HETANEWS

Diskominfo Sumut dan Humas Pemko Siantar Gelar Sarasehan Sumpah Pemuda 

Kadiskominfo Sumut, Fitriyus memberikan pemaparan didampingi Plt Kabag Humas Pemko, Jalatua Hasugian dan Kepsek SMAN 3, Hinsa Simatupang. (foto : Humas Pemko)

Siantar - Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke 88 tahun 2016 dengan tema Pemuda Indonesia Menatap Dunia ini, digagas  untuk mengimplementasikan generasi muda yang memiliki kualitas integritas tinggi, kapasitas keahlian dan intelektual serta karakter kepemimpinan yang profesional. 

Komitmen ini berpedoman pada nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan melalui sebuah manifestasi sikap generasi muda Indonesia untuk mengisi serta menjawab berbagai peluang dan tantangan bangsa Indonesia saat ini dan yang akan datang. “Pemuda Indonesia harus mempersiapkan diri sejak dini dalam rangka melanjutkan cita-cita Pemuda yang bersumpah 88 tahun yang lalu.” 

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumatera Utara, Fitriyus, saat membuka Sarasehan dan Diskusi Panel bertopik “Pemuda Indonesia Menatap Dunia” bagi kalangan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Jalan Pane, Jumat siang (28/10/2016) didampingi Kepala Sekolah (Kepsek) Hinsa Simatupang. 

Nara sumber pada kegiatan yang digelar Diskominfo Pemprovsu bekerjasama dengan Pemko Santar ini adalah Kristian Silitonga, pemerhati sosial dan aktivis Studi Politik dan Otonomi Daerah (SOPO) serta Jalatua Hasugia selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kabag Humas PemkoSantar yang juga Staf Pengajar FKIP Universitas Simalungun.  

Menurut Kristian, peringatan HSP tahun 2016 ini digagas  untuk mengimplementasikan generasi muda yang memiliki kualitas integritas tinggi, kapasitas keahlian dan intelektual serta karakter kepemimpinan yang profesional.

Komitmen ini berpedoman pada nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan melalui sebuah manifestasi sikap generasi muda Indonesia untuk mengisi serta menjawab berbagai peluang dan tantangan bangsa Indonesia saat ini dan yang akan datang. 

Kristian menilai, pesatnya kemajuan teknologi informasi pada sisi lain menjadi tantangan bagi anak-anak muda sekarang untuk berfikir kreatif tetapi malah instan. Karena semua tersedia di internet, hal ini berpengaruh luas terhadap pola fikir dan cara bertindak kaum muda, yang sangat bergantung pada  perangkat teknologi. 

“Ketinggalan handphone (HP) saja saat pergi ke sekolah siswa SMA sekarang sudah kalang kabut. Ironisnya, siswa lebih bisa berhemat untuk bisa beli pulsa ketimbang peralatan sekolah,” katanya. 

Meski demikian, menurut Jalatua Hasugian, dalam kondisi yang memprihatinkan saat ini karena citra bangsa Indonesia tengah tercoreng oleh persoalan korupsi, maraknya pungli, kemiskinan, pengangguran, narkoba bahkan terorisme dan primordialisme harus tetap disikapi secara arif. Harus diakui, kesenjangan pendidikan juga menambah kian beratnya beban bangsa untuk berkembang pesat.

“Putus asakah kita? Tentu tidak! Kompleksnya problem bangsa ini bukan jadi alasan bagi generasi muda untuk berpangku tangan dan berhenti beraktivitas, apalagi pesimis terhadap masa depan Indonesia. Tetapi para siswa harus menjadikan kondisi saat ini sebagai refleksi dan cambuk guna memperbaiki keadaan kedepan dengan belajar keras sesuai dengan proses yang ada,” sebut Jalatua.

Penulis: tom. Editor: aan.