HETANEWS

Presiden Jokowi Tak Diberikan Baju Adat Jadi Bahan Pembicaraan Tokoh Adat Simalungun

Budayawan Simalungun, Sultan Saragih (pegang mix).

Simalungun, hetanews.com - Kedatangan orang nomor wahid di Indonesia yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sabtu (20/8/2016) menyisahkan cerita yang menjadi bahan perbincangan oleh budayawan Simalungun.

Hal itu terjadi manakala Jokowi tak diberikan baju adat Simalungun. Sementara di beberapa daerah yang sudah dikunjungi oleh Jokowi seperti Nias dan Toba Samosir (Tobasa) dan Samosir, kehadirannya disambut dengan memakaikan baju adat dari masing-masing daerah tersebut.

Salah seorang Budayawan Simalungun, Sultan Saragih mengatakan, bahwa hal ini disebabkan kurang komunikasinya antara Pemkab Simalungun dengan Panitia Acara.

“Ini melihat panitia yang berasal dari luar daerah, tentu mereka tidak mengerti tentang hal itu. Seharusnya Pemkab Simalungun memberitahukan kepada Panitia. Saya kan bukan tergabung dalam panitia, jadi tidak tau komunikasi mereka seperti apa. Melihat ini saya bisa berpendapat berarti ada masalah komunikasi antara Pemkab Simalungun dan Panitia,” sebutnya, Senin (22/8/2016).

Ketika ditanya apa arti dari penyematan baju adat kepada tamu yang hadir di suatu daerah, Sultan menyebutkan bahwa hal itu dapat menunjukkan eksistensi dari daerah tersebut.

“Penyematan itu dilakukan dilakukan untuk membuktikan kedaulatan dari suatu suku atau eksistensi dari suatu suku. Apalagi yang hadir ini adalah orang yang memiliki jabatan atau pengaruh besar. Dengan penyematan itu, berarti daerah yang dikunjungi memiliki kedaulatan kearifan lokal yang benar-benar dihargai,” sebutnya.

Kehadiran Presiden Jokowi di Hotel Inna Parapat saat disambut Bupati Simalungun, JR Saragih, Sabtu (20/8/2016)

Baca: (Berkunjung ke Parapat, Presiden Jokowi Tak Diberikan Baju Adat).

Oleh sebab itu Sultan sangat menyayangkan tidak disematkan baju adat Simalungun kepada Presiden Jokowi bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

“Masalah itu sudah menjadi pembicaraan dari tokoh-tokoh adat ataupun masyarakat. Karena di Parapat banyak masyarakat Simalungun tinggal di sana,” ucapnya.

Kehadiran Jokowi sedikit berbeda dengan Pangdam I/BB Mayjen Lodewyk Pusung yang hadir ke Haranggaol Horison. Sultan menuturkan, di sana panglima TNI tersebut disematkan baju adat Simalungun dan hal itu terjadi karena komunikasi yang baik antara Panitia dengan Pemkab Simalungun.

“Pada saat itukan Panglima TNI itu disematkan. Padahal Presiden lebih tinggi jabatannya dan pengaruhnya, kenapa Panglima TNI itu disematkan. Ini berarti komunikasi antara panitia dengan Pemkab Simalungun kurang terjalin dengan baik,” papar Sutan mengakhiri.

Penulis: tom. Editor: aan.