Tebingtinggi, hetanews.com - Akibat tidak dapat menahan nafsu ,terdakwa Juli Amri alias Nanang alias Parto, nekat menodai siswi Sekolah Dasar (SD) dan akhirnya dihukum selama 12 tahun penjara oleh majelis hakim Sangkot Tobing, Rabu (24/8/2016).

Vonis ini lebih ringan 1 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erthy dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Serdang Bedagai (Sergai).

Sesuai surat dakwaan dan keterangan saksi di persidangan, kejadian itu dilakukan terdakwa pada bulan November 2015 hingga Februari 2016 sekira pukul 07.00 WIB bertempat di Dusun I Desa Sei Bamban, Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Sergai.

Dalam melancarkan aksi bejatnya, terdakwa membujuk saksi korban sebut namanya Bunga masih berusia 9 tahun melakukan persetubuhan badan dengannya.

Sebelumnya pada hari Senin (21/3/2016) sekira pukul 17.00 WIB, Tiyama (ibu saksi korban) membuka tas sekolah putrinya dan menemukan uang Rp 10 ribu. Tiyama bertanya dari mana asal uang itu dan dijawab saksi korban diberikan Atok.

Saksi Tiyama bertanya apa yang telah dilakukan Atok dan korban mengaku tidak ada, hanya ditarik-tarik saja, namun Bunga tidak menolaknya.

Karena curiga, keesokan harinya tepatnya Selasa (22/3/2016) sekira pukul 09.00 WIB, Tiyama pergi ke sekolah korban, sembari mengintip terdakwa namun tidak ada.

Tiyama menemui kepala sekolah (kepsek) yaitu saksi Kennedy Hutasoit untuk memberitahukan tujuan terdakwa memberikan uang kepada putrinya. Kennedy berjanji akan menanyakan hal tersebut kepada terdakwa.

Kemudian pada Rabu (23/3/2016) sekira pukul 12.00 WIB, ketika Tiyama sedang berada di dalam rumah di datangi terdakwa bersama dengan isterinya. Terdakwa langsung bersujud menyembah sambil meminta maaf kepada Tiyama.

Sekira pukul 12.30 WIB saksi guru korban Ade Syahfitri datang ke rumah Tiyama untuk menyuruhnya datang ke sekolah. Setibanya di sekolah, para guru bersama dengan saksi korban telah kumpul di ruangan kelas I, kepsek menceritakan perbuatan terdakwa kepada Tiyama, jika korban telah dicabuli.

Sesuai dengan visum et revertum No. 110/VER/III/2016 tanggal 24 Maret 2016, yang dibuat dan ditandatangani.Dwi Ajeng Ayu S Ritonga, dokter di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Tebingtinggi, dengan kesimpulan selaput darah robek diduga akibat masuknya benda tumpul atau sejenisnya.

Sementara terdakwa menerima putusan hakim setelah berkonsultasi dengan kuasa hukumnya Syaiful .