HETANEWS

PT Pabrik Es Sebut Tak Larang Karyawan Masuk Organisasi Buruh

Siantar, hetanews.com - Manager PT Pabrik Es, Montes Matondang menyebutkan, bahwa pihak manajemen tidak melarang karyawan bergabung ke dalam organisasi Serikat Buruh Solidaritas Indonesia (SBSI). 

Namun, pihak perusahaan masih mempertanyakan legalitas SBSI di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Siantar.

Kepada wartawan, Rabu (14/12/2016) Montes mengatakan, jika pencatatan organisasi buruh tersebut belum diverifikasi oleh pihak perusahaan. Sedangkan di Dinsosnaker, belum diketahui status legalitasnya.

"Sebenarnya dari pihak manajemen bukan melarang. Hanya kepengurusanya masih dipertanyakan legalitas di Dinsosnaker. Karena beda pencatatan Dinsosnaker dan kepada kami berbeda," ujar Montes saat ditemui di PT Pabrik Es, Jalan Pematang, Kecamatan Siantar Selatan.

Terkait dengan beberapa karyawan  PT Pabrik Es yang dipecat dan dimutasi, kata Montes itu akibat kelalaian dan kesalahan dalam menjalankan tugas. Seperti Maruli Sianturi (25), Karyawan yang bertugas di bagian administrasi gudang tersebut dimutasi akibat melakukan kelalaian kerja selama 2 kali.

Lanjut Montes, kelalaian kerja yang dilakukan Maruli, pihak perusahaan menyikapi dengan  tidak memberikan surat peringatan. Ini lantaran Maruli masih memiliki status hubungan keluarga dengan utusan Direksi Sabar Menanti Sinaga. Pemutasian yang dibuat itu pun hal yang wajar dan bertujuan untuk pembinaan karyawan.

"Perusahaan ini perusahaan kekeluargaan. Sabar Sinaga utusan direksi. Karena keluarga, saya tidak tega membuat surat peringatan tertulis. Karena itu, diketahui manajemen kemudian dimutasi untuk dibina. Berhubung Sabar Sinaga yang masukkan Maruli ke tempat kerja ini. Mereka masih punya hubungan keluarga. Karena saya masih segan dengan Sabar Sinaga, jadi saya juga lalai," katanya.

Di tempat yang sama, Sabar Sinaga sebagai utusan Direksi PT Pabrik Es membenarkan hal tersebut. Kata Sabar, tidak ada intimidasi kepada Maruli. Menurutnya, Maruli dimutasi untuk pembinaan.

"Mengenai dimutasi dia (Maruli) ke turbin, kan tidak mungkin orang yang tidak mengetahui listrik dibuat bekerja listrik. Kan yang bekerja di turbin harus orang profesional. Sama saja saya merusak kinerja perusahaan ini. Maksudnya dia dipekerjaan sebagai petugas kebersihan di turbin itu. Gak mungkin anak saya saya binasakan, semoga dia sadar. Sedangkan yang masukkan dia pun saya," sebut Sabar.

Persoalan antara Maruli dan Sabar kini sudah diselesaikan secara kekeluargaan disaksikan oleh personel Babinkantibmas Polsek Siantar Selatan dan Lurah Simalungun, Minar Sinaga.

"Masalah pengancaman sudah diselesaikan secara kekeluargaan dan tertulis. Semalam sebelumnya sudah diselesaikan tapi secara lisan," kata Sabar.

Montes juga menjelaskan, bahwa penambahan jam kerja karyawan di perusahaan yang memproduksi minuman cap Badak itu digantikan dengan intensif dari penilaian jam kerja karyawan di masing-masing departemen.

"Kami ambil kebijakan. Di pos satpam, departemen mesin dan departemen es mereka tetap diberikan penilaian kerja dan  diberikan intensif. Jam kerjanya pun tidak terlalu banyak hanya 2 jam kerja saja dan kami anggap loyalitas kerja dan dibuat penilaian," kata Montes.

Di tempat berbeda, Ketua SBSI Kota Siantar, Ramlan Sinaga mengatakan, verifikasi organisasi buruh bukan urusan perusahaan.

Menurutnya, organisasi buruh di perusahaan dilindungi dan dijamin oleh Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2010 tentang Buruh.

"Secara administrasi kita sudah terdaftar. Jika perusahaan meminta, kita akan perbaiki administrasi. Dan kalau ini dihalang-halangi kami akan melakukan pengaduan sampai berunjuk rasa. Karena karyawan itu anggota kami yang diintimidasi," tutupnya

Penulis: gee. Editor: aan.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.