HETANEWS

12 Siswa Siluman ‘Miskin’ di SMAN 3 Siantar

Siswa-siswi SMAN 3 Siantar ketika pulang sekolah. (foto : Armeindo Sinaga).

Siantar, hetanews.com - Informasi mengenai desas-desus adanya praktik siswa siluman di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Siantar ternyata benar adanya.

Siswa siluman tersebut adalah siswa yang tidak terdaftar saat pengumuman seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di beberapa SMA Negeri Kota Siantar.

Namun, sekitar sebulan lebih setelah PPDB, siswa siluman kemudian terdaftar sebagai siswa baru di sekolah tersebut sebagai siswa kelas IX. Siswa itu belajar seperti biasanya siswa-siswi lainnya, tetapi ketinggalan pelajaran setelah masuk sebagai siswa setelah sekitar 1-2 bulan awal tahun ajaran 2016/2017.

Hetanews mencoba mencari kebenaran kabar tersebut ke SMAN 3 Siantar, Jalan Pane, Kelurahan Tomuan, Kecamatan Siantar Timur, Selasa (13/9/2016). Tetapi, salah seorang satpam sekolah bermarga Napitupulu mengatakan bahwa Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 3 Siantar, Hinsa Simatupang sedang tidak berada di sekolah dan keluar sekitar pukul 09.00 WIB.

Namun, salah seorang wanita staff Tata Usaha (TU) sekolah tersebut sepertinya keceplosan dan mengatakan kalau satpam marga Napitupulu itu dipanggil oleh Hinsa Simatupang. Satpam itu kemudian berusaha mengelak kepada wartawan.

“Gak tahu saya lae kalau bapak (Kepsek) di sekolah. Sempat keluar saya sarapan di depan lae. Jadi gak tau saya apa bapak itu sudah masuk ke sekolah. Ini aja saya baru tahu bapak itu di sekolah,” elaknya.

Sekitar satu jam kemudian, wartawan dipersilahkan menemui Hinsa Simatupang. Ketika ditanyakan mengenai adanya siswa siluman di sekolahnya, ia tidak menampik hal tersebut. Ia menerangkan, bahwa ada 12 siswa/siswi siluman di sekolah yang dipimpinnya.

“Iya betul memang ada (siswa/i siluman). Sebetulnya, sudah ada sebulan ini saya tolak. Tapi, gimana terus dipaksa. Awalnya saya sudah tak mau ada gini-gini. Terakhir saya terimalah, itupun terpaksa, hati saya bilang sebetulnya tolak,” ujar Hinsa di ruang kerjanya.

Lanjutnya, menurut petunjuk teknis (juknis) PPDB Siantar tahun ajaran 2016/2017 menyebutkan kalau tidak diperbolehkan adanya siswa/siswi siluman di sekolah negeri. Ia sempat bersikeras tetap pada juknis tersebut. Namun akhirnya tekadnya tergoyang akibat paksaan.

“Kalaus udah gini, lebih baguslah saya jadi guru biasa. Satu tahun laginya saya pensiun. Sudah saya tekadkan itu gak mau gini-gini. Sempat saya diamkan sebulan ini semua. Tapi saya terima terakhirnya. Kalau sudah gini, mau bilang apa lagi lah sa,” kata Hinsa.

Dia juga menepis kabar yang beredar yang mengatakan bahwa ia menerima uang sogokan atas masuknya beberapa siswa-siswi siluman itu. Karena siswa-siswi siluman tersebut adalah siswa-siswi dari keluarga tidak mampu (miskin).

“Bagaimana lah dibilang dapat uang dari sini. Yang masuk ini saja dari keluarga tidak mampu. Siswa-siswi (siluman) ini rata-rata tidak mau kalau tidak sekolah di sekolah negeri. Ya gimanalah, kita terimalah walaupun sebetulnya hati memilih menolak. Mereka ada surat keterangan tidak mampu dari pihak kelurahan setempat dan ada juga yang memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS),” ujarnya.

Ia tidak luput memperlihatkan bukti dari siswa/i siluman dari keluarga tidak mampu itu. Dari bukti itu tampak ada beberapa siswa berasal dari SMP luar Kota Siantar, bahkan ada satu siswa yang dari SMP luar Provinsi Sumater Utara.

Ke 12 siswa-siswi itu melampirkan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan yang seluruhnya dari kelurahan dalam Kota Siantar. “Yang 12 siswa/siswi ini melampirkan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan. Ada juga dua siswa yang ikut melampirkan foto copy KKS,” ucap Hinsa.

Penulis: ndo. Editor: aan.