Siantar, hetanews.com - Pemadaman listrik di Kecamatan Siantar Martoba dan Siantar Barat telah meresahkan masyarakat setempat, Senin (28/11/2016). Apalagi pemadaman terjadi hingga malam harinya.

Pemadaman listrik di Kecamatan Siantar Martoba terjadi di Kelurahan Naga Pita, Naga Pitu, Tanjung Pinggir dan Pondok Sayur sehingga memberikan rasa ketidaknyamanan bagi warga yang berdomisili di wilayah tersebut.

Hal yang sama juga terjadi di Kelurahan Sipinggol-pinggol Kecamatan Siantar Barat. Pemadaman terjadi dari mulai sore hari dan listrik kembali hidup namun hanya berkisar kurang lebih 1 jam. Pemadaman kembali terjadi sekiara pukul 21.00 WIB.

Hujan menjadi salah satu kesempatan pihak PLN untuk melakukan pemadaman listrik dan terkesan dipaksakan. Ini disebabkan tidak ada sosialisasi dari PLN Rayon PLN Kota Siantar terhadap para pelanggan.

Salah seorang warga di Kelurahan Naga Pita, Saiful Hutapea (48) merasa kesal dengan layanan PLN yang tidak cepat tanggap.

"Layanan gangguan sudah kami telepon tapi tidak angkat. Jadi apa gunanya ada layanan gangguan? Padahal layanan gangguan diswastakan tapi hasilnya nol," ungkap bapak 4 putri ini.

Warga lainnya pun turut mengatakan kekesalannya atas pelayanan PLN. "Lama kali hidup listrik ini dari mulai sore. PLN pun ditelepon tidak angkat, padahal kalau bayar listrik lewat 1 menit saja dari jadwal sudah kena denda" kata Sumiyati (34) ketika hendak membeli jajanan di salah satu warung di sekitar Kelurahan Tanjung pinggir.

Kondisi gelap gulita tampak juga di Kecamatan Siantar Barat. Sayangnya Maneger PLN Rayon Siantar, Laura Nainggolan sulit dihubungi saat akan dikonfirmasi penyebab. Pasalnya nomor kontak telepon selulernya tak dapat dihubungi.

PLN Rayon Siantar dalam hal ini telah melanggar Undang-Undang (UU) Ketenagalistrikan, karena tidak melaksanakan sosialisasi pemadaman listrik terlebih dahulu.

PLN juga terindikasi melakukan pembiaran terhadap pihak ketiga atau vendor seperti PT Bahtera Mayori yang tidak melayani konsumen dengan sepenuh hati.

Hal ini terkesan PLN pun turut dirugikan, karena perusahaan tersebut tidak melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pihak rekanan.