HETANEWS
CITIZEN JOURNALISM

Lima Kenyataan Pancagila menurut Sahat Gurning dan Benar Terjadi di Seluruh Masyarakat Indonesia

Postingan Pancagila.

Tobasa, hetanews.com - Foto Sahat S Gurning di akun facebook sedang menendang atau menempelkan kaki sebelah kanan ke tembok dinding penahan longsor di pinggir Jalan Pintopohan Meranti Kabupaten Toba Samosir (Tobasa).

Dalam foto postingan yang bergambar mirip Lambang Negara Republik Indonesia Garuda Pancasila dan tulisan ; ‘PANCASILA’ itu hanya ‘LAMBANG’ Negara Mimpi, yang benar adalah PANCAGILA:

1. Keuangan Yang Maha Kuasa, 2. Korupsi Yang Adil dan Merata, 3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia, 4. Kekuasaan Yang Dipimpin Oleh Nafsu Kebejatan Dalam Persekongkolan dan Kepurak-purakan, 5. Kenyamanan Sosial Bagi Seluruh Keluarga Pejabat dan Wakil Rakyat. Semboyan: ‘BERBEDA-BEDA SAMA RAKUS’.

Postingan itu membuat Sahat Gurning mendadak terkenal dan menjadi bahan pemberitaan di Tanah Air sampai hari ini. Dan pada tanggal 12 April 2016 lalu Sahat Gurning ditangkap di rumahnya di Sosorladang Desa Tangga Batu I Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Tobasa bersama dua orang temannya (Resman Frengky Manurung dan Kamal Sikumbang), serta dimintai keterangan oleh pihak Polres Tobasa.

Ini terkait dengan postingan-postingannya di akun facebooknya (Sahat S Gurning), diduga keras melakukan tindak pidana kejahatan terhadap Lambang Negara Republik Indonesia. Dan berujung didakwakan dengan: 1. Mencoret, menulisi, menggambari atau membuat rusak lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan lambang negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 68 Undang-Undang (UU) RI Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Dan kemudian pada tanggal 13 April 2016 Sahat Gurning ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Ruang Tahanan Mapolres Tobasa hingga 20 hari. Kemudian dipindahkan ke Rutan Klas 2B Balige pada tanggal 3 Mei 2016 hingga ‘Putusan Sela’ Pengadilan Negeri (PN) Balige pada tanggal 3 Agustus 2016 dan dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Berdasarkan hasil persidangan, dinyatakan terbukti dengan sah dan meyakinkan melakukan tindakan kejahatan terhadap lambang negara. Terdakwa (Sahat Gurning) dituntut 2 tahun 6 bulan pidana penjara. Dan pada Senin 13 Februari 2017 Sahat Girning masih disidangkan, yang ke 22 dengan agenda pembacaan Pledoi. Dan dimuat di akun facebooknya isi pleodinya, yang mana tetap menuntut Pancasila Segera diwujudkan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

"Dipenghujung pledoi ini saya tegaskan bahwa saya tetap pada pendirian saya. Dan menuntut Pemerintah Republik Indonesia segera wujudkan Pancasila dalam tempo yang sesingkat-singkatnya! Kembalikan hak-hak Masyarakat Adat, revolusi agraria, pengakuan administrasi kependudukan Penghayat Kepercayaan, miskinkan dan tembak mati koruptor, dan segera laksanakan Ekonomi Pancasila!! Terimakasih, Salam Juang. Merdeka..!! Balige, 13 Februari 2017 TTD Sahat S Gurning (kutipan pledoi Sahat Gurning).

Sahat Gurning juga memaparkan Lima Dasar PANCAGILA nyata yang masih tetap berjalan di Negara Republik Indonesia. PANCAGILA1. Keuangan Yang Maha Kuasa2. Korupsi Yang Adil dan Merata3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia4. Kekuasaan Yang Dipimpin Oleh Nafsu Kebejatan Dalam Persekongkolan dan Kepurak-purakan.5. Kenyamanan Sosial Bagi Seluruh Keluarga Pejabat dan Wakil Rakyat.Semboyan: BERBEDA-BEDA SAMA RAKUSPancagila dalam pengertiannya sebagai dasar adalah Lima Kegilaan yaitu: Gila Uang, Gila Korupsi, Gila Hukum, Gila Kekuasaan dan Gila Kenyamanan. Pancagila bila diperas intinya menjadi Trigila yakni: Keuangan-Kekuasaan-Kepuasan. Dan bila diperas lagi, Intinya adalah ‘’KEMUNAFIKAN atas PANCASILA’’. PANCAGILA dalam praktiknya melahirkan watak-watak Pendusta, Penipu, Korup, Penjilat, Penindas, Kacung, Pembeo dan Binal.

Sangat berbeda dengancita-cita luhur PANCASILA.PANCAGILA adalah kesimpulan dari seluruh persoalan atas pelaksanaan PANCASILA dan kelima isinya beserta semboyannya adalah Fakta dan Nyata. Bukankah PANCASILA pedoman dan cita-cita Negara kita atau memang benar PANCAGILA?

"Kita jangan munafik menjawabnya dan jangan pula merasa tersindir bahkan merasa tersungkur bila otokritik tersebut ditujukan kepada para penyelenggara negara yang notabene jabatannya dan dinasnya itu adalah amanah Konstitusi Negara Republik Indonesia yang berdasar PANCASILA," pungkasnya

Penulis: Jhonri Gultom. Editor: aan.