HETANEWS

Berbagai Elemen dan Masyarakat Parmaksian akan Demo TPL

Spanduk aksi demo anti PT TPL. (foto : Maria Sitorus)

Tobasa, hetanews.com -Ratusan massa gabungan dari berbagai elemen dan wadah masyarakat seperti Karang Taruna, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Ikatan Pemuda Karya (IPK) didampingi tokoh masyarakat Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosr (Tobasa) akan menggelar unjuk rasa ke kantor PT Toba Plup Lestari (TPL) dalam kurun waktu dua hari kedepan.

Dalam aksinya gabungan dari berbagai elemen ini akan menyampaikan aspirasinya agar PT TPL ditutup, karena selama ini perusahaan yang dulunya bernama PT Inti Indorayon Utama itu tidak pernah peduli akan kelangsungan hidup masyarakat di sekitar, baik tentang limbah, kebersihan lingkungan, pemberdayaan masyarakat sekitar terkait perekrutan karyawan dan rekanan perusahaan demi pemeliharaan berbagai aspek pembangunan di daerah itu.

Massa akan menuntut agar TPL berhenti beroperasi, karena merusak ekosistim sekitar terkait pengerusakan lingkungan akibat yang ditimbulkan limbah industri perusahaan tersebut.

Ketua Karang Taruna Desa Pangombusan Prengki Manurung bersama Ketua Karang Taruna Leo Marpaung menyatakan, aksi yang akan digelar adalah penuntutan hak masyarakat untuk mendapatkan keadilan di daerah itu. Keduanya mengatakan, pengerusakan alam dan ekosistem akibat limbah TPL menjadi ancaman kelestarian lingkungan hidup, sehingga menimbulkan kesengsaraan kelangsungan hidup generasi mereka.

"Kami tidak mau generasi kami kedepan tidak memiliki prospek masa depan akibat ulah TPL. Lihat saja debu sepanjang pemukiman warga yang dilalui armada PT TPL setiap hari menyisahkan kotoran debu yang menempel pekat di seluruh rumah warga. Itu akan menimbulkan gangguan pernafasan seperti infeksi saluran Pernafasan Akut (ISPA)',ujar Prenki diamini sejumlah warga sekitar, Minggu (30/10/2016).

Bukan hanya itu saja, Ketua PAC KNPI Parmaksian, Marojahan Sitorus alias Bangkit juga menyesalkan sikap TPL yang tidak peduli akan keadaan para petani yang terkena musibah akibat limbah perusahaan, sehingga mengakibatkan tanaman dan hasil pertanian warga rusak serta tidak layak komsumsi.

Menurut Marojahan, lahan persawahan memutih akibat limbah dan sumur umum sebagai sumber air bersih tercemar, sehingga masyarakat enggan menggunakannya. Hewan peliharaan seperti kerbau, sapi dan lembu tidak mau makan rumput yang terkena limbah TPL, karena rasanya sehingga berdampak terhadap kondisi ekonomi warga sekitar mati suri.

Sementara Ketua PAC IPK Parmaksian, Maruli Hasibuan membenarkan pencemaran lingkungan akibat limbah industri TPL. Dikatakan Maruli, perusahaan tersebut secara perlahan "membunuh" kelangsungan hidup regenerasi serta ekonomi di daerah itu, mengingat mata pencaharian masyarakat mayoritas petani.

Jika tanaman tidak menghasilkan, Maruli memastikan amarah masyarakat tidak terbendung. TPL seolah tutup mata melihat kondisi pertanian yang semakin memburuk akibat anjloknya hasil pertanian yang terkena pencemaran limbah perusahaan tersebut.

Di samping itu, TPL juga menutup lowongan pekerjaan bagi putra daerah yang seharusnya mengutamakan yang tinggal di sekitar perusahaan dan lebih memperhatikan kebersihan maupun kenyaman hidup di Kecamatan Parmaksian.

"Banyak masyarakat terkena sakit akibat pencemaran udara dari teropong uap limbah TPL atap rumah cepat usang. Ini menimbulkan keresahan dan kekecewaan masyarakat karena mengakibatkan penyakit pernapasan dan yang lainnya," sebut Maruli.

Hal senada ditegaskan Riduan Situmorang selaku Tokoh Pemuda Desa Pangombusan Kecamatan Parmaksian. Menurutnya, TPL harus segera angkat kaki dan ditutup sebab sangat mengganggu kelangsungan hidup masyarakat.

Riduan menambahkan, TPL telah menciptakan konflik horizontal di antara masyarakat. Dalam hal ini pemerintah diminta jangan abstain, namun bertindak tegas kepada perusahaan yang telah merusak dan meresahkan Tanah Batak.

"Kasus ini sudah berulang dan banyak masyarakat gagal panen, TPL telah merusak dan menghancurkan ekonomi masyarakat sekitar termasuk keindahan Tanah Batak. Diyakini TPL salah satu penghambat program Otorita Danau Toba," pungkasnya.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Parmaksian, Erwin Sitorus menyatakan, aksi demo ini ditandai dengan membakar ban demonstrasi perdana ratusan pendemo akan turun ke jalan. Dan jika TPL tidak mengindahkan tuntutan pendemo dipastikan jumlah pendemo akan lebih besar lagi bahkan dikhawatirkan kemarahan massa tidak dapat dibendung.

"Untuk itu kami meminta agar aparat hukum berdiri tegak, jangan berpihak kepada pengusaha. Kami berharap aparat hukum bisa berlaku adil dan berpihak akan kepentingan masyarakat dan bukan berpihak ada kepentingan pengusaha," katanya mengakhiri.
 

Penulis: sitorus mel. Editor: aan.