HETANEWS

Pemasangan Reklame Rokok di Siantar ‘Lepas Kontrol’

Reklame rokok yang dipajang di halte bus. (foto : Huget)

Siantar, hetanews.com - Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, pada prakteknya dinilai lebih banyak mengatur bisnis rokok dan tembakau.

Dalam PP Nomor 109 Tahun 2012 mengatur pengendalian terhadap iklan produk tembakau,khususnya pada pasal 31 disebutkan antara lain, pengendalian iklan produk tembakau di media ruang harus tidak diletakkan di jalan utama atau protokol, diletakkan sejajar dengan bahu jalan dan tidak boleh memotong jalan atau melintang.

Di Kota Siantar, sorotan khusus terhadap industri periklanan rokok dapat diamati di beberapa ruas jalan. Berikut beberapa tempat yang menjadi sarana berdirinya reklame perusahaan rokok di Siantar.

Jalan Asahan depan kompleks Megaland terdapat dua plank reklame perusahaan rokok (Marcopolo dan Signature Mild). Plank rokok  LA berukuran sedang berjejer menghadap jalan di beberapa warung atau kios di Jalan Asahan.

Persimpangan jalan antara Jalan S Parman dan Jalan Asahan, berdekatan dengan kompleks Taman Makam Pahlawan (TMP) Nagur terdapat papan reklame rokok dipasang menghadap Jalan S Parman. Jalan Ahmad Yani di seputaran lampu merah, papan reklame rokok Galan dan billboard LA Bold. Di pembatas jalan tepatnya di Jalan Vihara di areal warung kuliner Sutomo Square papan rokok Ten Mild.

Di Jalan Ahmad Yani dua unit plank reklame rokok (Combat-Kennedy) oleh PT STTC dipasang menghadap jalan. Umbul - umbul rokok Ten Mild dipasang pada tiang listrik di Jalan Patuan Anggi depan Gereja Pentakosta. Plank reklame rokok LA Bold terpampang di Jalan Persatuan Parluasan simpang Jalan Patuan Anggi.

Berikutnya, plank rokok  LA Bold (ukuran kecil/vertical banner) berdiri menghadap jalan di depan beberapa kios kios di Jalan Sisingamangaraja Parluasan. Plank rokok Kennendy terpampang di Jalan Rahkuta Sembiring,simpang Jalan Sisingamangaraja Parluasan.

Selanjutnya, plank rokok Magnum Filter melintang di perempatan jalan di sekitar lampu merah di Jalan Rakuta Sembiring, Kecamatan Siantar Martoba. Plank rokok juga melintang di Jalan Patuan Nagari simpang Jalan Rela. Beberapa planK reklame rokok  L  Bold di Jalan Patuan Nagari di depan sejumlah toko kelontong.

Papan reklame rokok LA Bold di persimpangan Jalan Patuan Anggi dan Patuan Nagari (lampu merah). Plank reklame rokok Galan Mild  di Jalan Ade Irma persimpangan Jalan Cokro. Plank reklame ukuran besar di Jalan Ade Irma depan kuburan Cina. Jalan Kartini dan satu plank rokok yang dipasang melintang di Jalan Merdeka dengan logo atau simbol prodak perusahaan rokok PT STTC (Union), serta beberapa tempat yang belum disebutkan.

Tidak hanya papan reklame rokok yang dipasang menghadap jalan di masing – masing jalan protokol. Ada juga papan reklame yang dipasang sejajar dengan bahu jalan.

Beberapa tempat seperti halte juga dipasang prodak rokok. Seperti di Jalan Pdt Justin Sihombing. Kedua halte tersebut dibubuhi label rokok PT STTC (Union dan Marcopolo).

Reklame rokok milik PT STTC seperti Marcopolo, Union, Combat dan Kennedy diduga tidak mengikuti aturan seperti yang diatur dalam PP Nomor 109 Tahun 2012 pasal 27 yang berbunyi mencantumkan penandaan/tulisan “18+” dalam iklan produk tembakau.

Ironinya lagi, monumen Kota Siantar di Jalan Ahmad Yani dan gapura (gerbang perbatasan Kota Siantar- Kabupaten Simalungun) di Jalan Asahan serta sarana olah raga juga dibubuhi label rokok milik perusahaan rokok terbesar di Sumatera Utara itu.

Selain itu, baru - baru ini, marak pemasangan plank reklame rokok berukuran kira - kira 1 x 75 centimeter (vertical banner). Ini terpampang melintang dan berjejer di beberapa kios atau warung di pinggiran jalan protokol.

