HETANEWS

1.000 Relawan Anti-kekerasan Siap Lindungi Anak Semarang

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise memeluk Rurun Rahmawati (15), siswa kelas VII Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Ungaran dalam acara Peringatan Hari Anak Nasional di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Jumat (9/9/2016).

UNGARAN, hetanews.com

- Pemkab Semarang menyiapkan 1.000 relawan anti-kekerasan terhadap anak sebagai bagian dari mewujudkan Kabupaten Semarang sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA).

"Sudah ada embrio. Targetnya akhir tahun 2016 sudah terbentuk 300 relawan yang siap melindungi anak," kata Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Semarang, Romlah, Rabu (14/9/2016).

Ia mengatakan, hingga akhir 2015 lalu di Kabupaten Semarang tercatat jumlah anak berusia 0 hingga 5 tahun sebanyak 75.000 anak, berusia 6 hingga 9 tahun sebanyak 60.053 anak, dan usia 10 hingga 17 tahun sebanyak 170.300 anak.

Menurut Romlah, memberikan perlindungan pada anak bukan persoalan yang mudah.  Sejumlah kendala dan tantangan harus dihadapi dalam rangka melindungi anak dari tindak kekerasan.

"Tantangan tersebut antara lain teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, gaya hidup masyarakat yang berubah begitu cepat, dan lemahnya pemahaman isu terhadap anak," kata dia.

Dengan terbentuknya 1.000 relawan yang akan melindungi anak dari ancaman kekerasan, Romlah berharap anak-anak di Kabupaten Semarang dapat mengaktualisasikan kemampuan dan potensi diri tanpa harus diliputi perasaan waswas akan situasi dan kondisi yang dinilai tidak aman.

"Kepada anak-anakku, mainlah yang jauh. Jangan takut kehilangan gadget, jangan takut kehilangan sinyal, dan jangan takut kehabisan pulsa," sebutnya.

Sebelumnya Bupati Semarang Mundjirin mengatakan, pihaknya telah mencanangkan Kabupaten Semarang sebagai kabupaten layak anak sejak 13 September 2012 lalu. Pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya.

Sesuai dengan paradigma otonomi daerah, maka perwujudan kabupaten layak anak ini dimulai dari setiap individu dalam keluarga RT, RW, kelurahan, kecamatan, dan selanjutnya terealisasi di Kabupaten Semarang.

Sejumlah upaya dilakukan demi percepatan KLA, kata Mundjirin, antara lain dengan pembentukan rumah sakit ramah anak, puskesmas ramah anak, sekolah ramah anak, kecamatan ramah anak, dan desa ramah anak.

"Selain itu, kami juga membentuk Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), juga pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu (PTT) di setiap kecamatan, puskesmas, dan desa," katanya.

sumber:  kompas.com

Editor: edo.