HETANEWS.COM

Di Siantar Penderita HIV dan AIDS Meningkat Setiap Tahunnya

Aksi simpatik para pegawai Dinas Kesehatan (Dinkes) Siantar.

Siantar,hetanewa.com - Memperingati Hari AIDS se Dunia yang jatuh pada 1 Desember, ternyata masih banyak penderita HIV dan AIDS.

Parahnya, di Kota Siantar penderita HIV dan AIDS meningkat setiap tahunnya. Rata-rata peningkatan setiap tahunnya mencapai 90 orang penderita.

Kepada wartawan, Kamis (1/12/2016), Esriani Saragih selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Siantar, menuturkan, bahwa sejak tahun 2010 hingga Oktober 2016, penderita HIV dan AIDS di daerah itu mencapai 538 orang.

"Setiap tahun meningkat penderita ini. Peningkatan setiap tahun rata-rata 90 penderita. Data itu kita peroleh dari semua layanan kesehatan termasuk dari rumah sakit swasta," ungkapnya ketika ditemui usai menggelar kegiatan bagi-bagi selebaran yang berisi informasi terkait HIV dan AIDS.

Untuk lokasi penderita HIV dan AIDS yang paling banyak di Kota Siantar, Esriani mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat merincinya.

"Yang paling banyak di Siantar itu kita nggak tau. Karena banyak penderita HIV dan AIDS yang tidak mencatumkan domisilinya ketika menjalani pemeriksaan ataupun pengobatan," lanjutnya.

Terkait banyaknya penderita HIV dan AIDS itu, kata Esriani, salah satu penyebab utamanya adalah penggunaan narkoba dengan menggunakan jarum suntik secara bergantian.

Untuk itu, Esriani mengatakan, bahwa pihaknya sudah menyediakan layanan pengobatan dan pemeriksaan di beberapa layanan kesehatan seperti RSUD Djasamen Saragih dan Puskesmas Tomuan, Puskesmas Kartini, Puskesmas Karo, Puskesmas Ksatria dan Puskesmas Martoba.

"Sudah lengkap semua. Di Puskesmas Tomuan dan RSUD sudah bisa periksa sekalian pengobatan. Ada namanya layanan Care Support Treatment (CST) dan Voluntary Counseling Test (VCT) untuk penderita HIV dan AIDS," jelasnya.

Ditanya apakah penderita HIV dan AIDS dapat sembuh, Esriani tidak membenarkannya. "Kalau sembuh nggak, tapi bisa bertahan hidup. Harus rajin melakukan pemeriksaan, pengobatan dan minum Anti Retrovira (ARV) seumur hidup," terangnya.

Dengan semakin meningkatnya penderita HIV dan AIDS, Esriani pun berharap agar pemerintah dapat menambah layanan pengobatan dan pemeriksaan HIV dan AIDS.

"Mudah-mudahan layanan bisa bertambah ke puskesmas yang lain dan di rumah sakit swasta," harapnya.

Masih di lokasi yang sama, Agus Marpaung, Direktur LSM Peduli HIV dan AIDS CBR Foundation, memaparkan bahwa ada beberapa faktor meningkatnya penderita HIV dan AIDS.

"Faktornya adalah meningkatnya pengguna narkoba dengan menggunakan jarum suntik dan digunakan secara bergantian, hubungan seks beresiko yakni gonta ganti pasangan tanpa menggunakan alat pengaman," paparnya.

Menurut Agus, peningkatan itu juga terjadi lantaran banyaknya penderita HIV dan AIDS yang menjalani pemeriksaan. "Semakin banyak yang diperiksa, semakin banyak pula yang ditemukan," ujarnya.

Berbagai upaya pun sudah dilakukan untuk meminimalisir penderita HIV dan AIDS. "Sudah banyak kita lakukan, membuat pelatihan-pelatihan atau penyuluhan tentang pencegahan HIV dan AIDA. Kita juga melakukan tes HIV kepada kelompok berisiko antara lain kepada PSK, waria, homo, pengguna narkoba suntik, ibu hamil dan penderita TBC," ujarnya.

Hal itu, lanjut Agus, dilakukan secara berkesimbungan di Kota Siantar. "Kita bekerjasama dengan beberapa Puskesmas dan RSUD melakukan itu. Penyuluhan setiap bulan dan pemeriksaan setiap minggu kita lakukan," tutupnya.

Penulis: tom. Editor: ebp.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan