Asahan, hetanews.com - Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke 71 dan Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November mendatang, para pahlawan tanpa tanda jasa di Kabupaten Asahan  gelar tabligh akbar di Mesjid Agung Ahmad Bakrie Kisaran, Rabu (23/11/2016).

Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Bupati Asahan, Surya, bertindak sebagai penceramah Ustad  Aswiluddin Rambe, dihadiri ratusan pelajar sekolah menengah serta guru- guru. HUT PGRI tahun 2016 ini mengambil tema “Membangkitkan Kesadaran Kolektif Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”.

Ketua PGRI Asahan, Malanthon Lahade Hasibuan menyebutkan, pelaksanaan HUT PGRI ke 71 bersamaan dengan menyambut Hari Guru tahun 2016 ini berbeda dengan tahun sebelumnya dan pertama kali dilaksanakan dengan kegiatan tabligh akbar.

“Hal ini dimaksudkan agar guru dan siswa dapat menjalin ukhuwah Islamiyah selaku manusia yang beriman. Melalui kegiatan tabligh akbar ini para siswa dan guru dapat mengambil hikmah dari  tausiah yang disampaikan,” jelasnya.

Wakil Bupati Asahan, Surya dalam sambutannya mengatakan, guru sebagai pendidik yang memberikan pelayanan bagi peserta didik. Dia juga menghimbau kepada para guru agar mendampingi anak dalam menghadapi kondisi yang terjadi di era globalisasi saat ini.

“Adanya pembentukan opini dunia maya yang membawa dampak radikalisme dan hedonisme pada anak. Paradigma ini harus dikendalikan dengan menyelamatkan dan mengamankan anak bangsa melalui guru dan ulama,” harapnya.

Para peserta tabligh akbar. (foto: Heru Sihotang)

Surya menjelaskan, tepat 71 tahun usia PGRI merupakan usia yang matang. Di mana sebagai organisasi profesi, organisasi perjuangan  dan organisasi ketenagakerjaan yang dikenal sebagai jati diri organisasi sejak awal berdirinya tahun 1945. “Peringatan ke 71 PGRI melalui kegiatan tabligh akbar ini untuk memantapkan PGRI sebagai organisasi profesi guru,” sebutnya.

Tausiah yang dibawakan Ustad Aswiluddin Rambe mengatakan, tugas sebagai guru dan orang tua adalah menanamkan nilai-nilai keadilan dalam diri anak, supaya tau letak segala sesuatu dengan betul. Tujuanya supaya anak-anak menjadi beradab. Ia mencontohkannya kisah Nabi dan sahabat dalam hal mendidik anak.

“Melihat beratnya tugas para guru untuk mengajari yang haq dan bathil, mengajarkan menghitung serta menguasai ilmu sosial dan ilmu pasti, juga harus memikul tanggung jawab untuk membesarkan jiwa anak didik mereka dengan ilmu agama. Maka pantaslah guru dinobatkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa,” ungkapnya