Siantar, hetanews.com - Salah satu kedai kopi di Jalan Gereja, Kecamatan Siantar Selatan, Kota Siantar ada keramaian dan kerumunan massa.

Kondisi ini nyaris membuat aktifitas lalu lintas di sekitar terganggu. Lokasi ngopi yang akrab dengan sebutan ‘Simpang Opat’ ini, Senin (24/10/2016) ternyata didatangi sosok pengacara yang namanya membooming setelah kasus kopi bersinaida dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso. Otto Hasibuan pria asli kelahiran Siantar ini ternyata sedang asyik menjawab pertanyaan segerombolan wartawan.

Sembari menjawab sejumlah pertanyaan awak media, Otto bercerita sedikit masa lalu dan sejumlah pengalamanya selama tinggal di Kota Siantar. Masa kecil di Siantar, pria kelahiran tahun 1955 ini pernah tinggal di dua rumah yang berbeda alamat. Yakni di Jalan Sutomo dan Jalan Tarutung. 

Siantar yang menjadi kota kelahiran membuat dirinya tidak lupa akan alun-alun kota yang menyimpan sejuta kisah di masa lalunya. Pengacara Jessica ini mengakui, belum ada perubahan yang mencolok sejak dirinya melangkahkan kaki meninggalkan kota kelahiranya itu. “Saya belum melihat ada perkembangan yang siknifikan dikota siantar,” ujar Otto.

Siantar dalam waktu dekat ini akan segera melaksanakan pesta demokrasi yang sempat tertunda hingga 10 bulan lebih lamanya. Walau demokrasi di Siantar sedang diuji, Otto menyarankan agar masyarakat mencari sosok pemimpin yang memiliki hati. 

Menurut pengacara senior ini, seluruh elemen yang ikut berpartisipasi dalam memajukan Siantar. Otto menuturkan, masyarakat dan Pemko Siantar harus memprioritaskan dan mengandalkan hati nurani.

“Ini kota saya dan kota kelahiran. Saya berprinsip, tidak perlu banyak teori. Saya mendukung seluruh calon, tapi memilih yang terbaik. Semuanya adalah anak Siantar, pilihlah Calon Wali Kota dengan hati agar wali kota nya juga bekerja dengan hati,” kata Otto.

Advokat yang disambut dengan senyum dan rasa bangga dan decak kagum beberapa warga yang menyaksikan, ternyata disambut lebih hangat oleh beberapa Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota. 

Otto yang masih menjawab segudang pertanyaan pertanyaan wartawan, tiba-tiba disambut dan didatangi Calon Wali Kota Teddy Robinson Siahaan (TRS) beserta tim pemenangan yang keluar dari mobil hitam.

Keduanya begitu kompak dan duduk satu meja. Begitu Calon Wali Kota yang akrab disapa TRS itu hadir, membuat suasana kedai kopi semakin riuh dan ramai.   

Perbincangan seputaran dukungan terhadap Calon Wali Kota yang akan memenangkan pertarungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 16 November nanti sampai soal money politik yang menjadi ‘racun tanpa penawar’ pun dibicarakan di warung kopi tersebut.

Kesempatan untuk mengabadikan momen tidak kalah dan tak bisa luput dari sebagaian warga yang berada di lokasi. Mereka berpeluang untuk berselfie dengan Otto.

Di tempat yang sama, Calon Wali Kota Hulman Sitorus dan Wakil Wali Kota Hefriansyah beserta tim tampak dari kejahuan berjalanan beiringan dari arah Jalan Porsea menuju lokasi warung kopi yang sedang dikunjungi Otto. Sontak aplause dan teriakan-terikan kecil bergemuruh.

“Bak dua petinju yang masuk dalam ring,” ujar seorang pria berkemeja garis-garis yang wajahnya begitu berbinar-binar saat Calon Petahana itu datang .  

Tampak Hulman tersenyum sedikit tertawa ketika menyapa Otto. Salam hingga pelukan pun dilakukan. Tidak kalah, TRS pun ikut menyambut kedatangan pasangan ‘Manis’ itu dengan salam erat. 

Sebelum Otto bergegas meninggalkan lokasi, Hulman mengambil kesempatan untuk mengajak Otto untuk duduk dan bercengkrama sejenak. Ketiganya pun duduk sama. Tidak begitu lama, ketiganya menyempatkan diri untuk mengabadikan momen langka tersebut untuk berfoto dan berfoto secara bergilir.

Di Siantar, kedai kopi merupakan sarana kuat untuk berkonsolidasi. Kedai kopi merupakan medium dalam politik untuk memberikan dukungan (support) dan juga tuntutan (demands). Kompetisi politik yang sehat akan membentuk figur-figur yang beretika serta sikap sikap etis pula. Wajar di Siantar ini sederet elektabilitas tidak terlalu penting dibanding popularitas.