HETANEWS

Texas Resmi Izinkan Keberadaan Senjata Api di Dalam Kampus

Texas akhirnya menjadi negara bagian kedelapan AS yang izinkan senjata api di lingkungan kampus.

AUSTIN, hetanews.com

- Texas pada Senin (1/8/2016), menjadi negara bagian kedelapan AS yang mengizinkan senjata api di dalam kompleks pendidikan atau kampus.

Keputusan kontroversial itu dirilis tepat pada peringatan 50 tahun kasus penembakan di Universitas Texas Austin pada 1966 yang menewaskan 14 orang.

Undang-undang yang sudah dibahas sejak tahun lalu itu mengatur bahwa universitas-universitas negeri di Texas diizinkan senjata api berpelindung berada di lingkungan kampus.

Meski demikian pengelola kampus bisa menerapkan batasan lokasi di mana saja senjata api boleh beredar.

Presiden Universitas Austin, lokasi penembakan 50 tahun lalu, Gregory Fenves mengatakan, keputusan yang diambil secara emosional ini nyaris tak mendapat perhatian di kampus itu.

"Kami memiliki kampus yang sangat aman. Dan, saya kira hal itu akan kami lanjutkan," kata Fenves.

Beberapa negara bagian lain yang mengizinkan senjata api di dalam kampus adalah Oregon, Colorado dan Wisconsin. Sementara 18 negara bagian dengan tegas melarang senjata api di dalam kampus.

Undang-undang baru ini mendapat kecaman dari tiga guru besar Universitas Texas Austin. Para profesor itu menilai mahasiswa yang membawa senjata akan menciptakan atmosfer menakutkan dan mengganggu ekspresi ide secara terbuka.

"Saya tak takut terhadap senjata api. Saya takut terhadap kombinasi ini: tekanan ujian semester, penyakit kejiwaan yang tak terdiagnosa dan izin membawa senjata api ke kampus," kata Seema Yasmin, dosen di sebuah universitas negeri di Dallas.

Sementara para pendukung kebijakan baru ini menilai keberadaan senjata api di dalam kampus membuat para mahasiswa dan dosen lebih aman.

Sebab, jika terjadi serangan bersenjata maka si penyerang bisa lebih cepat ditangani.

Sementara itu, UT Austin meresmikan sebuah patung baru yang didedikasikan untuk para korban tewas dalam penembakan pada 1966.

Patung batu berwarna hitam itu memuat nama 17 korban tewas dalam insiden penembakan yang dilakukan Charles Whitman, lima dekade silam.

Para korban itu adalah 14 korban yang tewas di kampus, ibu dan istri Whitman yang dia bunuh sebelum beraksi dan seorang mahasiswa yang tewas beberapa tahun setelah peristiwa itu akibat luka yang dideritanya.

Charles Whitman, mantan sniper militer AS, memanjat menara jam universitas dan selama 90 menit menembaki sasarannya selama 90 menit sebelum ditembak.

sumber: AFP

Editor: edo.