HETANEWS

Proyek Pembuatan Tanaman Model Seremonial RHL Terbengkalai di Tobasa

Kondisi pohon yang ditanam Presiden Jokowi di Desa Parparean I. (foto : Frengki Silitonga)

Tobasa, hetanews.com - Proyek pembuatan tanaman model seremonial Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) tahun 2016 oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung, Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Asahan Barumun, di bibir Pantai Danau Toba, tepatnya di Desa Parparean I, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) terlihat terbengkalai.

Dari plang proyek yang tertancap di lokasi itu, disebutkan jika luas lokasi penanaman pohon tersebut mencapai 7 hektar sebagai tempat penanaman kayu-kayuan dan MPTS yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2106.

Lokasi penanaman pohon di Desa Parparean I. (foto: Frengki Silitonga)

Namun dari pantauan wartawan di lokasi, Kamis (24/11/2016), beberapa pohon yang ditanami sudah mati karena dililit semak belukar. Bahkan sebagian lahan itu kini dikelolah masyarakat dan ditanami jagung.

Mirisnya lagi, pohon durian yang ditanam langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) itu juga tidak diurus. Pohon durian itu terlihat di pagar menggunakan plastik hitam juga sudah dikelilingi semak belukar.

Dari pengakuan warga sekitar, sejak pohon itu ditanam oleh Presiden pada tanggal 20 Agustus 2016, hingga saat ini tidak pernah ada petugas yang datang membersihkan atau merawatnya.

"Nggak tau entah mau jadi apa ini dibuat. Katanya mau ditanami pohon, tapi sampai sekarang nggak ada. Bahkan pohon yang ditanam kemarin sudah mati sebagian," sebut marga Sinambela, salah seorang warga yang ditemui di lokasi.

"Jangankan menjaga atau merawat, pohon yang ditanam Presiden Jokowi saja nggak dirawat dan sudah ditutupi semak-semak itu," lanjut Sinambela.

Plang proyek kegiatan. (foto: Frengki Silitonga)

Pada saat penanaman pohon di Desa Parparean I , Kecamatan Porsea, Jokowi menyerahkan pompa air dan selang masing masing 5 unit yang langsung diberikan kepada Camat Porsea, Elisber Manurung untuk pemeliharaan pohon-pohon yang sudah ditanam.

Sementara pohon-pohon tersebut tidak ada di rawat sampai sekarang dan pompa air nya pun tidak tau entah kemana wujudnya sampai sekarang.

Ketika dikonfirmasi hetanews, Camat Porsea, Elisber Manurung melalui telepon seluler tidak diangkat. Bahkan pesan singkat yang dikirimkan tak dibalas.

Ketua LSM Komunitasnya Pecinta Lingkungan Hidup(Kopelhi), Aristo Panjaitan menyayangkan jika pohon itu tidak dirawat, sementara uang negara sudah habis untuk melaksanakannya. Dirinya mempertanyakan tanggung jawab instansi terkait atas kondisi tersebut.

Penulis: frengki. Editor: aan.