan.

Kemudian berproses sehingga muncul binatang sejenis lintah dan kutu yang kerap ditemukan di tubuh ikan dan bebatuan dalam air. Perubahan ekosistim danau tersebut berlangsung selama berdirinya perusahaan PT Aquafarm yang ‘memperkosa’ keutuhan sumber daya Danau Toba selama 18 tahun.

“Ini pencemaran level tingkat tinggi yang dibuat perusahaan PT Aquafarm. Pencemaran bukan berasal dari pakan ikan lagi, tapi kotoran ikan. Dari kotoran ikan kemudian gulma dan muncul spesies baru lintah dan kutu,” ungkap Holmes, saat ditemui di kawasan Pasar Tiga Raja, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Kamis (16/2/2017).

Ketika itu, para insiator Pejuang Danau Toba, Holmes, didampingi dua temanya Saut Hasibuan dan Sehat Priyono Tambunan belum sempat melakukan penelitian lewat laboratorium untuk memastikan secara ilmiah spesies kedua binatang itu, lantaran minimnya support dan fasilitas penunjang. 

Holmes mencari lintah yang menempel di bebatuan di perairan Danau Toba. (foto: Huget).

Namun, tidak sampai disitu, ketiga aktivis penggagas Kelompok Pejuang Danau Toba ini membawa sampel ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) Simalungun yang bertempat di Kelurahan Parapat, dengan mengumpulkan lintah dan kutu yang dimasukkan ke dalam botol.

“Kita sudah berikan sampel ke BLH Simalungun. Tapi sampai sekarang tidak ada ditanggapi. Mereka terkesan menutup diri. Karena kita tau, dari tingkat provinsi dan kabupaten sampai yang terendah sudah dapat saweran” ketus Holmes, mantan personil penyelam PT Aquafarm ini.

Limbah industri perikanan milik perusahaan PT Aquafarm yang mengendap di air Danau Toba dan sikap BLH yang terkesan tidak peduli mengakibatkan persoalan pencemaran lingkungan ini terabaikan. Dipastikan, populasi lintah dan kutu pun semakin bertambah serta berkembang biak di seluruh perairan Danau Toba.

“Lintah dan kutu ini bukan berada di 1 tempat saja, tapi di seluruh isi danau. Kalau dibiarkan populasi lintah dan kutu semakin bertambah,” ucap Sehat Priyono Tambunan Aktivis Pejuang Danau Toba.

Informasi yang dihimpun dari data Pejuang Danau Toba, dampak yang serius yang pernah terjadi akibat pencemaran air danau oleh lintah dan kutu. Pasalnya pernah suatu kali seorang pengunjung yang berwisata, berenang menikmati air di bibir Pantai Danau Toba terserang lintah yang menempel di sekujur tubuhnya. Akhirnya korban mengalami syok dan dilarikan ke Klinik Unit Gawat Darurat Parapat.

“Kejadiannya tahun 2015. Pengunjung mandi mandi pantai hampir seluruh badannya menempel ratusan lintah,” cerita Holmes Hutapea diamini Sehat Priyono Tambunan.