HETANEWS

Siantar Dilanda Krisis Kepercayaan, Aktivis ‘Menghilang’

Oleh: A’a Tom

Siantar, hetanews.com - Perekonomian Indonesia kini sedang diperbaiki oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani melalui program tax amnestynya dan beberapa anggaran pusat yang ditunda diberikan kepada beberapa daerah. Namun tidak krisis itu terjadi di salah satu kota yang ada di Sumatera Utara (Sumut) yakni Kota Siantar.

Siantar kini dilanda krisis kepercayaan. Hal itu dimulai dari pedagang yang tidak percaya lagi dengan pemimpin mereka yakni Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Pasar Horas Jaya (PD PHJ) Setia Siagian.

Pada saat itu ribuan pedagang turun ke jalan menuntut Setia untuk dilengserkan dari jabatannya. Pedagang turun memadati jalan menuju Kantor DPRD bahkan sempat menguasai Kantor Wali Kota. Aksi itu tak hanya dilakukan sekali oleh pedagang, namun hingga dua kali.

Selanjutnya krisis ketidak percayaan merambah ke lembaga yang disebut-sebut adalah wakil rakyat. Secara mengejutkan 17 orang anggota dewan menandatangani mosi tidak percaya terhadap pimpinan mereka yakni Ketua DPRD Siantar Eliakim Simanjuntak.

Tak kalah mengejutkan sebuah profesi yang seharusnya bergerak di bidang sosial dan di bidang kesehatan, tiba-tiba secara mengejutkan menandatangani mosi tidak percaya kepada pimpinan mereka di Rumah Sakit Umun Djsamaen Saragih (RSUD) Ria Telaumbanua selaku Direktur.

Dan selanjutnya aksi mereka tak kalah menghebokan dengan aksi turun ke jalan melakukan aksi kepada pimpinan mereka tersebut.

Selanjutnya setelah tak percaya dengan pimpinannya, kembali lembaga wakil rakyat melakukan aksi tidak percaya lagi. Namun kali ini yang tidak mereka percaya bukan lagi dari internal, melaikan mitra kerja yakni pimpinan eksekutif Penjabat (Pj) Wali Kota Siantar Jumsadi Damanik. DPRD akhirnya mengeluarkan rekomendasi kepada Gubernur Sumut (Gubsu) agar Jumsadi diganti.

Jauh sebelum itu sejak tanggal 9 Desember 2015 dimana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Siantar ditunda, masyarakat seakan tidak peduli lagi dengan pesta demokrasi itu. Mereka seakan tidak mau tau kapan akan dilaksanakan kembali Pilkada yang ditunda tersebut. Seorang teman pun berkata. “Biarlah disitu siapapun pemimpinnya, sama ajanya itu,” tukasnya.

Krisis kepercayaan ini seakan dibiarkan begitu saja, tak ada yang memperhatikan kondisi itu. Para aktivis-aktivis yang seharusnya menyuarakan aspirasi rakyat kepada pemegang tampuk pemerintahan seakan bertingkah seirama dengan kondisi ini. Mereka menghilang entah kemana.

Sama halnya dengan mahasiswa-mahasiswa Kota Siantar yang terkenal sangat kritis dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Yakni salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat.

Yah sudahlah mungkin saja kondisi ini sama dengan sebutan Siantar yakni Kota Toleransi, yang seakan-akan bertoleransi dengan semua kondisi yang ada.

Penulis: tom. Editor: aan.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.