HETANEWS.COM

Ini Lanjutan Sejarah Ular Raksasa Kejam Berubah Jadi Batu di Humbahas

Batu yang diyakni merupakan bagian tubuh dari ular. (foto : Akim Purba)

Humbahas, hetanews.com - Mitos ular raksasa menjadi batu ditandai adanya batu yang memiliki panjang sekitar 30 meter berbentuk bulat, besar dan  gigi runcing terdapat di Dusun Pardua-Duaan Desa Sihas Tonga, daerah perbatasan antara Parlilitan dengan Tarabintang, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Sejarah dari batu besar di sisi air terjun itu, menurut legenda dahulu kala adalah seekor ular besar dan memiliki kelakuan yang sangat kejam. Ular itu membuat warga sekitar resah karena kekejamannya. Ular dimaksud yang sering menelan manusia menjadi korbannya.

Sorman Hasugian (59) tokoh masyarakat di Dusun Pardua-Duaan menceritakan di lokasi tempat di mana letak ular batu berada, Jumat (5/8/2016). Menurutnya, kematian ular raksasa itu karena adanya seorang datu (dukun) bernama Sigunja marga Maharaja.

“Dirinya diakui sebagai Raja Sigunja yang merupakan datu sakti di daerah Parlilitan yang terkenal dan  dipercayai oleh warga. Sesuai cerita akan kesaktiannya itu bisa menghilang dan dikagumi warga,” ujar Sorman yang tinggal di simpang tiga menuju lokasi ular batu.

Sorman menuturkan, menurut cerita 200 tahun lalu, saudara perempuan Datu Sigunja menghilang sampai beberapa hari. Ini membuat Sigunja yang kampung halamanya berada di Desa Tarnauli, Kecamatan Parlilitan, merasa saudara perempuannya menghilang dibawa oleh mahluk halus.

Aliran Sungai Simonggo.(foto: Akim Purba)

Sigunja pun mencari dan mengikuti arus air Sungai Simonggo menuju Kecamatan Tarabintang. Namun di perbatasan Kecamatan Tarabintang-Parlilitan, Sigunja bertemu dengan seekor ular yang bertubuh besar dan panjang hampir 30 meter di pinggiran sungai.

Dia (Sigunja) pun berkata kepada si ular. “Hei ular ngapain kamu di sini dan apakah melihat saudara perempuan ku?,” tanya si gunja. Dengan kesombongan pun si ular menjawab. “Saya disini sedang menghambat air Sungai Simonggo ini. Setelah air yang saya hambat sudah banyak, akan melepaskannya agar penghuni/manusia di bawah sana terkena banjir. Dan saya tidak ada melihat yang kamu cari. Jika pun ada manusia yang lewat dari sini maka akan saya telan bulat bulat,” kata sang ular.

Bekas kaki Raja Sigunja. (foto: Akim Purba)

Mendengar jawaban tersebut, Sigunja mengatakan kepada ular. “Kamu sangat kejam dan jahat,” kata Sigunja. Dan sigunja pun merasa tidak nyaman akan kelakuan si ular, sehingga dia pun martonggo (berdo) di sebuah gua yang tidak terlalu jauh dari tempat ular. Tujuannya untuk meminta petunjuk cara membunuh sang ular.

“Akhirnya Sigunja mendapat petunjuk dan langsung menancapkan pedangnya (tongkat)  ke bagian tubuh ular,” terang Sorman.

Cerita ular ini ditambahi Daniel Hasugian (58), salah satu tokoh adat Kecamatan Tarabintang yang juga berdomisili di simpang tiga menuju lokasi ular batu tersebut

“Cerita demi cerita, kenapa sang ular sering menghambat air Sungai Simonggo? karena Datu Sigunja menjadikan saudara perempuanya menjadi istrinya. Sehingga ular tersebut merasa kesal akan kelakuan Sigunja dan untuk melanjutkan cerita itu Sorman,” ujar Daniel.

Sungai Simonggo.(foto: Akim Purba).

Terbunuhnya ular raksasa yang sudah berubah menjadi batu, Sigunja pun melanjutkan perjalanan dan bertemu beberapa manusia yang tidak percaya agama atau sedang bersujud di pinggiran Sungai Simonggo (mamele-mele begu) sambil membawa seekor ayam yang sudah dihidangkan untuk dipele ( didoakan ).

Sigunja pun kembali bertanya kepada mereka. “Hei,apa yang sedang kalian lakukan di sini dan apakah melihat saudara perempuanku?,” tanya Sigunja. Dan mereka pun menjawab “Kami sedang bersujud kepada raja yang disembah dan tidak melihat saudaramu, karena kami mulai tadi sudah di sini,” jawab mereka.

Sigunja mengatakan kepada mereka. “Kalian pun kejam dan tidak percaya agama,” tukas Sigunja, lalu memukul hidangan daging ayam yang ingin didoakan dan berubah menjadi batu.

Selanjutnya Idir Tinambunan, Lasro Nahampun, Daniel Hasugian dan Sorman Hasugian yang berdomisili di Kecamatan Parlilitan ini menunjukkan lokasi tempat jejak kaki kanan Datu Sigunja di pinggiran Sungai Simonggo kepada salah seorang staf Dinas Perhubungan dan Pariwisata (Dishubpar) Humbahas, Pahala Manullang.

Lokasi air terjun. (foto: Akim Purba

Di lokasi, Pahala mengatakan, dirinya sangat bangga atas peninggalan peninggalan bersejarah. Selain itu, banyak tempat wisata di lokasi itu, seperti air terjun yang ada di beberapa titik dan jika dipandang sangat unik, di mana sepanjang arus air Sungai Simonggo dikelilingi bebatuan yang rapi dan teratur.

“Indahnya lokasi Sungai Simonggo bukan hanya sejarah ular batu saja yang kita temukan, melainkan adanya yang unik seperti batu menyerupai warna emas dan pasir di pinggiran sungai. Lokasinya sangat baik jika dikembangkan dan akan menjadi laporan saya ke kantor nantinya. Jika ini dikembangkan, saya rasa maka pengunjung yang penasaran akan sejarah ular batu, Bukan hanya melihat itu saja, melainkan melihat air terjun, batu yang menyerupai warna emas dan ada lokasi air seperti kolam,” tukas Pahala.

Penulis: akim. Editor: aan.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!