Siantar,  Proses eksekusi milik mantan Wali Kota Siantar, Robert Edison (RE) Siahaan di Jalan Sutomo No 10, Kelurahan Proklamasi, Kecamatan Siantar Barat nyaris ricuh, Jumat (30/12/2016).

Hal ini karena pihak keluarga dari RE Siahaan meminta agar eksekusi dibatalkan karena mereka juga memiliki surat bahwa rumah tersebut bukan sebagai objek sengketa sitaan atas kasus korupsi yang menimpa mantan Wali Kota Siantar tersebut.

Begitu juga dengan pihak pemohon yakni Esron Samosir sebagai pihak pemenang lelang rumah itu. Ia tetap bersikeras untuk dilaksanakan proses eksekusi.

Tampak di lokasi, Kabag Ops Polres Siantar, Kompol Faidil, Juru Sita Pengadilan Negeri (PN) Siantar, anggota DPRD Siantar, Henri Dunan dan Lurah Proklamasi, Runei Purba.

.Esron Samosir ( baju merah ) pemenang lelang atas rumah RE Siahaan yang berada di Jalan Sutomo. (foto: Lazuardy Fahmi).

Proses ini nyaris ricuh karena pihak termohon maupun pemohon memiliki surat keabsahan atas kepemilikan rumah itu.

Bayu Tampubolon, menantu RE Siahaan, salah satu pihak yang tetap bersikeras menolak eksekusi menunjukkan beberapa berkas bahwa rumah tersebut bukanlah sebagai objek sengketa penyitaan.

"Perkara ini sedang berproses di Bareskrim (Polri). Kita hargai saja proses hukum yang sedang berjalan. Kemudian, ini ada surat dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) bahwa pak RE Siahaan menjalani hukuman tambahan selama empat tahun karena tidak membayar Uang Pengganti (UP)," katanya.

Pihak Pengadilan Negeri Siantar yang akan mengeksekusi rumah RE Siahaan di Jalan Sutomo. (foto: Lazuardy Fahmi).

Kabag Ops, Kompol Faidil menegaskan bahwa pihak berada di situ sebagai pihak penengah dan bukan memihak siapapun. "Kami berada di sini sebagai antisipasi terjadi tindak pidana yang lain," tuturnya.

Henri Dunan menyampaikan bahwa pihak termohon meminta toleransi penundaan eksekusi. Namun, Esron Samosir sebagai pihak pemohon menolak tegas permintaan itu.

"Tidak ada, tidak ada (penundaan eksekusi). Kami minta PN (Siantar) konsisten atas putusannya. Karena sudah kita kasi satu minggu (penundaan eksekusi)," tolaknya.

Selvia boru Siahaan, anak dari RE Siahaan tetap berdiri didepan pintu rumah mereka untuk menolak eksekusi itu. "Kami punya surat kalau rumah ini bukan objek sitaan. Foto-foto ya kalau sampai ada pengerusakan. Biar kita laporkan," teriaknya.

Pihak keluarga RE Siahaan saat berdebat dengan Juru SIta PN Siantar. (foto: Lazuardy Fahmi).

Jurusita PN Siantar, Pahala Sirait menegaskan bahwa pihaknya tetap akan melaksanakan eksekusi. "Ini sudah ada penetapan yang ditanda tangani Ketua PN Siantar, Pasti Tarigan. Kami akan tetap melaksanakan eksekusi," katanya.

Setelah ditunda selama satu minggu, eksekusi ini juga ditunda kembali. Namun penundaan ini hanya selama dua jam. Hari ini, pukul 14.00 WIB akan dilanjutkan proses eksekusi.

Baca: (Eksekusi Rumah RE Siahaan Ditunda Seminggu).

Sebelumnya, pejabat Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Siantar, Joslan Nainggolan pada Selasa (3/5/2016) mengatakan, bahwa lelang rumah tersebut berhasil dimenangkan Esron Samosir dengan nilai Rp  6.031.535.000.