Simalungun, hetanews.com - Istri terpidana pembunuhan berinisial NS, Aziza mengungkapkan, mendapatkan perlakuan diskriminasi setiap menjenguk suaminya.

Ini akibat tak melayani kemauan oknum sipir di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas IIB Pematangsiantar di Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, bernama Alpian Sembiring.

Apa yang dialami itu disampaikan Aziza, Selasa (2/8/2016) di ruang tamu tempat dirinya kos di sekitar wilayah Kelurahan Sondi Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun.

"Karena maunya tak saya layani, setiap bertamu ke Lapas oknum sipir itu (Alpian Sembiring) mendiskriminasi saya dengan cara menyuruh wanita pegawai di lapas memeriksa dengan alasan ditudingnya datang membawa narkotika. Itu terjadi disetiap dia (Alpian) piket," tukasnya.

Selain itu, sambung Aziza, oknum sipir itu juga tak segan mengeluarkan ancaman akan mempersulit proses hukum suaminya. Sehingga saat niat busuknya (Alpian) dilaporkan pada suaminya, dirinya malah dituding oleh Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) sebagai pemicu keributan yang terjadi antara NS dengan Alpian.

"Persisnya keributan antara suami saya dengan sipir tersebut terjadi pada tanggal 18-19 Juli lalu. Dan tanggal 20 Juli lalu pertikaian suami saya dengan oknum sipir itu diekspos media cetak. Dan tudingan Kalapas tersebut dilakukannya pada hari Jumat (22/7/2016) dengan memanggil saya ke ruang kerjanya," ungkap Aziza.

Di ruang kerjanya, Kalapas itu mengatakan, kalau dirinya tak melaporkan rayuan rayuan oknum sipir kepada suaminya, maka pertikaian yang berujung keributan fisik atau perkelahian tidak akan terjadi. Dirinya pun menilai, Kalapas terkesan membela niat buruk bawahannya.

“Karena adanya indikasi pembelaan Kalapas walau oknum sipir itu memulai adanya persoalan, suami meminta mengganti nomor seluler yang sebelumnya ‘dicuri’ oknum sipir itu guna menggoda saya. Itu dilakukan saat saya pertama kali berkunjung ke Lapas. Yakni, nomor 08124283xxx. Dan masih saya simpan,” paparnya.

Informasi diperoleh dari sejumlah sumber yang layak dipercaya, Alpian yang telah memiliki istri dan anak ini sebelum bertugas di Lapas Narkotika Klas II A adalah sipir di Rumah Tahanan (Rutan) Sipirok. Dan ulahnya di sana juga katanya sering menggoda dengan mengajak kencan istri terpidana.

“Akibat keanarkisannya di Rutan Sipirok yakni memukuli terpidana saat melakukan sholat, sehingga Alpian hampir dimassakan masyarakat dan para terpidana. Barulah dia bertugas di Lapas Narkotika Klas IIB Pematang Raya,” tukas sumber yang tak mau disebut jati dirinya.

Terkait informasi yang disampaikan Aziza, Kalapas Narkotika, Yusran mengatakan, tujuannya memanggil istri terpidana (Aziza) ke ruang kerjanya untuk meluruskan persoalan, bukan menudingnya sebagai biang kerok yang memicu keributan di Lapas.

Bahkan menurut Yusran, apa yang disampaikan Aziza jika Alpian ada merayunya tidak mungkin, mengingat istrinya seorang dokter dan telah memiliki anak. Bahkan mertuanya seorang anggota DPRD.

Disinggung jika Alpian sebelumnya bertugas sebagai sipir di Rutan Sipirok, Yusran mengatakan tidak mengetahui latar belakangnya. "Saya tak tau persis apakah sebelumnya dia bertugas di Rutan Sipirok,” sebut Yusran via seluler miliknya, Selasa (2/8/2016) sekira pukul 19.19 WIB.