HETANEWS.COM

Usai Diperkosa, Anak Asuh Ini Kembali Alami Penyiksaan

Korban RP yang mengalami kekerasan fisik di bagian telinga nya. (foto : Zai Sinaga)

Simalungun, hetanews.com - Anak asuh, sebut saja inisial RP (12), ibarat lepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau.

Pasalnya, usai mendapatkan perlakuan pemerkosaan dari orangtua asuhnya, perlakuan tindak kekerasan fisik dialami lagi di rumah orangtua asuh lainnya.

Hal itu disampaikan korban saat diwawancarai hetanews di sekolahnya, di Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Senin (26/9/2016). 

Dikisahkan RP, pemerkosaan sebanyak 5 kali dialami secara berulang ketika dirinya diasuh pasangan suami istri (pasutri), marga Pardede dengan istri boru Panjaitan warga Suka Selamat, Kelurahan Suka Raja, Kecamatan Siantar Marihat, Kota Siantar.

"Saat itu saya duduk di kelas III SD dan mau naik kekelas IV. Amangboru itu (Pardede) membawa saya ke kandang babi kosong di belakang rumah. Lalu menyuruh tidur di lantai kandang babi beralaskan tikar. Baju sekolah saya dibukanya hingga saya telanjang," ujar korban memulai kisahnya.

Lalu, usai meraba-raba seluruh tubuhnya, Pardede membuka celana dan baju hingga bertelanjang. Selang tak lama dirinya disetubuhi. Saat itu RP menjerit sejadi-jadinya, akan tapi Pardede malah mengancam bahkan tak menghiraukan tangisannya. Hingga Pardede akhirnya klimaks.

“Keesokan harinya saya merintih akibat terasa pedih di sekitar alat vital. Lalu amangboru itu mengobatinya hingga saya tak kesakitan lagi. Esok harinya, saya disetubuhi di depan TV yang ada di ruang tengah rumah. Selanjutnya di kebun coklat dan kamar, sehingga saya hitung sebanyak lima kali,” papar RP.

Perlakuan Pardede itu ketahuan guru kelas RP,yakni boru Simanjuntak (orangtua asuhnya saat ini). Dan pemerkosaan yang dialami RP dilaporkan guru kelasnya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 12124 Suka Selamat ke polisi. “Gak tau hasilnya hingga pindah sekolah oleh guru kelas saya itu kemari dan tinggal di rumahnya,” ujar RP.

Dari penuturan RP, awalnya bahagia tinggal di rumah orang tua asuhnya yang baru. Sebab dirinya tetap bersekolah. Akan tapi kepedihan yang dialami RP justru bertambah parah.

“Saya ibarat budak. Silap sikit langsung dianiayani dengan menggunakan sapu maupun kaki serta tangan oleh guru kelas saya hingga aksi kekerasan itu terungkap oleh pihak sekolah,” paparnya.

STPL dari Polres Simalungun atas kasus yang dialami RP. (foto: Zai Sinaga)

Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 091520 Hataran Jawa di Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, Jasper Simanjuntak membenarkan perlakuan kekerasan fisik dialami anak didiknya. Ini membuat dirinya selaku kepsek melaporkannya ke Polres Simalungun.

"Benar adanya perlakuan kekerasan fisik yang dialaminya (RP). Dan itu kita ketahui sesuai pelaporan dari guru kelasnya (kelas IV). Setelah mufakat, saya membuat pelaporan ke Polres Simalungun pada tanggal 22 September 2016. Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor ; STPL/ 147/IX/2016/SU/Simal," ujarnya.   

Informasi dihimpun dari sejumlah guru, kekerasan fisik dialami RP terhitung sejak korban duduk di kelas IV sekolah itu. Akan tapi disetiap ditanyai oleh guru, korban hanya bisa menangis dan selalu memintai tolong agar yang dialaminya tidak dilaporkannya pihak sekolah kepada orang tua asuhnya berinisial RS dan Boru Simanjuntak.

"Usai kekerasan fisik yang dialami RP kami laporkan, korban dititip ke Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Simalungun pada tanggal 22/8/2016. Dan sejak saat itulah korban berada di rumah saya," bilang Sahrul Panjaitan, guru olah raga di SDN tersebut.

Penulis: zai. Editor: aan.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan