HETANEWS.COM

Walaupun Gagal, Paskibra Kota Siantar Tahu Cara Hormati Sang Merah Putih

Paskibra Kota Siantar yang menangis usai menyelesaikan tugasnya untuk mengibarkan Sang Merah Putih.

Catatan Si Ebong

Siantar, hetanews.com - Sebuah catatan buruk kembali dipertontonkan oleh pejabat kota Siantar, bukan hanya rasa malu yang dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat, tapi menjadi momok yang menakutkan bagi paskibra setelah kembali ke sekolah masing-masing, karna mereka telah menanti berbagai tanggapan perkataan, yang mungkin saja akan menyakitkan perasaan terdalam. Mereka yang seharusnya bertemu dengan penuh kebanggaan dengan para teman, akhirnya tertunduk malu dikarenakan hal yang 'disepelekan' oleh panitia, yang kebanyakan dihuni para pejabat.

Sebuah pertanyaan, apakah mereka pantas menerima semua ini, padahal telah menghabiskan waktu untuk latihan selama 5 bulan? Hanya cucuran air mata yang bisa mereka persembahkan bagi rakyat Siantar, karna pada saat pengibaran Sang Merah Putih, seluruh mata yang menyaksikan akan mempersalahkan keteledoran mereka.

Saat menyaksikan detik-detik insiden, Si Ebong masih ngobrol dengan salah satu panitia dan mengatakan bahwa seperti itulah pengibaran sekarang, bahwa bendera dinaikan setelah lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Kaget, tapi dipaksa untuk menerima. Setelah lagu usai, Sang Merah Putih tak kunjung naik, para pejabat dan warga pun mulai berbisik, apa yang terjadi?

Yang membuat Ebong bertanya-tanya, sikap para paskibra yang tetap siap dengan posisi tenang, padahal sedang menghadapi tekanan psikologi yang berat, dimana mereka telah gagal menaikan bendera. Dua orang pelatih datang menghampiri dan melihat apa yang menjadi masalah sehingga mereka tidak menaikan bendera?

Akhirnya, masalah terselesaikan dan Sang Merah Putih kembali siap dikibarkan dan lagu Indonesia Raya untuk kedua kalinya dinyanyikan. Para siswa dari berbagai sekolah tersebut tetap mampu menahan diri dan menyelesaikan tugasnya dengan baik, walaupun sorotan mata tertuju tajam.

Ketika menuju ke tempat semula, paskibra itu pun gak mampu lagi menahan desiran air mata, spontan mata yang kaku dan tatapan tajam berubah menjadi iba. Terdengar bisikan, mereka tidak pantas untuk dipersalahkan dan menanggung kesalahan ini. Ketika berhenti, air mata semakin deras mengalir diantara warga dan penjabat yang datang mengerumuni.

Ternyata, bukan karna mereka tidak mengikuti semua petunjuk dari para pengajar, tapi pengait bendera yang terbuat plastik, yang tak seharusnya dipergunakan untuk acara pengibaran bendera. Dan, para pengajar pun telah memberitahu hal tersebut kepada panitia, nyatanya, kembali 'kesepelean' yang dipertontonkan, sehingga rasa malu harus mereka emban.

Saat ditanya, apakah Sang Merah Putih bisa mereka kibarkan walaupun pengaitnya rusak, si pengajar mengatakan bisa namun tidak diperbolehkan karna harus dikibarkan secara sempurna. "Kita ingatkan mereka agar mengibarkan Sang Merah Putih dengan sempurna" terangnya.

Mungkin kalau Si Ebong diposisi ketiga remaja pria yang dipercayai mengibarkan bendera, sudah menarik tali dan membiarkan naik walaupun tidak sempurna. Hanya dalam hitungan detik, mereka mengambil keputusan untuk tidak mengibarkan dan siap menerima kesalahan yang akan dilimpahkan.

Uptss...., mereka lebih tahu menghormati Sang Merah Putih daripada Si Ebong. Walaupun akan menerima rasa malu dan mungkin saja cacian serta makian, paskibra kota Siantar tidak ingin mengibarkan bendera Indonesia kalau tidak sempurna. Dengan sisa tenaga yanh ada, mereka menaikan Sang Merah Putih dengan sempurna hingga mencapai puncak tiang.

Walaupun mereka masih remaja, namun yang harus kita petik dari sikap kegagalan mereka menaikan bendera, Sang Merah Putih harus berkibar secara sempurna walaupun mereka akan dihina, dicaci dan dimaki. Jadi teringat dengan para pejuang, walaupun nyawa menjadi taruhannya, Sang Merah Putih harus berkibar sempurna di angkasa Indonesia. 

Bagi Si Ebong, paskibra kota Siantar yang katanya gagal menaikan bendera tapi telah mempertontonlan sikap dari pejuang yang sesungguhnya bahwa Sang Merah Putih harus berkibar sempurna apapun taruhannya. Salut untuk sikap kalian walaupun dipermalukan dengan hal ‘kesepelean’ dari panitia. 

Pj Walikota Siantar Jumsadi Damanik seharusnya memiliki sikap seperti yang ditunjukan oleh paskibra, yang menerima rasa malu dan tidak ingin mempermalukan Sang Merah Putih. Sebagai bapa untuk kota ini, dia harus datang memeluk mereka dan mengucapkan permintaan maaf, serta mengabarkan kepada warga, kesalahan bukan pada 62 siswa tapi karna ‘kesepelean’ yang dipertontonkan oleh Pemko Siantar.

Begitu juga dengan para panitia, harus berjiwa besar mempertanggungjawabkan semua ‘kesepelean’ ini sehingga paskibra bisa kembali ke sekolah dengan kepala tegak. Jangan biarkan mereka terluka sendiri, dan menanggung rasa malu. Sudah saatnya dipertontonkan sikap pejuang bukan sikap pecundang.

Penulis: ebp. Editor: ebp.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!