HETANEWS

Willy Sidauruk: Klien Saya Tak Pernah Tanda Tangani Ambil Uang Rp 6 Miliar

Willy Sidauruk pengacara Agus Surya Darma sebagai Maneger koperasi Swadharma BNI Siantar, saat memberikan penjelasan pada para nasabah, Kamis (18/8/2016).(foto: Lazuardy Fahmi)

Siantar, hetanews.com - Manager Koperasi Swadharma Agus Surya Dharma melalui kuasa hukumnya Willy Sidauruk mengatakan, adanya kejanggalan atas pernyataan Fakhrul selaku pimpinan cabang BNI Kota Siantar yang menyatakan bahwa BNI tidak ada hubungannya dengan Koperasi Swadharma.

Hal ini dikatakan Willy Sidauruk seusai Fakhrul memberikan keterangan kepada awak media di kantor bank berlogo angka 46 tersebut, Kamis (18/8/2016).

“Di sini, deposan bisa masuk ke koperasi karena tertuang di Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Deposan itu menjadi anggota luar biasa. Dikatakan Fakhrul bahwa BNI tidak ada hubungannya dengan koperasi (Swadharma), saya rasa itu penjelasan yang kurang tepat karena itu ± 9 tahun koperasi itu ada,” katanya.

Hal ini diperkuat dengan kantor Koperasi Swadharma didirikan sendiri oleh pihak BNI Cabang Siantar. Dan koperasi tidak pernah menyewa gedung (kantor) tersebut.

Willy memperjelas kepada Fakhrul apakah bersangkutan ada data aktiva dan pasiva yang tentunya mengetahui gedung tersebut dipergunakan untuk apa yang tanpa bisa dijawab oleh bersangkutan (Fakhrul).

“Dia tidak bisa menjawab bahwa ia tidak tau menahu adanya koperasi di sini padahal sudah sampai 9 tahun. Kalau uang tersimpan ±  Rp10 miliar. Ada bukti rekeningnya dan ada surat perjanjian. Tentu ada rekeningnya yang masuk dalam BNI. Adanya bukti transfer dari BNI ke koperasi,” jelas Willy.

Ia pun menyangkal bahwa kliennya, Agus Surya Dharma melarikan diri atas kasus tersebut dan kini masih berada di Kota Siantar. Willy semakin mempertegas bahwa pihak BNI juga harus bertanggung jawab terhadap koperasi. Ini dikarenakan seakan-akan pihak BNI buang badan terhadap kasus tersebut dengan menyatakan BNI tidak ada hubungannya dengan Koperasi Swadharma.

“Bukan kita yang menyatakan koperasi bukan bagian BNI, tapi semua tertuang dan jelas dalam AD/ART. Mengenai adanya informasi bahwa dana dipinjamkan ke pihak ketiga, itu seperti informasi yang saya dapat dari Fakhrul,” ucapnya.

Willy mempertegas bahwa kliennya tersebut tidak benar yang harus bertanggung jawab terhadap uang Rp 6 miliar. Karena Agus tidak benar mengambil uang Rp 6 miliar. “Justru itu saya konfirmasi kepada Agus, ia bilang bahwa dia tidak pernah menandatangani apapun untuk pengambilan uang Rp 6 miliar,” sebutnya.

Ia meminta agar BNI pusat dan BNI Cabang Siantar harus melakukan koordinasi mengenai masalah tersebut, serta tidak hanya melempar masalah yang ada kepada koperasi. Ini karena masalah itu bukan hanya persoalan di koperasi, melainkan di pihak BNI.

“BNI pusat dan BNI Siantar harus berkoordinasi karena ini bukan hanya persoalan di koperasi. Persoalan ada juga di BNI. Uang koperasi tetap disimpan di rekening koperasi yang berada di BNI. Mengenai pemalsuan tanda tangan untuk uang Rp 6 miliar, akan ditelusuri karena klien saya tidak ada mengakui menanda tangani. Kalau berapa jumlah dana, akan kita hitung nantinya dengan memanggil akuntan publik,” tutup Willy.

Penulis: ndo. Editor: aan.