HETANEWS

Kakek Poniran sudah Tambal Jutaan Ban Bocor

Kakek Poniran saat menempel ban sepeda motor yang bocor. (foto : Huget)

Siantar, hetanews.com - Usia muda adalah masa produktif yang  memiliki segudang kesempatan untuk melakukan hal yang terbaik di masa  depan.

Di saat itu pula kadang seseorang meraih era keemasan dan jatuh bangun yang luar biasa. 

Seperti sepenggal certa dari Poniran (67). Di usia lanjut, Poniran masih tetap melakukan pekerjaan sebagai penambal ban bocor di depan rumahnya di Jalan Sibatu batu Block II, Kelurahan Bah Sorma, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Siantar.

Dengan segala keterbatasan, kakek 5 orang cucu ini masih mengandalkan segudang pengalaman sebagai penambal ban yang digelutinya selama 37 tahun.

Cerita Poniran, di masa mudanya pernah mengabdi sebagai seorang tentara yang bertugas di daerah terpencil. Kemudian, meninggalkan profesi itu dan bekerja sebagai pengurus Koperasi Perkebunan (sekarang PTPN).

Tidak puas bekerja sebagai pengurus koperasi, duda 3 orang anak itu memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta. 

Di sana, Poniran tinggal dan menetap selama beberapa tahun dan bekerja di sebuah bengkel. Ia pun menggali ilmu mesin dan keahlihan khusus menambal ban. Sebagai sampingan, Poniran  menjadi agen sepeda motor bekas dan barang barang bekas  yang menghasilkan pemasukan yang lumayan. 

Singkat cerita, Poniran akhirnya pulang ke kampung halaman berkat bujukan dari saudara laki-lakinya. Setelah kembali ke Siantar, Poniran muda masih kerap bersenang-senang menikmati hidup serba glamour yang trend di zamannya.

Bumi pun berputar, Ponirin pun mengalami dinamika kehidupan yang luar biasa. Ia pun terpuruk dan harus bangkit lagi.

"Usia 30 an saya pernah terpuruk. Setelah gak ada lagi modal, saya punya cita-cita jadi tukang tempel ban. Saya lihat tukang tempel ban, ngisi angin saja sudah dapat uang," cerita Ponirin sembari tertawa kecil.

Di saat itu pula, Poniran bergerak dari keterpurukan dan bangkit dengan prinsip serta keterampilan yang dimiliki dan bekerja sebagai penambal ban.

Pada tahun 1981, kata Poniran, dirinya memulai pekerjaanya di Terminal Sukadame, Parluasan, Kecamatan Siantar Utara.

Selama 10 tahun menambal ban truk, kontainer sampai mobil mewah, Poniran pindah dan beroperasi di Jalan Wahidin Kota Siantar. Selama 7 tahun di sana, Poniran akhirnya membuka usaha tempel ban sendiri di rumahnya yang saat ini sudah berjalan selama 10 tahun. "Kalau dihitung hitung saya sudah nempel puluhan juta ban bocor," candanya.

Bekerja sebagai penambal ban, Poniran dengan kegigihanya berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga sarjana. Untuk saat ini, Poniran masih menanggung biaya anak bungsunya yang sedang duduk di bangku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kota Medan.

Bagi Poniran, cita-cita sederhananya sudah terwujud. Ia juga berbangga hati ketika orang yang dilatihnya sebagai penambal ban sudah berhasil membuka usaha sendiri.

"Ada 2 orang yang belajar. Bagi saya, orang yang punya niat dan kemauan saja sudah cukup. Sekarang orang itu sudah buka usaha tambal ban sendiri. Satu di Jakarta dan 1 lagi di Simpang Tangsi, Kecamatan Tanah Jawa," katanya.

Lanjutnya, saat ini, para penambal ban hanya mengandalkan modal dibandingkan pengalaman. "Saat ini orang punya uang langsung buat usaha tempel ban,  Tapi sebenarnya yang perlu pengalaman. Orang nempel  yang bocor-bocor saja tapi belum tentu tau apa penyebabnya (bocor)," ujarnya.

Saat ini, usaha yang digeluti Poniran memang tak semaksimal dulu. Sore hari, bengkel tempel banya sudah tutup, tidak  seperti beberapa tahun sebelumnya. Untuk menempel ban sebanyak 20 buah dalam sehari, dirinya sudah letih ditambah pandangannya yang semakin rabun. Namun, hasil tempelan Wak Ponirin tak pernah diragukan.

Penulis: gee. Editor: aan.