HETANEWS

Sekolah Jual Seragam Hanya Ditegur, Inspektorat Minta Tak Tangani Siswa Siluman

Siswa-siswi SMAN 3 Siantar saat pulang sekolah. (foto : Armeindo Sinaga)

Siantar, hetanews.com - Kepala Inspektorat Kota Siantar, Robert Dontes Simatupang ditanyai hasil dan tindakan mengenai adanya beberapa sekolah baik tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Kota Siantar melakukan praktik jual beli seragam sekolah, menjawab bahwa pihaknya hanya memberikan teguran saja.

Adapun, teguran tersebut dilayangkan oleh pihak Inspektorat Siantar kepada pihak Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Dispenjar) Kota Siantar. Selanjutnya Dispenjar yang akan memberikan sanksi berupa teguran kepada kepala sekolah (kepsek) terkait.

“Jangan lah dulu tanya itu, sakit kepala saya kau tanya itu. Kita rekomendasikan agar Kadispenjar (Resman Panjaitan) membuat teguran ke kepsek bersangkutan. Kemudian kita menyarankan agar kedepan supaya mengacu kepada peraturan menteri tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB),” kata Robert ketika ditemui wartawan di kantornya, Jumat (23/9/2016).

Ketika ditanya apa hanya teguran saja sanksi yang diberikan, ia berkilah bahwa teguran adalah salah satu bentuk dari sanksi.  “Teguran itu sanksi. Harapan kita kedepan agar jangan lagi melanggar peraturan yang dibuat pemerintah,” sambungnya.

Dijelaskan Robert, pihaknya hanya sebagai pembinaan kepada pihak-pihak pemerintahan di Kota Siantar yang menyalahi aturan. Apabila ada aturan yang disalahi dan pantas diberikan sanksi, Inspektorat hanya memberikan rekomendasi sanksi kepada pimpinan pihak yang menyalahi aturan itu.

“Harapan kami supaya jangan banyak masalah lah. Kadis (Resman Panjaitan) yang mengambil kebijakan. Kita hanya pembinaan, karena Inspektorat itu pembinaan. Kalau sudah ditegur melalui pembinaan tapi tahun depan, ya (mungkin sanksi lebih tegas lagi),” ucapnya.

Ketika ditanyakan permasalahan lainnya mengenai adanya temuan siswa siluman di SMA Negeri 3, ia menanyakan kembali kepada awak media apa pengertian siswa siluman.

“Apa itu siswa siluman?,” tanya Robert yang dijawab awak media adalah siswa di sekolah negeri yang terdaftar di sekolah tanpa adanya mengikuti seleksi bahkan tidak lulus saat PPDB resmi.

Setelah mendengar arti siswa siluman yang dimaksud, Robert mengatakan bahwa pihaknya belum ada dan belum pernah menelusuri mengenai permasalahan siswa siluman. Dari informasi yang diperoleh bahwa Pj Wali Kota Siantar, Jumsadi Damanik akan memanggil beberapa kepsek mengenai permasalahan itu.

Jumsadi diketahui belum ada meminta Inspektorat untuk mengusut mengenai siswa siluman. Robert menjelaskan kalau ia menginginkan tidak diperintah mengusutnya. “Kita tidak sampai kesana (siswa siluman). Kalau boleh jangan masuklah,” tutupnya.

Dari informasi yang didapat menyebutkan kalau praktek jual seragam dilakukan beberapa sekolah negeri seperti SMK Negeri 1 Siantar yang beralamat di Jalan Bali, SMKN 2 Siantar beralamat Jalan Asahan, SMAN 1 Siantar di Jalan Parsoburan, SMAN 2 Siantar Jalan Patuan Anggi, SMAN 3 Siantar, Jalan Pane dan SMAN 6 Siantar.

Sementara itu, di Siantar, praktik siswa siluman ini ditemukan di SMAN 3. Sekolah yang beralamat di Jalan Pane itu menerima 12 siswa/siswi siluman yang masuk dengan memberikan keterangan tidak mampu dari kelurahan setempat. Ke 12 siswa/siswi tersebut masuk ajaran baru setelah 1 bulan dari siswa baru resmi lainnya.

Begitu juga di SMAN 6 Siantar yang beralamat di Jalan Viyata Yudha terdapat penambahan kuota siswa baru kelas IX yang sangat drastis. Sekolah yang dipimpin Akhyar tersebut menerima 419 siswa baru melalui dua tahap PPDB TA 2016/2017 dengan 10 rombongan belajar (rombel).

Padahal dalam petunjuk teknis (juknis) tersebut PPDB tersebut, SMAN 6 Siantar menerima kuota siswa baru hanya sebanyak 360 orang. Ini artinya SMAN 6 Siantar menerima 59 siswa baru yang dari luar kuota PPDB tahun ajaran 2016/2017.

Penulis: ndo. Editor: aan.