Simalungun, hetanews.com - Lintah dan kutu yang diduga berasal dari limbah industri perikananan PT Aquafarm Nusantara (AFN) mewabah di lokasi wisata Danau Tob, persisnya di pemandian bibir Pantai Pesanggerahan Istana Presiden Soekarno, Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.

Akibatnya, salah seorang pengunjung yang sedang menikmati air danau mengalami gatal-gatal di sekujur tubunya setelah mandi di kawasan perairan Danau Toba tersebut.

Kejadiannya pada Rabu (15/2/2017) sekira pukul 16.30 WIB. Saat itu Mangasi Silalahi (38) bersama rombongan keluarganya bertamasya ke Parapat tepatnya di pondok pemandian yang letaknya persis di bawah gedung Istana Presiden Soekarno atau dikenal Pantai Ujung. 

Di lokasi itu, Mangasi yang hanya mengenakan celana ponggol (pendek), berenang seraya bercanda menikmati air di bibir pantai bersama sanak saudaranya.

Tidak sampai 1 jam, pria yang mengaku berasal dari Tolping itu keluar dari air untuk mengeringkan badan lantaran tidak merasa nyaman.

“Gak tahan saya, gatal-gatal badan,” keluh Mangasi, sembari menghapus bedak ke sekujur tubuhnya.

Menurut Mangasi, selama berkunjung ke daerah wisata Danau Toba khususnya di lokasi pemandian, dirinya tidak tau sama sekali munculnya spesies baru, lintah dan kutu yang hidup di air danau. Namun selama mandi di danau, ia merasakan bau dan air tidak segar yang mengakibatkan risih dan lengket di badan.

“Kita datang kesini mau liburan. Kalau begini, siapa yang mau mengambil resiko,” ucap Mangasi yang menyesalkan kondisi itu.

Di tempat yang sama, Aktivis Danau Toba, Holmes Hutapea mengatakan, masalah itu merupakan dampak yang sangat fatal dari  pencemaran yang berasal dari polusi yang dihasilkan industri perikanan PT Aquafarm. 

Menurutnya, hal ini tidak boleh ditolerir lagi sebab telah menciderai manusia. Bentuk eksploitasi yang terjadi di Danau Toba oleh PT Aquafarm salah satunya dengan cara membuang pakan ikan sebanyak 300 ton per hari.

“Pelet (pakan ikan) dibuang ke danau 300 ton perhar. Dari situ ada ampas yang menggumpal di air. Karena gak bisa ditanggulangi pemerintah, Danau Toba tidak jadi dibuat Geopark,” jelas penyelam Basarnas Danau Toba ini.

Di era tahun 80 an dan 90 an, jauh di masa sebelun berdirinya perusahaan PT Aquafarm dimana kondisi air dan alam Danau Toba tergolong stabil. Menurut Sahat Priyono Tambunan, saat itu belum ditemukan virus yang berada di dalam air lintah dan kutu di danau. 

‘Kami sudah tanya para orang tua kami di kampung ini, gak ada lintah dan kutu disini. Masalahnya sekarang ke kami dan anak cucu nanti,” sebut inisator Pejuang Danau Toba itu diamini Holmes Hutapea.

Sebelumnya, selama 2 tahun terakhir diketahui air Danau Toba telah dicemari lintah dan kutu yang bersarang di bebatuan dan air danau. 

Hal itu diketahui setelah beberapa aktivis yang menamakan dirinya sebagai Pejuang Danau Toba melakukan penyelaman rahasia didalam air dan menemukan sumber populasi binatang berbahaya itu dari limbah industri perikanan Keramba Jaring Apung  (KJA) milik perusahaan raksasa PT Aquafarm.