Dampak Konflik Dokter dan dr Ria, RSUD Berpotensi Kehilangan Uang 4 Miliar dari BPJS

Salah satu ruang poliklinik di RSUD Djasamen Saragih, Siantar, dengan pintu yang sudah keropos namun tidak mendapat perhatian dari managemen

Siantar, hetanews.com - Dampak konflik internal di RSUD Djasamen Saragih, dimana puluhan dokter tidak tanda tangani resume medis, yang berakibat tidak dikeluarkanya jasa medis atas klaim Rumah Sakit ke Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS).

Aksi ‘lempar pena’ yang dilakukan sejumlah dokter spesialis maupun umum merupakan bentuk protes yang dilakukan kepada Direktur Utama dr Ria Novida Telambaunua. Munculnya, berbagai kebijakan Dirut seperti ketidaklancaran pembagian jasa medis kepada karyawan, perawat dan dokter, berakibat munculnya aksi ini.

Wakil Direktur II dr Harlen Saragih mengakui jika sejumlah dokter yang melakukan mosi tidak percaya kepada Dirut juga melakukan aksi tidak menandatangai SEP resume medik klaim BPJS per satu Agustus lalu. Hal tersebut dilakukan karena pemberian jasa medik selama ini tidak merata.

"Katanya orang itu (dokter), tidak mau menandatangani karena pembagian jasa medik tersebut gak merata. Ngapain ditanda tangani kalau uangnya gak sampe," terang dr Harlen menirukan alasan dari dokter-dokter tersebut beberapa waktu yang lalu.

Lanjut Harlen, jika para dokter tidak menandatangani resume medik maka pemasukan rumah sakit dari klaim ke BPJS tidak ada. Hal yang sama dikatakan dr Reinhard Hutahaen. Dokter forensik ini mengatakan, dokter umum maupun spesialis melakukan hal tindakan tersebut didasari  mosi tidak percaya kepada dokter Ria Novida Telambaunua.

“Itu bentuk protes yang dilakukan dokter. Kalau pun ditanda tangani toh juga uangnya tidak cair,” ketusnya, Kamis (22/9/2016).

Sudah mau dua bulan klaim Rumah Sakit ke BPJS tidak ditanda tangani oleh sejumlah dokter. Berdasarkan keterangan dari Bagian Manajemen Pelayanan Kesehatan Rujukan (MPKR) BPJS Cabang Kota Siantar, Chandra Istanti Prasetyo beberapa waktu lalu menyebutkan, RSUD dapat mengkalim kurang lebih Rp 2 Miliar per bulannya.

Sesuai dengan prosedur berlaku, yakni pengklaiman dari rumah sakit (RS) ke BPJS, dilakukan oleh koder dari BPJS yang bertugas di RS.

Pasien datang berobat dengan kelengkapan administrasinya kemudian diperiksakan oleh dokter dengan menuliskan resume medis, selanjutnya hasil resume tersebut dikumpulkan oleh koder, kemudian diinput dalam aplikasi INA-CBGs.

Setelah diinput kemudian verifikator BPJS dapat melakukan verifikasi berdasarkan data dari aplikasi tersebut dan setelah diverikasi akan dibayarkan BPJS ke Rumah Sakit. Dokter dalam resumenya harus membubuhi tanda tangannya, sehingga resume tersebut dinyatakan lengkap.

"Pengklaiman dilakukan setiap bulannya, kalau dalam bulan ini tidak di klaim, maka tidak bisa klaim susulan, jadi seberapa yang diinput itu kita bayarkan, tetapi kita berusaha agar dilakukan semuanya, karena kita juga memiliki target," sebut Candra. 

Penulis: tim. Editor: EBP.