Selain dipasang sejajar dengan bahu jalan, reklame itu dipasang menggunakan trotoar jalan dan taman pembatas jalan untuk mendirikanya. Di Jalan Sudirman simpang lampu merah Jalan Kartini dan Jalan Ade Irma, tepatnya seputaran kompleks kampus Amik Tunas Bangsa (ATB) dan pusat bimbingan belajar Ganesha Operation, plan reklame rokok  Malboro terpampang menghadap jalan. Ada lagi plank reklame rokok yang didirikan di atas taman pembatas jalan seperti Jalan Vihara (Sutomo Square).

Saat ini, industri reklame rokok ‘menjamur’ di kios - kios milik warga, dengan memberi label, spanduk, plat nama sampai papan reklame. Seperti warung milik Nasution pengusuha warung kelontong di Jalan Ade Irma. Pengusaha menawarkan jasa reklame prodak rokok Club Mild d ikios miliknya. Pemasangan reklame rokok tersebut,sudah berdiri sekitar dua minggu lalu. Sebagai ganti penawaran jasa iklan, pengusaha memberi iuran sebesar Rp125.000 dengan pembayaran per tiga bulan sekali. Pemasang iklan prodak rokok tersebut dipasang di atas trotoar jalan.

“Orang Club Mild yang datang kemari, kira - kira dua minggu lalu. Mereka datang bawa formulir ngisi formulir baru tanda tangan, habis itu ngasih uangRp 125 ribu. Katanya dibayar tiga bulan sekali,” ujar Nasution pengusaha warung kelontong, Kamis (21/7/2016).

Pemberian uang oleh perusahaan industri rokok maupun pengusaha reklame sebagai uang ganti rugi atas pendirian reklame ke kios – kios kelontong cukup beragam tergantung perusahaan rokok masing masing.

Dari beberapa tempat yang dikunjungi misalnya, T Boru Pardede, pemilik toko kelontong di Jalan Gereja, mengaku menerima uang sebanyak Rp 600 ribu untuk biaya pemasangan reklame rokok Malboro selama enam bulan. J Siahaan pengusaha warung kopi di Simpang Empat Jalan Gereja juga menerima uang untuk tiga plank yang dipasang tepat areal usahanya.

“Kemarin yang pasang bukan orang perusahaan rokok, tapi kayaknya pemborong. Saya terima Rp 900 ribu lah untuk tiga plank rokok itu,” ujar Siahaan.

Maraknya iklan prodak rokok mendapat perhatian dari sejumlah kalangan. Pasalnya, pengaruh sejumlah reklame televisi dan media luar ruang akan semakin menambah peminat rokok dan tembakau khususnya di kalangan remaja atau pelajar (dibawah usia 17 Tahun).

Menurut pengamat hukum, Reinhard Sinaga, strategi iklan dan promosi rokok banyak menggunakan subliminal advertising pada remaja. Subliminal adalah pesan atau stimulus yang diserap oleh persepsi dan alam otak bawah sadar, lalu diterima melalui medium gambar diulang-ulang.

“Pesan atau stimulus ini cepat melintas sebelum individu dapat memprosesnya. Pesan-pesan subliminal ini perlahan-lahan akan mempengaruhi dan mengubah pikiran sadar dari otak seseorang. Remaja adalah individu dengan pola pikir yang belum terlalu matang dan cenderung labil, sehingga masih mudah sekali untuk dipengaruhi. Jadi, semakin maraknya iklan rokok di Siantar akan menambah jumlah pengguna rokok, apalagi remaja atau sekolah,” jelas Pria yang berprofesi sebagai advokat ini, Selasa (25/7/2016).

Berkembang pesatnya industri rokok telah menyasar dunia remaja melalui papan reklame. Aturan tentang penekan jumlah peminat rokok atau tembakau benar telah dikeluarkan dengan PP sebelumnya seperti, PP Nomor 81 Tahun 1999 yang mengatur tentang pengamanan rokok bagi kesehatan.

Dalam PP Nomor 81 Tahun 1999 pada pasal 2 menyebutkan, pemerintah melindungi penduduk usia produktif dan remaja dari dorongan lingkungan untuk penggunaan rokok dan ketergantungan terhadap rokok. Namun, dii tengah upaya pemerintah untuk menekan konsumsi dan produksi rokok, kenyataannya Siantar masih menganggap bahwa rokok adalah barang yang normal beredar dan dikonsumsi. (bersambung).

Penulis: tim. Editor: aan.