HETANEWS

Bupati Asahan Bantah Menggusur, Pedagang Protes

Para pedagang berkumpul di Kantor DPRD Asahan. (foto : Heru)

Asahan, hetanews.com - Bupati Asahan Taufan Gama Simatupang mengatakan pedagang yang menggunakan badan jalan sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dan badan jalan di seputaran Kota Kisaran tidak digusur tapi ditertibkan 

Senin (13/2/2017), Taufan Gama membantah jika surat edaran kepada para pedagang berjualan di sepanjang Jalinsum yang dimulai dari Tugu Selamat Datang Asahan hingga Tugu Selamat Jalan, serta di seputaran badan jalan Kota Kisaran adalah penggusuran.

“Kita tidak menggusur tapi menertibkan para pedagang yang sudah melewati batas batas ketentuan yang pemerintah keluarkan,” ungkap Taufan.

Bupati menuturkan, pihaknya sudah memberitahukan bahwa tempat berdagang harus terbuka dan menjual kuliner di kawasan yang telah ditentukan bukan sembarangan.

“Aturan yang kita terapkan ini dilanggar para pedagang. Coba lihat tempat pedagang dibangun permanen bahkan tertutup seperti rumah. Lalu dagangan yang diperdagangkan sudah tidak lagi kuliner justru kaset CD, barang bekas dan makan kering, bahkan dijadikan tempat maksiat namun bermodus berjualan kuliner,” paparnya. 

Surat edaran penertiban para pedagang.  (foto: Heru)

Lanjutnya, penertiban dilakukan agar sepanjang jalan lintas yang masuk wilayah Asahan maupun jalan perkotaan tidak kumuh.

Secara terpisah, salah satu pedagang Agus Tua kepada hetanews saat mendatangi Kantor DPRD Asahan, Senin (13/2/2017) membenarkan ada menerima surat peringatan akan batas waktu sampai tanggal 14 Februari 2017. Apabila melewati akan dilakukan pembongkaran paksa bahkan barang dagangan disita.

“Kami ini berdagang bukan untuk kaya hanya memenuhi kehidupan sehari-hari. Kalau mau menggusur sediakan lahan untuk kami kembali menyambung hidup pedagang pinggiran,” paparnya.

Agus yang berdagang makan ringan di daerah badan jalan sekitar Stadion Mutira ini menuturkan, dulu sewaktu Taufan mencalonkan diri sebagai Bupati periode 2015 -2010, masih diingatnya tidak akan menggangu pedagang kecil seperti mereka.

“Loh kok malah di periode kedua kami digusur. Apa karena sudah yang kedua kali dan periode mendatang tidak bisa dipilih lagi lalu suka-sukanya menggusur kami. Memang semua manis di mulut saja. Pro rakyat hanya jadi bahasa khiasan bagi kami masyarakat awam ini,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Ruminta, seorang pedagang es tebu. “Kami jualan cuma untuk makan, terkadang kebutuhan anak-anak sekolah saja kurang kok malah digusur lagi. Apa gak ada hati nurani pak Taufan ini,” ujarnya.

Dirinya juga tidak memahami akan aturan yang telah ditetapkan Pemkab Asahan terkait daerah larangan untuk menempati kawasan yang dijadikan tempat berdagangnya.

Penulis: heru. Editor: aan.