HETANEWS

Dari Celana Dalam Bekas Hingga Boikot Pilkada Siap Dilakukan Kaum Ibu Perwiritan

Massa pendukung pasangan Surfenov Sirait dan Parlin Sinaga memberikan pakian dalam wanita sebagai kado untuk komisoner KPUD Siantar, Rabu (12/10/2016). (foto : Lazuardy Fahmi).

Siantar, hetanews.com - Setelah empat hari melakukan aksi demo, sejak hari Jumat (7/10/2016) lalu hingga Rabu (12/10/2016), pendukung pasangan yang dikenal dengan Salam Lima Jari, masih terus melakukan aksi demo ke Kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Siantar, Jalan Porsea Kecamatan Siantar Barat.

Aksi demo kali ini pendukung "menghadiahi" KPUD Siantar celana dalam wanita bekas, tanda kekesalan mereka karena calon yang mereka dukung telah dicoret berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA).

Seperti biasa, pemimpin aksi adalah Sabar Sirait yang kemarin, Selasa (11/10/2016) sempat diamankan oleh Polresta Siantar, karena adanya sedikit kericuhan dalam aksi demo, kembali berorator di depan Kantor KPUD Siantar.

Seorang personil polisi dari Polresta Pematangsiantar saat mengutip pakaian dalam wanita yang di letakkan di halaman KPUD Siantar, Rabu (12/10). (foto: Lazuardy Fahmi).

Dalam oratornya, dia masih menuntut ketidakadilan yang dilakukan oleh KPUD Siantar dan MA dalam putusan mereka. "Kenapa dalam putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) tidak menjadi pertimbangan. Apakah putusan PTUN dan PTTUN itu tidak berlaku. Kalau tidak berlaku bubarkan saja lembaga itu," sebut Sabar.

Kemudian seorang ibu yang diketahui bernama Anna meminta kepada komisioner KPUD agar keluar menjawab mereka. Namun karena tak kunjung keluar akhirnya tiga orang ibu-ibu masuk melewati pagar KPU Siantar dan meletakkan 5 potong celana dalam, tepat di depan pintu KPUD Siantar.

"Inilah hadiah spesial kami KPU, karena kalian banci, takut kalian menjawab kami, takut kalian Surfenov-Parlin ikut dalam Pilkada," teriaknya sambil diikuti oleh teman-temannya meletakkan celana dalam di lantai.

Massa pendukung pasangan Surfenov Sirait dan Parlin Sinaga saat melakukan unjuk rasa di kantor KPUD Siantar, Rabu (12/10/2016). (foto: Lazuardy Fahmi).

Sabar menyebutkan hal tersebut sebagai simbol bahwa KPUD takut untuk mengikutkan Surfenov-Parlin dalam Pilkada Kota Siantar.

"Itulah kado spesial bagi mereka karena mereka takut mengikutkan Surfenov-Parlin. Padahal, kita sudah menang di Panwaslih, PTUN, PTTUN tetapi mereka tak kunjung menjalankan Pilkada. Begitu putusan MA keluar mereka ingin buru-buru melaksanakan Pilkada, itu artinya mereka takut, jadi hadiah itu cocok untuk KPUD," ucapnya.

Sabar juga meminta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan untuk mengusut anggaran KPUD Siantar. "Kami juga minta kepada KPK untuk mengusut anggaran yang sudah dipakai oleh KPUD Siantar sebelum penundaan Pilkada. Karena yang mereka pakai itu adalah uang rakyat, jadi usut tuntas anggaran itu," katanya.

Bahkan, Sabar menyebutkan bahwa pendukung Surfenov-Parlin akan melakukan boikot Pilkada, jika KPUD Siantar tetap melakasanakan Pilkada tanpa Surfenov-Parlin.

"Kami tidak mau memberikan hak suara. Karena hak konstitusi kami telah dijual disini. Untuk itu kami akan melakukan boikot Pilkada dengan melakukan aksi golpot (tidak memilih satupun kandidat)," kata Sabar yang diikuti oleh teriakan dari pendemo yang didominasi oleh kaum ibu-ibu, yang berasal dari perwiritan se-Siantar.

Penulis: tom. Editor: ebp.