HETANEWS

Jomen Purba Sebut Tangisan JR Saragih Hanya Omdo Belaka

Simalungun, hetanews.com - Salah seorang budayawan Simalungun yang juga merupakan pengurus Museum Simalungun Jomen Purba angkat bicara mengenai  tidak disematkannya baju adat Simalungun kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika kunjungan ke Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.

Ini termasuk Menteri Pariwisata Arief Yahya yang juga tidak mengenakan pakaian adat Simalungun, sehingga membuat Bupati Simalungun JR Saragih menangis dalam konfrensi pers. Menurutnya, sikap dari JR Saragih itu hanya omong doang (omdo) belaka.

Awalnya Jomen menjelaskan kepada hetanews, Rabu (24/8/2016) mengenai baju adat Simalungun yang seharusnya diberikan kepada tamu kehormatan.

“Kalau pakaian pria darmanti itu seperti topi, suri-suri dipakai itu namanya hiou atau sering disebut ulos biasanya warna hitam, pisau suhul gading dan ikat pinggang, serta gotong. Untuk pakaian perempuan biasanya tapak catur, suri-suri yang warnanya disesuaikan dengan bajunya, atasannya pakai bulang dan diberikan anting-anting, kemudian tempat sirih seperti tas, dan pisau puei,” jelas Jomen.

Hal ini dilakukan biasanya kata Jomen untuk mengungkapkan rasa bangga atas kehadiran tamu atau raja yang hadir ke tempat tersebut, karena dianggap memberikan berkah.

“Selain menunjukkan eksistensi dari Budaya Simalungun, ini juga diberikan karena yang datang itu kita katakan Raja. Biasanya Raja itu datang dianggap memberikan berkah ke daerah yang dikunjunginya," kata Jomen.

Tak diberikannya baju adat Simalungun kepada Presiden Jokowi, dinilai sama saja tidak menghargai kehadiran orang nomor satu di Indonesia. “Kan kita anggap Presiden itu adalah Raja, sehingga dihargai akhirnya kita diberikan berkat. Seperti di Nias mereka diberikan berkat melalui pembangunan dan penyelesaian soal listrik, di Samosir diberikan kapal ferry yang baru oleh Presiden. Sementara di Simalungun karena seperti tidak dihargai yang hanya datang saja dia (Presiden)," paparnya.

Mengenai tak diberikan baju adat Simalungun kepada Presiden Jokowi menurut Jomen adalah kesalahan dari Pemkab Simalungun. Ini berarti Pemkab Simalungun tidak berkomunikasi dengan baik. “Padahal kita tau bersama Presiden itu sempat beristirahat di Hotel Inna Parapat, kenapa tidak pada saat itu diberikan. Ini artinya Pemkab Simalungun tidak siap," sebut Jomen.

Dia juga menyebutkan tangisan dari JR tersebut adalah omdo saja. “Begini saja, waktu Rondang Bintang beberapa kali yang saya ikuti, dia (JR Saragih) saja tidak memakai pakian adat ketika hadir kesana, padahal kita semua pada saat itu memakai pakian adat. Bahkan JR Saragih tidak ada menyalami atau menyapa kita sebagai budayawan. Ini berarti dia tidak mengerti. Jadi saya rasa dia nangis itu hanya omdo sajanya itu,” papar Jomen mengakhiri.

Penulis: tom. Editor: aan.