Sat 23 Mar 2019
Menyambut HUT Hetanews.com ke 5, kami membuka peluang terhadap jurnalis-jurnalis muda (usia 21-31) untuk bergabung dengan kami di seluruh wilayah Sumatra Utara (Sumut).
Kirim lamaran dan CV ke alamat Redaksi di Jalan Narumonda Atas No 47, Pematangsiantar-21124, Tel (0622-5893825) HP: 082167489093 (Reni)/ 082274362246 (Tommy Simanjuntak) atau Email: redaksihetanews@gmail.com. Pengumuman ini berlaku dari 7 Maret sampai 7 April 2019. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Kafe Remang “Tumbuh Subur” di Labuhanbatu, Berjamur Prostitusi, Narkoba dan Premanisme

Negeri Lama, hetanews.com - Kafe remang-remang tumbuh bagai jamur di musim hujan membuat warga resah di Dusun Sei Mambang Hilir Desa Sei Tampang Kecamatan Bilah Hilir, persisnya di Simpang PT HSJ, dekat dengan jembatan penyeberangan menuju Desa Sidomulyo Kabupaten Labuhanbatu.

Keresahan warga sangat beralasan, pemilik kafe selain menjual minuman bir, tuak   dan minum keras lainnya , ditambah lagi pelayan berpakaian seksi, membuat para pria hidung belang menjadi betah mangkal disana, bahkan tidak  bisa  dipungkiri praktek prostitusi pun sering terjadi disana.

Bukan hanya itu saja yang menjadi keresahan warga, selain musik dengan volume keras di tengah malam, yang membuat warga sekitar terganggu kala sedang istirahat, sesama pengunjung pun sering terjadi keributan, bahkan penyelesaiannya hingga ke kantor polisi.

Parahnya lagi, kafe remang-remang disinyalir menjadi salah satu tempat transaksi narkoba jenis ganja, ekstasi maupun psikotropika jenis sabu-sabu, dimana saat ini pemerintah justru sangat keras dan tegas akan pemberantasannya.

Bukan  hanya berbagai  hal  diatas yang menjadi efek miring dari hadirnya kafe maksiat tersebut, tetapi dampak sosial lainnya yang dialami warga sekitar, timbulnya  perceraian keluarga serta kecenderungan kaum Adam  melakukan selingkuh, jelas ini semakin bahaya.

Salah satu warga yang sempat berdiam disana terpaksa harus pindah karena setiap hari anak maupun suaminya melihat wanita pelayan kafe maksiat itu di siang hari selalu berpakaian mini.

“Anak masih kecil, tak pantas melihat pemandangan seperti itu,” ungkap Ibu dua anak itu.

Dilanjutkannya, ada keluarga tak jauh dari dusun ini terpaksa bercerai akibat pengaruh hadirnya kafe jahanam itu, belum lagi kasus perselingkuhan yang sudah  terjadi padahal tetangga dekat.

Pantauan wartawan, suara keras musik serta asyiknya para tamu berjoget pertanda seakan tidak ada aturan hukum maupun aturan sosial yang berlaku disana. Beberapa warga yang tidak bersedia jatidirinya disebutkan di dalam tulisan ini berharap, seluruh kafe maksiat itu harus ditutup disebabkan  selain melanggar norma hukum juga  norma etika dan norma susila.   

Kepala Desa Sei Tampang Moh Asmui ketika dikonfirmasi melalui selularnya, Kamis (6/10) kepada wartawan mengatakan, pihaknya juga sudah banyak menerima aduan keberatan warga secara lisan lalu akan menindaklanjutinya dengan menutup kafe maksiat itu. “Laporan sudah banyak masuk, kafe remang-remang akan ditutup lah,” ujar Asmui mengakhiri.

Kapolsek Bilah Hilir AKP PS Simbolon, ketika dikonfirmasi melalui selularnya, Rabu (5/10) kepada  wartawan mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan razia terhadap salah satu penyakit masyarakat (pekat) itu, tetapi tutup buka. “Sudah sering razia, miras sajam, narkoba,” ujar mantan Kasat Narkoba Pores Langkat itu. Namun pihaknya agar berupaya  seluruh kafe remang-remang itu ditutup. 

Penulis: sofyan. Editor: ebp.