Simalungun, hetanews.com - Tindakan oknum petugas sipir Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas II B Pematangsiantar di Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, Alpiandi Sembiring ajak kencan istri terpidana pembunuhan berinisial NS, Aziza akhirnya berbuntut panjang.

Alpiandi telah diberi tindakan dan dilaporkan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) oleh Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Narkotika, Yusran. Bahkan Kalapas berharap agar kasus dugaan pelecehan istri terpidana diselesaikan dengan cara kekeluargaan oleh kedua pihak sehingga tidak berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Kalapas Yusran kepada wartawan melalui telepon seluler miliknya, Selasa (9/8/2016). Dikatakan Yusran, petugas sipir dengan keluarga binaan itu seperti keluarga. "Mau berbicara mau berbuat apa jadinya seperti ini, gitu. Anggota saya sudah diberikan peringatan dan dilaporkan ke Kanwil," paparnya.

Menurutnya, untuk penyelesaian permasalahan antara warga binaan bermarga Sembiring dengan sipir Alpiandi Sembiring secara pribadi atau diluar kedinasan. Dirinya juga heran mengapa permasalahannya semakin berlarut-larut.

"Kemarin malam dia (Aziza) datang lagi dengan gaya yang luar biasa. Menurut saya itu menyerang mendatangi kantor dengan membawa beberapa anggotanya perempuan. Kalau itu masalah dengan suaminya, jangan dilibat-libatkan dengan kami. Tuntaskan aja dengan kekeluargaan. Karena tidak ada dengan urusan kami," papar Yusran.

Disinggung sejauh mana penyelesaian persolan, kata Kalapas bahwa yang bersangkutan telah diberi tindakan peringatan."Saat ini telah bekerja baik-baik semua. Dan sudah diselesaikan. Jadi jangan diungkit-ungkit lagi," paparnya.

Yusran menuturkan, agar disampaikan pada bersangkutan (Aziza) jika nanti ada tindakannya yang lebih baik lagi menyangkut permasalahan itu. "Saya masih menunggu izin dari Kanwil Kemenkumham dalam rangka penyelesaiannya ini," ujar Yusran yang mengaku sedang tak di tempat dan lagi ada urusan di Jakarta.

Sebelumnya Aziza mengatakan, persoalan dialaminya berawal kunjungan pertamanya ke Lapas menjenguk sang suami. Saat itu oknum petugas sipir yang jaga, Alpiandi Sembiring meminta nomor kontak ponselnya, akan tetapi ditolak

"Pertama saya datang ke Lapas itu persisnya Jumat (26/2/2016). Untuk bisa bertamu,sipir minta HP dan tas sandang saya dititip kepadanya. Karena Lapas tak memiliki loker atau kotak tempat penitipan," ujar Aziza.

Uniknya, sepulang dari Lapas atau setiba di tempat kos-kosan, HP milik Aziza berdering. Karena nomor panggil tak dikenal, Aziza mengabaikan. "HP kembali berdering dan saya angkat. Suara dari seberang mengaku dirinya orang yang bertemu saya di Lapas. Saat ditanya darimana dapat tau nomor saya, dia berkelit bahkan memaksa memberi tau dimana tinggal saya," tandasnya.

"Tak perlu tau saya dapat dari mana, dimana tinggalmu di Raya ini biar saya jemput. Biar jalan dan kencan kita. Kan suamimu dipenjara. Atau bila perlu kita ke Parapat, menu hotel di sana sangat berklas. Biar tak tau suamimu. Itu rayuan nya," tiru Aziza.

Menurut Aziza, Selasa (9/8/2016), membenarkan yang disampaikan Kalapas soal dirinya dan temannya datang ke Lapas. "Itu saya lakukan karena suami minta kepastian jika saya tak melayani Alpiandi. Tapi dia malah kabur berlindung ke atasannya. Yang jelas dia pemicu persoalan ini karena mencuri nomor kontak, bahkan merayu berkencan," tukasnya.

Menanggapi persoalan yang dialami Aziza, Ketua LSM Penjara wilayah Siantar-Simalungun, Maruliaman Purba menilai, bahwa persoalan itu dapat berakibat oknum petugas sipir Lapas terjerat pasal 46 jo pasal 30 Undang-Undanh (UU) ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

"Perbuatan oknum sipir Lapas itu dapat diancam pidana penjara paling lama 6-8 tahun atau denda paling banyak Rp 600 hingga Rp 800 juta. Di mana, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan atau sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun. Hal ini berlaku jika nantinya perlakuan oknum sipir terbukti," tukas Maruliaman.