HETANEWS

Ada Perbedaan, Dana Revitalisasi Pasar Tiga Raja Layak Diusut

Pelaksanaan kegiatan revitalisasi Pasar Tiga Raja yang tetap dikerjakan pihak pemborong. (foto : Zai Sinaga).

Simalungun, hetanewscom - Realisasi dana revitalisasi pasar Tiga Raja, di Kelurahan Tiga Raja, Kecamatan Girsip (Girsang Sipanganbolon), Kabupaten Simalungun layak diusut.

Pasalnya, pelaporan atas penggunaan biaya pelaksanaannya oleh Pemkab Simalungun, terjadi perbedaan yang sangat signifikan.

Informasi data yang dihimpun, kegiatan revitalisasi pasar rakyat itu dikerjakan PT Cendana Indah Karya dengan konsultan supervisi CV Perca Bangun Persada, bersumber dari dana tugas perbantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara - Perubahan (APBN-P) TA 2015 sebesar Rp 5,3 miliar.

Sementara Pemkab Simalungun melalui dinas terkait, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) melaporkan pagu kegiatan tersebut yakni sebesar Rp 5.565.226.000, bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2014, sebagaimana tertera pada Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemkab Simalungun tahun 2014.

MM (48), warga Tiga Raja, mendesak instansi terkait untuk segera mengusutnya. Dia mengatakan, meski pun kegiatannya telah dilakukan pemutusan kontrak kerja, namun PT Cendana Indah Karya tetap mengerjakannya.
Ini memunculkan tudingan jika di antara pemborong (rekanan) dan dinas terkait telah berkaloborasi dalam rangka membodoh- bodohi masyarakat Tiga Raja, Kelurahan Tiga Raja.

"Informasinya kegiatan revitalisasi pasar tersebut sudah diputus kontrak kerjanya per Desember 2014 lalu. Ternyata bulan Januari 2015, kegiatan masih tetap dilanjutkan oleh anggota pemborong (marga Sinaga red). Kami (warga) menilai pemborong dan dinas ada kesepakatan membodoh-bodohi masyarakat di sini," tukas MM, Sabtu (20/8/2016).

Ketika diminta tanggapan terkait kualitas bangunan, dirinya meragukan ketahanan fisik bangunan.

"Sebab, yang kita lihat sewaktu mencor tiang bangunan banyak yang berlubang alias tidak padat. Bahkan untuk mengelabui tiang cor yang dibuat kecil, diduga tak sesuai spek, rekanan menambal dengan menggunakan batu bata agar terlihat besar. Dasar itulah kita ragu kan kualitas pengerjaan," tegasnya.

Sebelumnya, terkait pemutusan kontrak, Rabu (27/1/2015), Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Garinsen Saragih yang telah dicopot jabatan oleh JR Saragih usai dilantik kembali sebagai Bupati Simalungun periode 2016-2021 mengaku, bahwa pihaknya telah menyarankan pihak pemborong supaya menstop pengerjaannya.

"Itu sudah ada penghentian kontrak kerja dan sudah saya tanda tangani. Kemudian mereka (pemborong) melanjutkan pengerjaan. Itu yang mejadi polemik. Lagian bodoh kali lah saya sudah menyuruh stop, masa disuruh lagi dikerjakan," ujar Garinsen via telepon selulernya.

Dia menambahkan, berlanjutnya pelaksanaan pengerjaan tanpa seijin pihak Disperindag. Yang jelas pengerjaan proyek sudah distop pada bulan Desember 2015 lalu.

Penulis: zai. Editor: aan.