Thu 15 Nov 2018

Menlu Retno beberkan tiga langkah lawan terorisme dalam sidang PBB

Menlu Retno bertemu Menlu Norwegia. ©2016 merdeka.com/arie basuki

hetanews.com - Ada tiga langkah yang diusul Retno dalam upaya memerangi kejahatan terorisme dan ekstremisme.

"Langkah-langkah ini perlu mendapat perhatian untuk memperkuat strategi selama ini," ujarnya pertemuan pleno tingkat menteri ke-7 Global Counter-Terrorism Forum (GCTF) di sela pertemuan tingkat tinggi Sidang Majelis Umum PBB ke-71, New York, Amerika Serikat.

Langkah pertama, perlunya langkah untuk memperkuat counter narative melalui media sosial dalam melawan ekstrimisme dan terorisme. Menurutnya, saat ini penyebaran paham dan ideologi ekstremisme dilakukan secara cepat melalui media sosial. Karenanya perlu adanya kerja sama internasional untuk melakukan counter narative.

"Tidak ada pilihan bagi kita selain bekerja sama untuk melawan para ekstrimisme di media sosial", serunya.

Kedua, perlunya kerja sama internasional untuk memulai suatu gerakan global untuk mendorong moderasi dan toleransi. Dalam hal ini, lanjut Retno, masyarakat internasional harus mendorong para moderat untuk angkat bicara.

"Masyarakat internasional dapat bekerja sama untuk mendorong moderasi dan toleransi baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional", tegas Menlu Retno.

Ketiga, peran perempuan harus diberdayakan dalam mendorong budaya moderat dan toleransi.

Sebagai ibu, katanya, perempuan memiliki peran kunci dalam menanamkan budaya dan ideologi yang moderat dan toleran pada anak yang nantinya akan membentuk masyarakat kita.

"Perempuan harus diberdayakan dan diikutsertakan dalam upaya mendorong budaya masyarakat yang moderat dan toleran", tutur menlu perempuan pertama Indonesia ini.

Seperti diketahui, GCTF merupakan forum internasional beranggotakan 29 negara serta Uni Eropa dengan tujuan utama untuk mengurangi kerentanan terhadap ancaman terorisme melalui upaya pencegahan, memerangi dan pengusutan aksi terorisme serta memberantas upaya rekrutmen teroris.

Forum ini menghadirkan para ahli dan praktisi dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan dan keahlian untuk mengembangkan strategi untuk menghadapi ancaman terorisme yang terus berevolusi.

Saat ini, Indonesia merupakan Co- Chair dari kelompok kerja GCTF Detention and Reintegration bersama Australia. Bersama Australia, Indonesia telah menyelenggarakan dua workshop skala regional di Asia dan Afrika. Pertama, Regional Workshop on Rehabilitation and Reintegration Programming for Terrorist Detainees, di Nairobi, Kenya, Oktober 2015. Kedua, Workshop on developing Effective Intake, Risk Assessment, and Monitoring Tools and Strategies for Incarcerated Terrorist Offenders di Manila July 2016.

Selain itu pada Mei 2016 di Cilacap, Indonesia juga telah mengadakan pelatihan untuk sipir di penjara dengan pengamanan maksimum serta bagaimana menghadapi pelaku kejahatan ekstrimisme.

 

 

 

sumber: merdeka.com

Penulis: -. Editor: edo.