HETANEWS.COM

Warga Gang Puri Terindikasi Terima 'Upeti' dari UH, Terlibat Bisnis Narkoba

Belasan orang yang diamankan dalam penggerebekan di Gang Puri oleh petugas gabungan BNN Siantar dan Kodim 0207/Simalungun, Kamis (9/2/2017). (foto : Lazuardy Fahmi)

Siantar hetanews.com - Sejumlah warga yang bermukim di Jalan Tanah Jawa Gang Puri, Kelurahan Melayu, Kecamatan Siantar Utara, Kota Siantar terlibat terima 'upeti' dari inisial UH, disebut-sebut bandar narkoba yang lolos dari kejaran petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Siantar dan Kodim 0207 Simalungun, Kamis (9/2/2017). 

Demikian disampaikan salah seorang pria yang meminta namanya tidak dituliskan, Jumat (10/2/2017). Setelah penggerebekan itu terjadi, terungkap jika selama 4 tahun sebelumnya, Gang Puri merupakan tempat transaksi jual beli narkoba.

Keluar masuknya narkoba serta bebasnya mencicipi barang illegal di tempat itu, warga setempat awalnya menjadi takut dan resah. Akan tetapi, keresahan warga kian berubah setelah aparat penegak hukum dinilai tak cekatan membrantasnya.

"Orang-orang di gang itu seakan mengerti kalau bandar narkoba disitu bisa mengamankan aparat. Sempat tersiar, bandarnya bilang kalau ada oknum-oknum aparat yang sudah diamankan," ungkap pria yang bermukim di sekitar Gang Puri ini.

Seiring berjalanya waktu, dari transaksi narkoba yang 'tersembunyi' hingga terang-terangan, sehingga warga Gang Puri pun menganggap pemukiman yang dihuni lebih dari 50 Kepala Keluarga (KK) itu menjadi kawasan 'kebal hukum'.

Sebagian warga dan bandar narkoba akhirnya 'mendekat', serta melakukan pekerjaan  yang menguntungkan satu sama lain. Bahkan bandar narkoba yang dikenal dengan inisial UH itu mau menyuplai finansial (keuangan) kepada ibu- ibu rumah tangga.

Misalnya saja memberikan uang kontan kisaran Rp 50-100 ribu sebagai uang transport dan memberikan uang belanja hingga kebutuhan bulanan rekening listrik dan air. Keseluruhan 'upeti' itu diberikan kepada ibu-ibu sebagai 'keamanan' atas bisnis narkobanya.

"Sebagian ibu-ibu sudah menerima hasil dari narkoba, uang belanja per hari, uang minyak, uang listrik dan air dari bandar yang sudah dikondisikan. Ada juga yang bulanan," lanjut pria yang mengenakan baju garis-garis ini.

Oleh karena itu, aktifitas peredaraan narkotika dari jenis sabu hingga ganja berubah menjadi 'silence operation' aman tertib dan sangat terkondisikan. Beberapa tahun kemudian, warga yang sudah mengetahui aktivitas transaksi narkoba tersebut, satu per satu melibatkan diri ikut menjadi anggota 'geng' yang menadah atau kurir narkoba.

"Disana bandarnya melarang penjualnya memakai. Jadi tak sedikit warga situ nyari uang masuk dari narkoba. Bahkan tempat itu aman, gak ada kibus (pemberi informasi). Ikut juga warga yang membantu karena orang itu juga dapat 'bagian'," ungkap pria yang mengaku tak semua warga Gang Puri terlibat dengan perjanjian haram itu.

Setahun belakangan ini, aktifitas pemutaran narkoba tidak terlalu mencolok dan tak sebebas dulu. Saat ini para pecandu datang silih berganti ke gang itu untuk memakai 'barang' yang digemari di Gang Puri.

"Gak sebebas dulu lagi, sudah setahun lah gak bisa lagi pakai narkoba disitu, tapi membeli aja. Kalau ada pun tersembunyi lah," paparnya.

Hal senada pun disampaikan Novita (28) gadis berkulit putih yang tinggal di Jalan Tanah Jawa, Kelurahan Melayu ini mengatakan, 2 tahun sebelumnya, persisnya di depan kios miliknya, sempat'menyaksikan aksi sekelompok anak muda Gang Puri yang menghalang-halangi petugas saat melakukan penangkapan.

"Kalau Gang Puri itu terkenal, dulu sempat ada penangkapan disitu. Saya lihat banyak anak-anak muda keluar dari situ memukul seseorang sepertinya oknum polisi," cerita gadis yang mengetahui peristiwa penggerebekan tersebut lewat media.

Terkondisikanya warga Gang Puri untuk 'mengaburkan' peredaran narkoba di tempat itu oleh UH beserta kelompotanya terbukti, ketika LG anak dari Ketua RW 02 ikut dibonyong petugas saat melakukan penggerebekan. "Ketua RW Karsiwan, rumahnya disitu, anaknya saja dibawa," sebutnya

Menanggapi hal itu, Lurah Melayu, Makdin Sagala, yang ditemui di kantornya hanya berjarak kurang lebih 500 meter dari Gang Puri, mengakui tidak mengetahui sama sekali adanya kejadian yang berlangsung selama bertahun-tahun tersebut.

"Saya tidak tau itu. Saya memang sering kesana tapi, orang-orang situ biasa-biasa saja," terang Makdin.

Kata Makdin, dirinya sama sekali belum pernah menerima keluhan warga terkait maraknya aktifitas illegal tersebut. Sambungnya, saat terjadi penggerebekan kemarin, dia hanya mengetahui dari media saja.

"Gak ada informasi sebelumnya ke saya pas penggerebekan. Saya tau dari media," ujar Makdin yang menjabat selama 10 tahun di Kelurahan Melayu ini.

Dirinya pun menghimbau kepada warga setempat, jika ditemukan peredaran narkoba agar segera diinformasikan kepada pihak Kelurahan. Tambah Makdin, pihak Kelurahan siap melakukan sosialisasi bahaya dan penanggulangan narkoba apabila ada program khusus yang melibatkan kerja sama dengan kelurahan.

Amatan hetanews, sehari setelah penggerebekan, kondisi pemukiman warga di Gang Puri sekira pukul 11.25 WIB berlangsung dengan aman dan kondusif. Warga setempat menjalankan aktifitasnya masing-masing. Tak ada terlihat warga berkumpul atau resah setelah penggerebekan kemarin.

Penulis: gee. Editor: aan.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!