Medan, hetanews.com - Meski ditahan di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta, Medan, narapidana (napi) kasus narkoba, Ega Halim (45), malah punya dua pabrik sabu.

Ia mengendalikan operasional pabriknya itu melalui internet dari dalam penjara. Dua pabrik sabu milik Ega ini berhasil digerebek Dit Narkoba Polda Sumatera Utara (Poldasu).

Tiga anak buah Ega yang mengelola pabrik barang haram itu pun berhasil diamankan, yakni Antoni alias Asen (34), warga Jalan Pukat Banting I, Kecamatan Medan Tembung, Danny Tong alias AFU (51), warga Jalan Waringin, Kecamatan Medan Tembung dan Jhonni alias Aching (35), warga Jalan PWS, Medan Petisah. 

Informasi yang dihimpun, Senin (5/9/2016) menyebutkan, pabrik sabu pertama berlokasi di Jalan Pukat Banting I, Komplek Rahayu Mas, Kelurahan Banten, Kecamatan Medan Tembung. Sementara pabrik sabu kedua berlokasi di Jalan PWS, Kelurahan Petisah, Kecamatan Medan Petisah.

“Kita melakukan penggerebekan setelah mendapat informasi dari masyarakat yang menyebut ada pembuatan narkoba jenis sabu di dua lokasi itu, kemudian kita lakukan penyelidikan dan penangkapan,” ujar Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol Rina Sari Ginting kepada wartawan.

Dari tangan pelaku disita sejumlah barang bukti, yakni cairan dari kekuningan dari proses pembuatan sabu, 4 jerigen cairan methanol, cairan putih, 1 jerigen sisa methanol, 1 botol air mineral berisi cairan putih, 1 jerigen adonan yang telah dicampur epidrin, 1 ember adonan yang telah dicampur epidrin, pipa paralon, panci penyaring epidrin.

Kemudian, 16 bungkus bekas serbuk putih, 40 mangkuk penampung hasil olahan tepung epidrin, kompor elektrik, timbangan, kaca laboratorium, tongkat pengaduk, sabu­sabu dalam kemasan plastik bening, pil ekstasi, bong (alat isap), kaca pirex, korek api gas, sedotan, dan stoples plastik.

“Saat diinterogasi para tersangka mengaku belum sempat memproduksi sabu. Pengakuan mereka baru seminggu beroperasi dan belum ada hasilnya,” tambah Kombes Rina. Para pelaku dijerat dengan Pasal 113 ayat (2) subs Pasal 112 ayat (2) lebih subs Pasal 129 huruf a dan b jo Pasal 132 ayat (1) Undang-­Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Ancamannya minimal 5 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara. Sejauh ini baru 4 tersangka, dan jika dalam pengembangan ada tersangka baru akan disampaikan ke rekan­-rekan wartawan,” pungkas Rina.

sumber: medansatu